
Bian yang sedang berkelana di kota mencari keberadaan Vionita kini berada dalam kepungannya.
Dia pun tidak tahu di mana kediaman keluarga Andirson berada, jadi pria itu menghentikan mobilnya di pinggir jalan sembari memijat keningnya yang terasa sakit.
Tiba-tiba saja ponselnya bergetar.
Drrtt... Drrtt... Drrrtt...
Sebuah panggilan dari nomor baru yang tidak dikenali oleh Bian.
Pria itu menyipitkan matanya sesaat lalu mengangkat panggilan telepon itu.
"Halo," ucapnya nya.
"Istrimu ada di hotel xx kamar nomor 311." Ucap pria dari seberang telepon lalu panggilan itu segera diakhiri.
Bian mengepal erat tangannya lalu pria itu segera membalik mobilnya menuju hotel yang dimaksud oleh pria yang baru saja berteleponan dengannya.
Begitu tiba di resepsionis, resepsionis langsung menyerahkan kartu kamar nomor 311.
__ADS_1
"Seseorang pasti sudah mengatur semua ini." Ucap Bian menggertakan giginya lalu pria itu segera masuk lift dan naik ke lantai 3.
Begitu membuka kamar, dia melihat seorang perempuan terbaring di tempat tidur dengan wajah yang pucat.
"Vionita,," Dian menghampiri perempuan yang tertidur lemas di atas tempat tidur.
Pria itu dengan cemas memegang tangan Vionita dan tangan yang satunya diletakkan di perut Vionita.
"Maafkan ayah,, Ayah sudah gagal melindungimu." Ucap Bian merasa cemas.
Setelah memastikan keadaan Vionita baik-baik saja, dia mengesampingkan segala pertanyaannya tentang mengapa orang-orang membawanya dan malah meninggalkan Vionita di hotel.
Pria itu lalu menghubungi keluarga Sinaga dan juga keluarganya sendiri bahwa dia akan membawa Vionita kembali ke rumahnya.
Di saat yang sama, Kakek Perry yang mendapat kabar dari Bian langsung mengumpulkan semua orang untuk berangkat ke kediaman Maherson.
'Ini bagus sekali, pergi ke keluarga Maherson akan membuat hubungan kami semakin dekat.' Pikir Kakek Perry.
"Katanya Vionita sudah ditemukan dan sekarang ada di keluarga Maherson sebaiknya Sekarang juga kita pergi menjenguknya. Aku tidak tenang memikirkan cucuku." Ucap Kakek Perry.
__ADS_1
"Kakek,, mana bisa pergi malam-malam begini? Sebaiknya kita tunggu sampai besok pagi saja." Ucap Gerson.
"Kau!!" Kakek Perry ingin memarahi cucunya tetapi apa yang dikatakan cucunya itu benar jadi dia kembali berkata, "Baiklah, kita tunggu besok pagi."
Maka keesokan paginya masih pagi-pagi benar, semua orang sudah sarapan di meja makan lalu mereka semua langsung pergi ke keluarga Maherson.
'Hah,,,, mana mungkin aku mau pergi seandainya aku tidak ingin melihat Bagaimana keadaan perempuan itu dan keluarganya setelah masalah kemarin. Males banget terlihat seperti penjilat di keluarga Maherson.' pikir Gerson yang menyetir sambil sesekali melirik ke ayah dan ibunya.
Akhirnya mereka berempat tiba di keluarga maherson dan disambut dengan ramah.
Saat itu juga, Vionita yang tertidur di lantai 2 baru saja terbangun dan perempuan itu langsung itu langsung memegangi perutnya.
"Ada apa?" Tanya Bian yang baru saja keluar dari kamar mandi lalu melihat perempuan itu tampak pucat memikirkan sesuatu.
Setelah Bian mendekati Vionita dan memegang tangan perempuan itu, Vionita tiba-tiba saja meneteskan air matanya dan terisak keras.
"Hiks... Hiks.....!!" Vionita memeluk Bian sambil menangis sekeras mungkin.
Tangisannya terdengar sampai di lantai 1, jadi keluarga Maherson dan keluarga Sinaga yang baru saja bertemu langsung naik ke lantai 2 setelah mendengar suara tangisan Vionita.
__ADS_1
"Ada apa ini?" Liana yang membuka pintu langsung bertanya sambil mendekati dua orang yang saling berpelukan di ranjang.
"Entahlah Bu, dia baru saja bangun dan langsung menangis." Ucap Bian.