Gadis Kecil Milik CEO

Gadis Kecil Milik CEO
#187. Keanehan Mia


__ADS_3

Setelah jam makan siang, satu per satu anggota tim desain sudah duduk di kursi mereka masing-masing, kecuali Loren yang tak ada di ruangan itu sebab dia sedang membicarakan sesuatu dengan CEO.


"Dimana Kak Loren," Mia bertanya ketika dia sudah menunggu beberapa menit tetapi orang yang ditunggu-tunggu tidak datang juga.


"Nona Loren sedang berada di kantor CEO," jawab Mentari dengan ketus sebab sebenarnya dia sangat malas berbicara dengan Mia.


"Ah,, begitu," ucap Mia sama sekali tidak tersinggung dengan nada suara Mentari.


Hal itu membuat semua orang menatap kearah Mia karena mereka heran akan perempuan itu.


Dimana sifatnya yang selalu sensitif setiap kali seseorang berbicara judes padanya?


"Ada apa??" Mia bertanya sembari tersenyum menatap semua orang yang yang satu perhatian ke arahnya.


"Hei Mia,, Apakah kau baru saja kerasukan?" Tanya Mentari yang menjadi orang yang paling bingung dengan perempuan itu.


"Eh?? Astaga Mentari, Apa maksudmu dengan kerasukan? Mana mungkin begitu, Aku tidak mungkin kerasukan sesuatu setelah makan siang bersama Kak Vionita.


"Tetapi Kak Vionita hanya memberiku ceramah supaya aku lebih banyak tersenyum daripada menanggapi orang-orang yang selalu bersikap iri padaku." Ucap Mia dengan wajah yang tak pernah putus menampakan senyumnya.


"Hah,, bersikap iri,, Aku tidak akan pernah iri pada seorang desainer yang dua kali tidak bisa mengisi slot desain milik LC," kata Menatri sembari memutar bola matanya membuat semua orang terkikik di meja mereka masing-masing.


Benar-benar iri yang tidak penting!!!


"Kau!! Mentari,,, ya! Aku akan mencekikmu hing,,," Mia langsung menghentikan kata-katanya dan menghirup nafas cepat agar bisa mengembalikan wajahnya menjadi wajah yang ramah saat melihat handle pintu diputar oleh seseorang.

__ADS_1


"Kali ini kau selamat, tetapi lain kali,, aku akan mencabik mu!!" Geram Mia pada Mentari lalu menoleh ke arah pintu.


Loren memasuki ruang tim desain sembari diikuti seorang perempuan muda yang membawa tumpukan berkas di belakang Loren.


"Halo semuanya," kata perempuan itu tersenyum ke semua orang.


"Hai."


"Halo."


Semuanya menjawab dengan suara pelan sembari mengikutkan pandangannya kearah dua orang yang berjalan ke meja Loren.


"Letakkan saja di sini, " kata Loren pada perempuan itu.


"Baik," jawab perempuan muda itu meletakkan berkas-berkas di meja Loren.


"Hmm,, sepertinya tidak ada, kau boleh kembali ke tempatmu." Ucap Loren.


"Baik Kak Loren," jawab perempuan itu lalu tersenyum ke seluruh anggota tim desain sebelum keluar dari ruangan.


"Nona Loren,, Apakah tangan Nona Loren sakit?" Tanya Mentari sembari memperhatikan tangan Loren.


Sangat aneh bahwa Loren meminta tolong pada seseorang hanya untuk membawakannya beberapa berkas yang tidak terlalu berat.


Padahal, biasanya Loren tidak pernah meminta bantuan seseorang, apalagi hanya untuk membawa sedikit berkas seperti itu.

__ADS_1


Lagi pula sejak tadi, Mentari memperhatikan Loren sangat hati-hati setiap kali mengangkat sesuatu, kadang meringis kecil juga.


"Ah,, tidak, yang tadi itu namanya Diva, Dia sangat ingin melihat ruangan tim kita jadi dia menawariku untuk membawa berkas-berkas ini kemari." Jawab Loren berbohong, padahal dia tidak mengangkat berkas-berkas itu karena tangannya memang masih terasa sakit saat menahan beban berat.


"Ah begitu,,," ucap Mentari.


"Kak Loren, lain kali kalau membutuhkan sesuatu bisa meminta tolong padaku." Tiba-tiba kata Mia membuat Loren merasa bingung.


Ada apa lagi ini?


Tadinya perempuan itu pergi dengan suasana hati yang begitu buruk tapi sekarang sudah cepat berubah?


"Ok," jawab Loren dengan singkat.


"Dasar modus!" Ucap Mentari menyinggung Mia namun kembali tak digubris oleh Mia.


Mia hanya tersenyum di tempatnya 'Pertama-tama aku harus mengambil hati Kak Loren lalu membuat perempuan itu percaya padaku. Nanti setelah dia sudah percaya padaku maka dengan mudah aku akan melakukan rencana yang sudah diberitahukan oleh kak Vionita.' pikir Mia merasa senang.


"Hah,, aku pikir dia sudah gila coba lihat dia,," Rika menyenggol Siren agar perempuan itu melihat ke arah Mia.


"Benar,, dia tampak sangat aneh. Mungkinkah dia menyembunyikan sesuatu?" Siren merasa sangat aneh.


Mia tidak pernah bersikap seperti itu, apalagi tadi pagi mereka baru saja bertengkar.


@Interaksi

__ADS_1



Terima kasih sudah membaca 186 bab di novel ini 🤗🤗🤗🤗


__ADS_2