
Di tempat lain pada perusahaan CB group, Chataline sedang berbincang-bincang dengan pamannya setelah mereka selesai makan siang.
"Paman, Apakah paman tahu bahwa beberapa waktu yang lalu aku bertemu dengan Christian? Lalu saat itu Christian memarahiku di depan banyak orang." Ucap Chataline sembari tersenyum membuat Gunawan sangat terkejut.
"Bagaimana bisa dia memarahimu? Apakah kau sudah membuat masalah dengannya? Bukan kah Paman sudah bilang supaya kau jangan menyinggung sembarang orang, apalagi orang seperti Tuan Bhaltazar!!!" Ucap Gunawan kini memijat keningnya karena terasa pusing memikirkan keponakannya yang sudah berani menyinggung Christian.
"Haha..." Chataline tertawa keras melihat kekhawatiran pamannya.
Gunawan langsung menjadi marah melihat keponakannya kini menertawakannya, "Kau malah tertawa?! Tidakkah kau tahu kalau keluarga kita bergantung pada Tuan Bhaltazar? Menurutmu kenapa Paman harus bekerja di perusahaan ini ketika Paman sebenarnya bisa mengelola perusahaan kita sendiri? Ini semua karena--"
"Paman!! Jangan marah dulu!! Dia memarahiku bukan karena aku menyinggungnya, justru dia memarahiku karena aku sudah memanggilnya dengan panggilan 'Tuan'," ucap Chataline kini tersenyum merona kembali mengingat peristiwa pertemuannya dengan Cristian di restoran.
__ADS_1
Gunawan memperhatikan keponakannya sembari bertanya, katanya: "Apa yang terjadi? Jangan membuat paman jadi terlihat seperti orang bodoh, cepat ceritakan yang sebenarnya!"
Dia begitu tidak sabaran untuk mendengar ceritanya yang sepertinya merupakan kabar baik yang bisa ia manfaatkan.
Chataline semakin melebarkan senyumnya, "Ya,, aku rasa cintaku tidak bertepuk sebelah tangan pada Christian. Saat itu dia memarahiku karena sudah memanggilnya dengan panggilan Tuan, jadi dia menyuruhku mencari sebuah panggilan yang cocok untuk kami berdua.
"Makanya, setelah itu aku memutuskan untuk memanggil Christian dengan panggilan, 'Kak Christian'!" Ucap Chataline membuat Gunawan begitu terkejut karena tidak menyangka keponakannya bisa memenangkan hati Christian Bhaltazar.
"Benarkah? Tuan Bhaltazar berkata seperti itu?" Tanya Gunawan sekali lagi memastikan pendengarannya yang sangat amat tidak masuk akal.
"Maksudmu, selama ini kau tidak pernah bertemu dengan Tuan Bhaltazar karena asistennya terus menghalangimu?" Tanya Gunawan pada keponakannya.
__ADS_1
"Ya,, asisten sialan itu yang memegang ponsel Christian, jadi setiap kali aku menelponnya, pria itu akan mereject panggilanku, bahkan dia sudah memblokirku. Tadinya aku juga bertemu dengannya di lobby tapi dia malah bersikap sangat tidak sopan padaku!!" Kesal Chataline.
Gunawan mendengarkan cerita keponakannya lalu dia berpikir sesaat kemudian kembali menatap keponakannya.
"Mumpung sekarang kau ada di perusahaan, bagaimana kalau aku mengantarmu menemuinya?" Tanya Gunawan.
Jika keponakannya berbohong maka perempuan itu pasti tidak berani menyetujui tawarannya, tapi jika memang benar maka keponakannya tidak akan ragu untuk mengiyakan permintaannya.
"Benarkah?! Paman mau mengantarku?" Cahtaline bertanya dengan sangat semangat.
Karena perusahaan itu sangat rahasia, sehingga informasi karyawan sangat tertutup.
__ADS_1
Jadi dia bahkan tidak tahu di lantai berapa Christian berada, dan tentu saja tidak sembarang orang bisa memasuki lift khusus yang ada di kantor tersebut.
"Hm,, aku akan mengantarmu. Masih ada beberapa menit sebelum jam makan siang selesai, jadi kita bisa pergi sekarang." Ucap Gunawan segera berdiri diikuti Chataline yang begitu bersemangat.