
"Ini tidak baik untuk dilihat, sebaiknya kita pulang saja." Ucap Christian.
Loren langsung mengangguk, sebab dia juga takut jika mereka berlama-lama di situ Kakek Perry akan mencari kesempatan untuk memanfaatkan kekuasaan Christian sebagai tangga bagi keluarga Sinaga untuk meningkatkan status sosialnya.
Christian dan Loren segera berdiri untuk meninggalkan tempat itu.
Sekali Lagi, Loren masih menoleh ke arah Vionita yang sedang disiksa oleh ibu mertuanya.
"Ah!! Lepas!! Sakit!!" Teriak Vionita.
'Kau pantas mendapatkannya,' pikir Loren dalam hati.
Melihat Loren dan kekasihnya hendak pergi, kakek Perry langsung berdiri dan dengan tubuh rentannya menghalangi jalan kedua orang itu.
"Tu,, Tuan Bhaltazar, ada hal yang ingin saya bicarakan dengan Tuan. Jadi--"
"Tuan Sinaga," Erik langsung menyelah ucapan Kakek Perry, "Ada hal yang perlu kita bicarakan lagi jadi mohon untuk tetap di ruangan ini." Ucap Erik sambil tersenyum.
Kakek Lerry melihat Christian dan Loren yang tidak memperdulikannya, jadi pria itu menyingkir ke samping.
'Dia pasti sudah menyuruh bawahannya ini untuk mengatur sesuatu bagi keluarga Sinaga, jadi aku tidak perlu menghalangi mereka untuk pergi.' pikir Kakek Perry lalu pria itu menyingkir ke samping.
Loren dan Christian langsung meninggalkan tempat itu, mereka berdua bertepatan dengan seorang pria yang terburu-buru berlari ke arah ruangan Vionita.
__ADS_1
Pria itu membuka pintu dan langsung masuk ke ruangan dengan nafas tersengal.
"Ada apa?" Tanya Danora yang melihat asistennya memasuki ruangan.
"Tuan gawat!!! Seluruh pemegang saham di perusahaan telah menarik saham mereka!!" Ucap pria itu masih dengan nafas tersengalnya.
"Apa?!!" Danora langsung berjalan keluar ruangan bersama sang asistennya.
Gerson yang melihat hal itu kini membuka ponselnya untuk mencari berita terkini.
"Oh astaga Ibu, Ayah,,, lihat ini!!" Gerson memperlihatkan layar ponselnya pada kedua orang tuanya.
"Ya ampun, keluarga Maherson bangkrut?" Davin menyipitkan matanya melihat layar ponsel Gerson.
"Tidak,, hal itu tidak mungkin menjadi alasan bagi para pemegang saham untuk menarik sahamnya secara tiba-tiba. Pasti ada sesuatu yang lain." Ucap Gerson.
Rita yang masih menjambak rambut Vionita langsung menghentakkan tangannya lalu menatap ke arah Gerson.
"Apa katamu?!! Kami bangkrut?!!" Tanya Rita tak percaya.
"Ya,, itulah yang tertulis di berita ini." Ucap Gerson memperlihatkan layar ponselnya pada Rita.
Wajah Rita langsung berubah pucat, perempuan itu menggelengkan kepalanya lalu dengan cepat keluar dari kamar perawatan untuk menyusul suami dan putranya.
__ADS_1
Kakek Perry yang melihat itu hanya bisa tercengang di tempatnya. Keluarga Maherson sudah bangkrut!!!!
Keluarga besar itu bangkrut dalam sekejap saja!!!
"Tuan, saya rasa urusan saya di sini sudah selesai. Sekarang saya permisi untuk pergi." Ucap dokter yang sedari tadi melihat drama di ruangan itu lalu diangguki oleh Erik.
Polisi yang ada di ruangan itu juga merasa bahwa mereka sudah cukup melihat drama kadi mereka segera berjalan ke arah Vionita.
"Apa yang kalian lakukan?!!" Vionita menjadi gila melihat polisi menghampirinya.
"Nona, silakan ikut kami baik-baik ke kantor polisi atau kami mungkin menggunakan cara kekerasan." Salah satu polisi berbicara sembari mengambil borgol dari sakunya.
"Tunggu!! Kalian tidak bisa langsung membawa putriku!! Dia sedang sakit dan butuh perawatan di sini!!" Ucap Rama yang masih belum menerima putrinya dibawa oleh para polisi.
"Tuan, kalian harus tahu bahwa rumah sakit untuk para narapidana berbeda dengan rumah sakit untuk orang biasa. Jadi kami harus memindahkannya sekarang." Kata sang polisi lalu dengan satu gerakan menarik tangan Vionita dan memborgolnya.
"Tidak!! Tidak!! Aku tidak mau!!! Lepas!!!!" Vionita terus berteriak-teriak sembari diseret oleh dua polisi keluar ruangan.
Dengan dada yang sesqk, Rama memandangi putrinya yang berantakan dan di seret dengan keras.
Pria itu lalu menoleh pada kakek Perry dan berkata, "Ayah!! Kau harus melakukan sesuatu!!!" Rama berkata dengan panik.
Tetapi kemudian pria itu melemas di kursi rodanya saat melihat kakek Perry hanya menggelengkan kepalanya.
__ADS_1