Gadis Kecil Milik CEO

Gadis Kecil Milik CEO
#64. Dia menungguku?


__ADS_3

Ransi yang membukakan pintu mobil untuk Christian juga berhenti sejenak saat ia mengikuti arah pandangan Christian dan melihat Loren sedang tersenyum bahagia.


'Tuan pasti senang baru saja tiba di mansion dan langsung disambut oleh pemandangan seperti itu.' Ransi tidak tahu harus bahagia atau apa.


Yang jelas dalam hatinya dia sudah mengerti bahwa dia tidak mungkin bersaing dengan Christian.


"Apakah saya perlu menghampiri mereka dan memberitahu bahwa Tuan sudah kembali?" Tanya Ransi.


"Tidak perlu. Kau urus hal lain saja." Jawab Christian dengan suara datarnya lalu pria itu berjalan ke arah Mansion meninggalkan Ransi yang kebingungan.


'Ada apa dengan Tuan? Mengapa terus berubah-ubah?' pikir Ransi memandangi kepergian Christian yang terlihat kesepian.


"Ransi!!" Tiba-tiba suara Loren mengejutkan Ransi.


Ransi langsung menoleh ke arah Loren dan perempuan itu terlihat berlari ke arahnya dengan senyum yang sangat indah.


'Ini penyiksaan! Bagaimana bisa aku melupakannya jika setiap kali bertemu dengannya dia memperlihatkan wajah seperti itu?!' kesal Ransi dalam hati melihat pancaran cahaya dari orang yang ia sukai.


"Kau sudah kembali! Dimana Tuan Christian?" Tanya Loren sangat bersemangat.


"Tuan sudah masuk ke mansion." Ucap Ransi.


"Apa dia mencariku?" Tanya Loren yang berpikir Charistian mungkin pergi mencarinya.


Namun, Ransi segera menggelengkan kepalanya membuat Loren terdiam di tempatnya dengan perasaan yang kacau.

__ADS_1


"Tidak mencariku? Kalau begitu,, apa selama aku tidak bersama kalian Tuan Christian pernah membahas tentangku?" Tanya Loren dengan hati yang mulai gelisah.


Mungkinkah pria itu benar-benar marah?!


"Tidak, Tuan sangat sibuk dengan pekerjaannya." Jawab Ransi menjatuhkan hati Loren.


"Ahh, baiklah. Aku mengerti." Ucap Loren segera meninggalkan Ransi untuk memasuki mansion.


'Dia pasti sangat marah. Tapi,, aku juga takut mendekatinya.' pikir Loren melangkah lesu ke kamarnya.


Baru saja dia menutup pintu kamarnya ketika dia teringat sesuatu.


'Dia pasti belum makan malam, aku bisa memasak untuknya.' gumam Loren merasa mendapatkan ide yang bagus lalu perempuan itu segera berlari ke lantai bawah menuju dapur.


Begitu tiba di dapur, Loren terkejut melihat para koki sudah menyiapkan makan malam di meja makan.


"Ini permintaan Tuan Christian." Jawab sang koki.


Loren tidak mengatakan apapun lagi, memang selama dia kembali dari kota x x dia selalu makan pada pukul 8 malam sebab dia selalu tidak berselera makan karena mengingat apa yang telah terjadi.


'Sekarang aku harus bagaimana? Apakah aku pergi memanggilnya untuk makan malam atau tetap disini menunggunya?' Loren berpikir sesaat lalu perempuan itu akhirnya duduk di kursi untuk menunggu Christian.


Baru beberapa menit dia duduk dia kembali teringat sesuatu "Mungkinkah Dia tidak mau makan malam bersamaku?"


Akhirnya Loren meninggalkan ruang makan sebab dia takut Christian mungkin masih marah padanya jadi pria itu tidak mau makan malam jika ada dia di sana.

__ADS_1


Sementara di ruang kerja Christian, pria itu menyelesaikan tumpukan berkasnya lalu memanggil Ransi memasuki ruangannya.


"Apakah Loren sudah makan?" Tanya Ransi.


"Belum Tuan, para pelayan mengatakan kalau tadi Nona Loren duduk di meja makan, mungkin menunggu Tuan untuk makan bersama. Tapi hanya beberapa menit Nona Loren sudah kembali ke kamarnya tanpa menyentuh makan malam." Jawab Ransi.


"Menurutmu dia menungguku?" Tanya Christian penuh harap.


"Sepertinya begitu." Jawab Ransi.


"Lalu mengapa dia langsung pergi?" Lagi tanya Christian.


Kalau Loren memang menunggunya untuk makan malam bersama mengapa perempuan itu hanya duduk sebentar lalu pergi?


"Saya juga tidak tahu." Jawab Ransi membuat perasaan Christian kembali berkecamuk.


Pria itu kembali meraih ponselnya dan menelepon Dokter Bian.


@Interaksi



Tersangkah apa ya? Kok otor gak tahu,, gak ada pemberitahuan juga tuh...


...

__ADS_1


...


__ADS_2