
Akhirnya, hari yang dinantikan Loren tiba juga, perempuan itu kini mendarat di bandar udara internasional Dorpan.
Dorpan adalah ibukota negara D yang terkenal sebagai kota metropolitan yang sangat sibuk.
Jadi ketika mereka keluar dari bandara terlihat jelas tempat itu dipenuhi kepadatan lalu lalang orang yang keluar masuk bandara.
"Tuan, Apakah tidak masalah berjalan seperti ini? Bagaimana kalau ada paparazzi yang melihat kita?" Loren bertanya dengan cemas sembari memperhatikan sekeliling mereka..
Dia dan Christian keluar dari bandara hanya berdua saja dengan Christian yang membawa sebuah koper dan mereka menggunakan pakaian santai layaknya warga biasa.
"Tidak banyak yang mengenaliku jadi sangat aman berjalan-jalan seperti ini." Ucap Christian mempererat genggamannya pada tangan Loren lalu kedua orang itu keluar mencari sebuah taksi.
Begitu naik taksi, Loren langsung bertanya pada Christian, "Apakah Tuan baik-baik saja menaiki taksi?"
Christian mengangguk, "Taksi di sini tidak terlalu buruk," jawabnya.
"Baguslah,," ucap Loren tersenyum menyandarkan kepala kepalanya di bahu Christian.
Mereka hanya datang berdua saja karena Ransi harus menangani masalah di perusahaan, Jadi mereka memutuskan untuk terlihat seperti warga biasa.
__ADS_1
Sementara asisten yang menggantikan Ransi baru akan menyusul besok hari karena pria itu masih ada urusan.
Jadi Loren dan Christian segera pergi ke hotel yang telah diatur oleh Ransi.
"Halo, ada yang bisa kami bantu?" Sang resepsionis bertanya dengan sopan saat melihat Loren dan Christian.
"Ya, reservasi atas nama Christian Balthasar," ucap Christian sembari tersenyum kearah Loren yang ikut tersenyum padanya.
Resepsionis yang mendengar nama Christian Bhaltazar langsung mengerutkan keningnya melihat dua orang di depannya.
Dari informasi yang ia dapat bahwa Christian Bhaltazar adalah orang yang sangat penting dan terkemuka, jadi atasannya sudah mengatakan padanya bahwa setidaknya orang itu akan dikawal dengan ketat.
"Maaf Tuan,, boleh tunjukkan kartu identitasnya?" Tanya sang resepsionis yang tidak yakin dengan penampilan 2 orang di depannya.
Meski Christian dan Loren menggunakan pakaian yang mahal, tetapi keduanya terlihat lebih terlihat seperti turis biasa, bukannya seperti pebisnis besar.
Sementara Christian yang mendengar resepsionis itu berbicara, dia langsung mengerutkan keningnya lalu wajahnya yang sedari tadi sampai berubah menjadi tak nyaman untuk dilihat.
Hotel yang mereka tempati itu adalah hotel miliknya, jadi setidaknya orang-orang itu sudah mengenali dirinya sendiri, tapi ini,, apa-apaan ini?!!!
__ADS_1
"Apakah kau sudah bosan hidup?" Katanya pada resepsionis itu dengan penuh penekanan.
Sang resepsionis tampak terlihat terkejut melihat aura yang sangat berbeda dari Christian sejak pria itu masuk ke hotel.
"Maaf Tuan, pemesanan atas nama Tuan Christian baltasar adalah pemesanan eksklusif. Orang biasa seperti Tuan tidak mungkin--"
"Apa katamu?!!! Panggil manager mu!!" Christian sudah tersulut api amarah karena perempuan itu baru saja mengatasinya sebagai orang biasa.
Padahal, dia adalah orang yang luar biasa!!
"Tuan!!" Loren menarik tangan Christian saat melihat pria itu hendak mencari masalah lagi.
Hanya menunjukkan identitas kartu identitas, Apakah begitu sulit?
"Tenanglah, Aku hendak memecat orang-orang tidak berguna ini." Ucap Christian.
"Tuan,, tidak perlu melakukannya sampai seperti ini, mari memikirkan tentang pemecatan itu nanti saja. Jangan di sini,," ucap Loren menatap sekitar dimana beberapa orang yang duduk di lobi tersebut menatap kearah mereka.
Segera Loren memberikan kartu identitas Cristian lalu menyerahkannya pada resepsionis yang bertugas, "Tolong cepat," katanya.
__ADS_1
Dari sudut matanya dia memperlihatkan hati kan perempuan yang berdiri di sampingnya, dia tidak bisa untuk tidak mengikuti ucapan Loren, jadi dia hanya membiarkan Loren.