
Christian dan Loren berjalan ke arah ruang makan sambil berpegang tangan.
Tangan Loren sudah tidak berkeringat lagi, jadi Christian merasa Lega sebab Loren sudah terbiasa dengannya.
"Duduklah," Christian menarikkan kursi untuk Loren.
"Terima kasih Tuan," ucap Loren seraya duduk di kursi dan meletakkan bunganya di sampingnya, dia atas meja.
"Makanlah," ucap Christian bersikap jentelmen dengan mengisi makanan ke piring Loren lebih dahulu baru ke piringnya.
"Terima kasih Tuan," ucap Loren dengan bersemangat akhirnya mulai menikmati makanannya.
"Setelah makan siang, apakah Tuan akan kembali ke kantor?" Loren bertanya ketika mereka hendak selesai makan.
"Ya, masih ada beberapa pekerjaan yang belum selesai. Setelah ini juga kau akan berdiskusi dengan Andreas." Ucap Christian.
"Berdiskusi? Tentang apa?" Loren bertanya dengan wajah yang serius menatap Christian yang sedang mengunyah makanan.
"Perusahaan barumu." Jawab Christian membuat Loren mengerutkan keningnya.
Perusahaan?
"Kenapa saya punya perusahaan?" Tanya Loren keheranan.
"Aku mendirikannya untukmu supaya kau bisa mengikuti ajang Fashion week. Aku juga sudah menunjuk Andreas menjadi CEOnya, jadi kau bisa berdiskusi dengannya tentang segala sesuatu mengenai perusahaan barumu." Jawab Christian membuat Loren ternganga.
Membuat sebuah perusahaan bukanlah sesuatu yang gampang, tapi pria itu rela repot-repot dan bahkan menyerahkan orang-orang kepercayaannya untuk bekerja baginya?
__ADS_1
Loren merasa tersanjung, "Jadi ini maksud Tuan untuk mempersiapkan saya menikah dengan tuan?" Tanya Loren.
"Ya, makanya kau harus bekerja keras menjalankan perusahaanmu. Mengerti?!" Christian mengacak rambut Loren saat perempuan itu mengangguk dengan sangat antusias seperti anak anjing kecil yang akan diberi susu.
'Aku akan berusaha keras supaya anak tidak lahir tanpa ayah..!'
Mereka melanjutkan makan mereka, dan Loren merasa aneh karena perut bagian bawahnya menjadi lebih sakit dari sebelumnya.
Namun dia terus mengabaikannya sebab dia takut Christian akan cemas kalau dia mengatakannya.
"Wajahmu agak pucat, apa kau merasa tidak nyaman?" Christian bertanya setelah mereka selesai makan dan hendak berdiri untuk meninggalkan ruang.
"Tidak,, saya baik-baik saja." Ucap Loren meraih bunga yang tadi diberikan oleh Christian lalu perempuan itu meletakkan 1 tangannya di tangan Christian.
Dia lalu berdiri dan terkejut melihat wajah Cristian yang berubah pucat melihat ke arah kursi yang baru saja diduduki oleh Loren.
Darah!
Pendarahan...!
Hanya 2 detik Loren langsung jatuh pingsan dan ditimang oleh Christian.
Bunga yang diberikan Christian pada Loren terjatuh ke lantai dan beberapa kelopaknya terlepas dari tangkainya.
Dengan wajah paniknya Christian membawa Loren ke ruang medis untuk diperiksa.
Semua orang yang ada di sana begitu terkejut melihat Loren, tapi dokter yang bertugas langsung melakukan penanganan darurat sesuai prosedur.
__ADS_1
"Ada apa?" Marisa yang mendengar keributan dari ruangan sebelah langsung bertanya pada Regina yang baru saja memasuki kamarnya.
"Saya tidak tahu tetapi Nona Loren dibawa kemari, Sepertinya dia mengalami pendarahan." Ucap Regina mengagetkan Marisa.
"Bantu aku melihatnya." Kata Marisa pada Regina.
"Tidak, Dokter belum diizinkan untuk turun dari tempat tidur." Ucap Regina berusaha menahan Marisa, tapi perempuan itu memiliki tekad yang kuat hingga Regina terpaksa mengikuti keinginan Marissa.
"Ada apa dengan Loren?" Marisa bertanya dengan cemas saat melihat Cristian berdiri di depan pintu ruang penanganan.
Meski pria itu tampak tenang, namun matanya menunjukkan kegelisahan yang bisa dibaca oleh Marissa.
"Dia tiba-tiba pingsan." Ucap Christian.
"Pingsan? Mungkinkah dia hamil dan kelelahan?" Marisa berkata sembari memandangi pintu ruangan Loren.
Cristian terdiam sesaat menatap Marisa sebelum memelingkan wajahnya.
Mana mungkin hamil, kecuali......
@Interaksi
Otor selalu usahain up tiap hari kalo gak ada kesibukan berarti,, demi kalian,, otor bahkan rela gak tidur gak makan bahkan Sampe gak nafas juga pas lagi ngetik novel ini ðŸ˜ðŸ˜
__ADS_1