Gadis Kecil Milik CEO

Gadis Kecil Milik CEO
#71. Buatan tangan Loren


__ADS_3

Ransi mengikuti Christian dan Loren dari belakang dengan tetap menjaga jarak pada dua orang itu.


Ia menghentikan langkahnya saat Cristian sudah tiba di pintu lalu pria itu membukakan pintu kamar untuk Loren.


'Oh astaga,, kaos Tuan pasti kotor begitu karena air mata Loren. Tapi Tuan bahkan tidak repot-repot mengganti kaos yang telah kotor,' Ransi menahan nafasnya melihat kusutnya kaos putih milik Christian dan beberapa noda melengket di sana.


Seandainya itu bukan noda yang disebabkan oleh Loren maka Sudah dari tadi kaos itu dilepaskan dan dilempar sembarang arah karena pria itu sangat mencintai kebersihan.


Setelah memasuki kamar Christian, Loren berusaha bersikap biasa saja.


Kamar Christian hanya diisi dengan dua warna yaitu putih dan hitam.


Warna lain yang ada disana hanyalah warna yang berada pada lukisan, itu pun semuanya masih berwarna gelap.


"Menurutmu Di mana posisi yang tepat untuk gantungan dinding ini?" Christian bertanya dengan antusias sembari menarik tangan Loren supaya perempuan itu semakin masuk ke kamarnya untuk melihat-lihat.


'Di kamar bersama pria yang di sukai, bukankah dalam film biasanya berakhir,,' Loren menelan air liurnya saat melihat tempat tidur Christian yang dibalut sprei berwarna abu-abu.


Ia mengerjapkan matanya dan wajahnya seketika memerah mengingat adegan yang pernah ia tonton di layar TV.

__ADS_1


"Ada apa? Apa di sini terlalu panas?" Christian bertanya setelah melihat wajah Loren tiba-tiba berubah menjadi merah padam.


"Itu,, uh,, Tuan, Saya rasa gantungan dinding ini diletakkan di jendela saja." Ucap Loren segera menunjuk ke arah jendela kamar Christian supaya pria itu cepat mengalihkan pandangannya.


"Aah,, ok," Christian langsung melepaskan genggamannya pada tangan Loren lalu pria itu berjalan ke arah jendela dan menggantung gantungan dinding yang diberikan Loren padanya.


Begitu selesai, ia berbalik melihat Loren untuk meminta pendapat perempuan itu tapi Loren ternyata sudah memunggunginya dengan kedua tangan Loren menutupi wajahnya.


"Ada apa?" Tanya Christian kembali mendekati Loren.


Wajah Loren semakin memerah kalah Christian mendekatinya ia merasa sangat malu pada dirinya sendiri sebab dia telah membayangkan hal-hal yang tak seharusnya ia bayangkan.


Christian memandangi pintu yang tertutup dengan wajah tersenyum.


Dokter Bian 'Kalau kau berdua dengannya dan tiba-tiba wajahnya memerah dan dia terlihat malu-malu apalagi meninggalkanmu, itu artinya dia membayangkan dirinya sedang bersama denganmu tapi dia tidak mau mengakuinya.'


"Ransi!" Panggil Christian pada Ransi dengan suasana hatinya yang sangat baik.


"Ya Tuan," jawab Ransi.

__ADS_1


"Aku memberimu libur selama 1 hari. Berikan juga bonus pada dokter Bian." Perintah Christian mengejutkan Ransi.


Libur 1 hari..!!!


"Terima kasih Tuan." Ucap Ransi sangat bersemangat.


"Pergilah." Ucap Christian.


Ransi segera meninggalkan kamar Cristian dengan perasaan yang sangat senang.


Sementara Christian, pria itu melompat ke atas kasur dan memegangi kaosnya yang ditempati noda air mata Loren.


Pria itu tersenyum melirik kearah gantungan dinding yang ada di jendela.


"Loren,, buatan tangan Loren,," ucapnya merasa sangat bahagia.


Untuk pertama kali dalam hidupnya dia merasa hidupnya tidak sedatar yang selalu ia keluhkan.


Selama ini, mana pernah ia tersenyum sendirian, bahkan tersenyum untuk orang lain pun,, mungkin tidak pernah...!!!

__ADS_1


__ADS_2