Gadis Kecil Milik CEO

Gadis Kecil Milik CEO
#160. Kesialan macam apa ini?


__ADS_3

Christian buru-buru menyelesaikan pekerjaannya di kantor lalu pria itu menaiki mobil ke kantor LC untuk menjemput kekasihnya.


Seperti biasa, sang supir memarkir mobil Christian agak jauh dari kantor agar mereka bisa memantau dengan aman.


Namun, setelah menunggu sampai tempat itu menjadi sepi, mereka masih tidak menemukan Loren jadi Christian langsung menyuruh Ransi untuk mencari Loren.


"Kau dimana?" Ransi menelpon elemen untuk bertanya mengenai Loren.


"Saya masih di kantor, ada sedikit pekerjaan tambahan yang harus saya lakukan." Jawab pria dari seberang telepon.


"Nona Loren belum keluar dari kantor, pergi cari dia." Perintah Ransi.


"Baik Tuan." Jawab Elma dari seberang telepon lalu panggilan itu segera diakhiri.


Mereka kembali menunggu dengan Christian memantau gerbang kantor LC sampai akhirnya sebuah panggilan lain masuk ke ponsel Ransi.


"Tuan Rias," jawab Ransi setelah panggilan itu terhubung.


Ransi berbicara selama 1 menit dengan pria di seberang telepon sebelum menjauhkan telepon dari mulutnya lalu menoleh pada Christian.


"Tuan, ini adalah telepon dari asisten Tuan Juan dia meminta agar meeting yang tertunda tadi siang bisa dilanjutkan sekarang." Ucap Ransi.


Christian terdiam selama beberapa waktu, meeting yang tertunda tadi siang memang sangat penting dan meeting itu tertunda karena dia ingin melihat keadaan Loren di restoran.


Sementara proyek yang mereka bicarakan sangat mendesak dan sekiranya besok pagi sudah harus mulai dikerjakan.


"Baiklah," jawab Christian setelah memikirkannya.


Ransi kembali berbicara pada orang di seberang telepon lalu pria itu mendapatkan kesepakatan hingga ia kemudian mengambil laptop yang selalu ia bawa kemanapun lalu menyalakannya.


"Tuan silahkan," kata Ransi menyerahkan laptop dan juga earphone nirkabel yang selalu disiapkan ransi untuk Christian.


Dengan tenang, Christian mengambil barang-barang dari Ransi lalu pria itu mulai meeting secara virtual sambil menunggu Loren.


Beberapa menit mereka berada di sana akhirnya orang yang mereka tunggu-tunggu datang juga, sang supir langsung menjalankan mobil ke depan Loren lalu Loren memasuki mobil.


"Tuan," kata Loren berusaha bersikap seperti biasa.


"Jangan mengganggu Tuan, Dia sedang berada dalam meeting penting." Supir setengah berbisik pada Loren agar mereka tidak mengganggu Christian yang sedang fokus pada meetingnya.


"Ahh begitu," ucap Loren berusaha mengintip ke layar laptop Christian dan melihat seorang pria yang memakai jas sedang berbicara pada Christian.


'Jangan cemas Loren, Christian tidak berusaha menghindari mu tapi ini hanya sebuah tuntutan pekerjaan yang mendesak.' ucap Loren dalam hati berusaha menghibur dirinya sendiri.

__ADS_1


Akhirnya mobil melaju berbaur dengan kendaraan yang lalu-lalang di jalan raya yang luas.


Loren terus duduk di tempatnya sembari berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua baik-baik saja.


Awalnya dia masih bisa bertahan, tapi lama-kelamaan pikiran-pikiran buruk terus menghantuinya apalagi saat melihat Christian sama sekali tidak menoleh padanya.


'Dia tidak pernah seperti ini, dia tidak pernah melakukan pekerjaannya di dalam mobil saat dia menjemputku. Tapi sekarang?? Mengapa dia tiba-tiba bekerja? Lagipula, ini sudah jam pulang kantor, mengapa masih ada meeting di jam segini?' kecemasan Loren semakin bertambah, kecemburuannya semakin bertambah, rasa kesalnya semakin bertambah hingga perempuan itu mulai memandang lesu keluar jendela.


Apakah pria itu menjadikan pekerjaan sebagai alasan untuk menghindarinya karena tadi dia sudah bertemu dengan Cahtaline?


Akhirnya Loren menjadi semakin murung, dia menundukkan kepalanya sembari melihat jari-jari tangannya.


'Apa sebaiknya aku pulang ke apartemen saja? Lagipula, dari sini apartemennya tidak terlalu jauh.' pikir Loren lalu menoleh pada sang supir.


"Pak, bisakah mengantar saya ke apartemen saja?" Tanyanya.


Sang supir melihat Loren pada kaca spion lalu melihat dua orang yang sedang sibuk di samping.


"Ya bisa," tiba-tiba kata Christian yang menjawab pertanyaan orang di seberang layar laptopnya.


"Boleh?" Tanya Loren yang merasa bahwa Christian sedang berbicara dengannya.


"Iya begitu," ucap Christian mengiyakan sesuatu yang sedang ia bicarakan bersama lawan meeting.


"Baik," ucap Loren lalu tertunduk hendak meneteskan air matanya.


'Apakah dia akan tinggal juga di apartemen atau hanya mengantar ku ke sana lalu dia kembali ke kediamannya?' Loren lebih condong pada sisi negatifnya jadi nafasnya semakin tercekat lalu ia berbalik menatap jendela dan menghapus air matanya yang telah menetes di pipinya.


Mobil kini tiba di depan apartemen Loren, Loren segera membuka pintu dan keluar dari mobil.


Perempuan itu berhenti sesaat menatap Christian, ia sangat ingin berbicara pada pria itu tetapi tenggorokannya tercekat hingga suaranya tidak bisa keluar.


Akhirnya dia hanya bisa menutup pintu dengan pelan lalu berlari ke dalam gedung dengan perasaan berkecamuk.


Sang supir memperhatikan Loren, dia bisa menebak bahwa perempuan itu sedang menangis.


'Kenapa dia menangis? Apakah ada orang gila yang sedang mencari masalah dengan Christian?' supir itu menelan air liurnya.


Dia tidak bisa membayangkan bagaimana Christian akan melenyapkan orang yang telah membuat perempuan kesayangannya menangis.


*Tuan, Apakah kita kembali ke mansion?* Sang supir bertanya pada Ransi melalui sebuah surat kecil yang ia letakkan di depan Ransi.


Ransi tidak terlalu fokus pada surat itu, dia hanya mengangguk saja karena saat ini dia ikut mendengarkan percakapan Christian dengan rekan meeting mereka agar dia bisa menulis poin-poin penting dari hasil meeting mereka.

__ADS_1


Akhirnya karena sudah mendapat persetujuan dari Ransi maka sang sopir memutar balik mobil dan pergi kemanusiaan.


'Ini sangat aneh, mengapa Tuan dan Nona tinggal terpisah! Tapi mengapa perasaanku tidak enak?' sang supir merasa gelisah dalam hatinya dia memiliki firasat akan mendapat kesialan.


Tapi dari mana?


Dia tidak melakukan kesalahan apapun.


Akhirnya mobil itu terus berjalan hingga tiba di mansion milik Christian baltasar bertepatan dengan selesainya meeting pria itu.


Christian menutup layar laptopnya dan melepaskan earphone pada telinganya lalu menoleh ke sampingnya.


Kosong!!


"Dimana dia?!" Tanya pria itu langsung melihat pada dua orang di depannya.


Bagaimana bisa mobil mereka sudah tiba di mension ketika Loren tidak ada di dalam mobil mereka?


Saat itu juga lah punggung sang supir menegang dipenuhi keringat.


Matilah dia!!!!


"Dimana Nona Loren?" Ransi juga terkejut, dia langsung melihat ke arah supir untuk meminta jawaban.


"I,, itu,, bukankah tadi Tuan sudah menyetujui kalau Nona Loren tinggal di apartemen?" Sang supir itu berbicara dengan keringat memenuhi sekujur tubuhnya.


"Apa?!!" Ransi bertanya tak percaya.


Siapa yang yang menyetujui??


"Putar balik mobilnya!!" Perintah Christian dengan suara dinginnya membuat sang supir yang gemetaran berusaha mengontrol seluruh anggota tubuhnya lalu menyalakan mesin kendaraan.


Ransi duduk dengan seluruh tubuh menegang, apakah Christian akan memarahinya karena kesalahan ini??


Astaga!!!


Sial macam apa ini??


Bagaimana bisa mereka tidak menyadari seseorang turun dari mobil?


@Interaksi


__ADS_1


Ohh, dia peliharaan kamu toh,, mohon jangan dibiarkan berkeliaran bebas lah..... kasian sama yang jadi korbannya!



__ADS_2