
Loren terkulai lemas di sofa, dengan Christian berada di bawahnya.
Cup!
Sebuah ciuman mendarat di puncak kepala Loren, namun Loren tidak punya kekuatan untuk bergerak ataupun berbicara, sebab dia begitu lemas setelah pertempuran mereka.
"Sayang," tiba-tiba suara Christian terdengar di atas kepala Loren.
"Hm,," jawab Loren dengan nafas tersengal serta tenaga yang begitu kecil, sebab tenaganya habis terkuras oleh pertempuran mereka.
Christian tersenyum menyadari perempuan di atasnya begitu lemah, dia langsung duduk dengan Loren tetap berada di pangkuannya.
"Masih ingin terus memelukku atau memakai pakaianmu?" Tanya Christian.
"Bantu aku,," ucap Loren yang masih merasa sangat lemas.
Mereka sudah terlanjur melakukannya, jadi Loren begitu malas untuk membereskan kekacauan yang telah mereka buat.
"Baiklah," jawab Christian lalu pria itu mengulurkan tangannya mengambil pakaian Loren yang berada di sandaran sofa.
Pria itu dengan hati-hati membantu Loren memakai pakaiannya.
"Sudah," ucap Christian sembari memperbaiki rok Loren yang tampak berantakan.
"Hmm,," jawab Loren masih setia memeluk Christian.
"Tidakkah kau minggir sebentar? Aku belum memakai bajuku," ucap Christian.
__ADS_1
Loren yang sedari tadi memenjamkan matanya kini membuka matanya lalu melihat pria itu benar-benar masih dalam keadaan tak berbusana.
Loren tersenyum lalu mendongak melihat Christian, "Kau masih tahu malu juga setelah membuat kita melakukan hal begini di ruangan orang lain?" Tanya Loren sambil terkikik.
Dia mau marah pada Christian, tapi dia tidak tega memarahi pria itu.
Bagaimanapun, dia sangat menyayangi pria itu hingga dia tidak bisa berlarut-larut dalam kemarahannya pada Christian.
"Bukankah kau menikmatinya?" Tanya Christian kembali mencium bibir Loren.
"Ya,, tapi seseorang merugi karena kita. Aku yakin ada banyak pekerjaan lain yang harus dilakukan oleh Andreas, tapi karena kita,, dia harus lembur nanti malam." Ucap Loren kini turun dari pangkuan Christian lalu membantu pria itu mengambil pakaiannya.
Setelah menyerahkan seluruh pakaian pada Christian, Loren berjalan ke arah toilet.
Christian yang ditinggal langsung memakai seluruh pakaiannya selalu melihat sofa yang tampak berantakan karena ulah mereka.
"Dalam 5 menit, aku ingin sofa yang ada di ruangan Andreas sudah diganti dengan yang baru, modelnya harus sama!" Ucap Christian lalu menekan tombol reject.
Pria itu lalu berjalan ke toilet. Ia melihat Loren sedang duduk di toilet.
"Perutmu sakit?" Tanya Christian.
"Hm!! Jangan menggangguku dan keluar!!" Kesal Loren melihat suaminya.
Dia sedang buang air besar, tapi pria itu malah datang mengintipnya.
"Oh,," Christian menjawab dengan singkat sembari berjalan ke arah wastafel mencuci mukanya.
__ADS_1
"Kau!" Loren hendak protes, tapi perempuan itu memilih fokus pada kegiatannya.
Christian menahan Loren selama 5 menit lalu akhirnya membiarkan perempuan itu keluar dari toilet.
Sofa yang ada di ruangan Andreas telah diganti dengan yang baru dengan model yang sama juga.
"Sofa ini?" Loren merasa aneh melihat sofa bekas mereka bergumul, sama sekali tidak ada sesuatu yang aneh di sana.
"Ada apa?" Tanya Christian memeluk Loren dari belakang.
"Eh, bukan apa-apa." Jawab Loren, "Tapi, kenapa kau ada di sini?" Tanya Loren berbalik ke arah Christian sembari memperbaiki dasi Christian yang tampak berantakan.
"Uang yang kau kirim itu, aku sudah mengembalikannya ke rekeningmu. Lain kali jangan melakukan hal seperti itu lagi, aku tid--"
"Tidak!! Aku juga tidak pernah menggunakan uang karena kau menyediakan semua yang kubutuhkan. Jadi untuk apa uang itu di rekeningku?" Tanya Loren pada suaminya.
Christian memikirkan hal tersebut Lalu pria itu mengambil dompetnya dan mengeluarkan sebuah kartu kredit.
"Kalau begitu pegang ini." Ucap Christian meletakkan kartu kredit itu di tangan Loren.
Loren melihat kartu kredit berwarna emas yang tampak mengkilap di tangannya, "tapi aku tid--"
"Jangan membantah! Aku suamimu!" Ucap Christian memeluk Loren dengan erat.
"Hah,, baiklah." Ucap Loren merasa pasrah dalam pelukan Christian.
'Sepertinya kalau aku punya uang, sebaiknya aku berikan saja pada Andreas agar dia menggunakannya untuk perusahaan.' pikir Loren.
__ADS_1