
"Itu suara Kakak ipar? Cepat berikan ponselnya, aku ingin bicara," langsung ucap Gerson dari seberang telpon saat mendengar suara Christian.
Loren hanya menghela nafas lalu menyerahkan ponsel itu pada Christian, "Gerson ingin bicara denganmu," katanya.
Christian menatap Loren sambil mengambil ponsel dari tangan Loren.
"Halo?" Ucapnya pada orang di seberang telpon saat telpon di tangannya telah menempel pada telinganya.
"Kaka ipar!!" Gerson berseru senang mendengar suara Christian.
"Ada apa?" Tanya Christian dengan suara datarnya sambil pria itu memperhatikan Loren yang kini melayaninya. Perempuan itu menaruh makanan ke piring Christian.
"Aku ada kabar baik buat kakak ipar, beberapa hari kedepan aku akan datang ke negara kakak ipar dan menginap di rumah kalian." Ucap Gerson yang begitu percaya diri bahwa dia sedang ditunggu oleh Christian untuk menginap di sana.
Bagaiman pun, dia dan keluarganya adalah orang yang disukai Christian karena mereka adalah satu-satunya keluarga yang diundang ke pernikahan Christian dengan Loren.
"Hm, baiklah." Ucap Christian dengan suara datarnya.
"Oh, apakah kakak ipar tidak tertarik alasan aku datang ke situ?" Tanya Gerson dari seberang telpon.
Hal itu membuat Christian mengeryit, pikirnya bahwa Gerson akan segan padanya, karena pria itu sudah tahu identitasnya. Namun kenyataannya, pria itu merasa segan hanya pada saat dia baru mengetahui indentitasnya. Sekarang tidak lagi!!!
__ADS_1
"Kakak ipar?" Suara Gerson kembali terdengar.
"Waktunya makan malam." Ucap Christian lalu menekan tombol reject pada ponsel Loren.
Bahkan Loren yang mendengarkan percakapan dua orang itu langsung mengangkat wajahnya menatap heran pada Christian.
"Sudah selesai menelponnya?" Tanya Loren dijawab anggukan Christian.
"Hm,, saatnya makan malam bersama istriku," kata Christian meletakkan ponsel Loren lalu mengambil sumpitnya.
Pria itu kemudian mengambil sepotong udang lalu menyuapi Loren.
Loren berpikir sambil mengunyah udang di mulutnya, beberapa saat kemudian perempuan itu mengangguk, "Baiklah," Katanya.
Dia merasa tidak enak karena baru beberapa waktu yang lalu ia tak sengaja mendengar pelayan menceritakan Marisa yang harus lembur karena seharian waktunya bekerja dihabiskan untuk menemani Loren.
"Baguslah," Christian merasa senang, karena artinya dia bisa punya lebih banyak waktu untuk bersama istrinya.
Jadi pada keesokan paginya, Loren dan Christian langsung pergi ke kantor.
Begitu tiba, Loren terkejut saat mendapati ruang istirahat kini di dekorasi menjadi tempat bekerja yang nyaman.
__ADS_1
"Kau melakukan ini semua? Kapan?" Tanya Loren sambil melihat suaminya.
"Ini dikerjakan kemarin, supaya istriku bisa berkerja dengan nyaman. Kalau kau lelah, kau juga bisa beristirahat di sini," Christian mengambil sebuah remote laku menekan sala satu tombol.
Tekanan pada tombol remote diikuti sebuah ranjang yang keluar dari sala satu sisi ruangan.
"Apa kau suka?" Tanya Christian saat melihat Loren tampak terpesona dengan desain yang ia rancang sendiri.
Loren menganggukkan kepalanya, "Hmm,, ini sangat bagus. Aku akan betah di sini," ucap Loren.
"Baguslah," Christian merasa senang akan jawaban istrinya.
Pria itu lalu memeluk Loren dengan erat sebelum masing-masing dari mereka kembali bekerja.
Tetapi, Baru beberapa menit bekerja, ponsel Loren kembali berdering dengan nama pemanggil adalah Gerson.
"Halo?" Jawab Loren.
"Waktu kerjaku di percepat, jadi sekarang aku sudah di bandara untuk berangkat ke situ. Jangan lupa menjemputku pada jam 2 siang nanti di bandara." Ucap Gerson.
"Baiklah, Hati-hati." Kata Loren sebelum menutup telpon tersebut.
__ADS_1