
Cup cup cup...
Di pagi yang cerah, Loren dibangunkan oleh ciuman bertubi-tubi yang mendarat di bibirnya.
"Mmmmmm....." Gerutu perempuan itu mengerjapkan matanya lalu melihat suaminya masih asik mencumbui bibirnya.
"Selamat pagi suamiku," kata Loren dengan suara yang parau sembari mengulurkan tangannya memeluk leher suaminya.
"Selamat pagi juga kesayanganku," ucap Christian kembali membungkuk lalu mereka berciuman mesra sebagai awal hari yang akan mereka lalui.
"Mmmhh...." Loren dengan cepat terbuai oleh permainan suaminya, apalagi tubuh mereka yang memang tidak terbalut pakaian kecuali selimut yang masih menutupi mereka.
Mendengar suara Loren, Christian akhirnya naik ke tubuh Loren, menindih perempuan itu dan mulai membawa perempuan itu untuk melakukan pekerjaan suami istri.
Cup cup cup...
Tanda tanda cinta membekas di dada dan perut Loren, bahkan tanda cinta yang kemarin belum memudar kini ditambah lagi oleh Christian.
Tangan Loren mencengkram erat kepala suaminya menyadari pria itu semakin turun menciumi tubuhnya.
"Uh.. uh... Hmm..."
"Pelan-pelan.."
__ADS_1
"Uh uh..."
Satu jam di pagi yang indah itu mereka mengawali pertempuran mereka sebelum berakhir di kamar mandi untuk mandi bersama.
Loren merasa seluruh tubuhnya melemas karena kemarin malam mereka sudah menghabiskan begitu banyak tenaga, ditambah pagi ini, dia sudah sangat lapar dan tak ingin lagi bergerak.
Loren menyerahkan seluruh pekerjaan pada suaminya, sampai mereka selesai berpakaian lalu turun ke ruang makan untuk sarapan bersama.
"Ka,, kak Marisa?" Loren sangat terkejut melihat Marisa sedang menyiapkan sarapan.
"Selamat pagi," ucap Marisa tersenyum ke arah dua orang yang berjalan ke meja makan.
"Selamat pagi Kak Marisa," ucap Loren sembari duduk di kursi yang ditarik Christian untuknya.
"Ah,, ya, tapi kami akan berangkat setelah makan siang nanti." Ucap Marissa memperhatikan Cristian yang menaruh nasi untuk Loren.
'Ah,, tidak sia-sia kemarin aku mempertaruhkan nyawaku menyelamatkan Loren, karena sekarang Christian benar-benar sudah berubah.' pikir Marisa dalam hati.
"Oya, kapan resepsi pernikahan kalian akan digelar?" Loren bertanya sembari memandang penuh semangat ke arah Marisa.
"Ya,, keluarga besar kami masih harus membicarakannya. Tapi kami memilih mendaftarkan pernikahan kami lebih awal." Ucap Marisa.
Loren langsung mengangguk, dia bisa menebak bahwa keluarga mereka mungkin ada yang tidak setuju dengan pernikahan ini, makanya Marisa dan Andreas memilih untuk menikah secara diam-diam baru memberitahukan orang tua mereka.
__ADS_1
Note: Beberapa negara mencatatkan pernikahan mereka hanya dengan sepasang calon suami istri yang mengunjungi kantor pencatatan sipil. Tidak butuh wali dan saksi.
"Oya Christian, kapan kau akan memberitahu seluruh penghuni rumah ini bahwa Loren sudah menjadi Nyonya rumah ini?'" tanya Marisa sembari memperhatikan Christian.
Pria itu belum mengumumkan pada semua orang bahwa Loren sudah menjadi istri Christian, hanya beberapa pengawal saja yang tahu.
Oleh sebabnya,, masih beberapa kali Marissa mendengar bagaimana para perawat ataupun para pelayan di rumah tersebut berbicara miring tentang Loren.
"Bukan urusanmu," jawab Christian.
"Tentu saja ini urusanku karena Loren adalah--"
"Dia istriku!" Langsung sela Christian.
Enak saja Marisa ingin memperdebatkan status mereka di depan Loren.
Suami dan hanya teman biasa, Siapa yang memiliki posisi yang lebih layak?
Sementara Loren yang melihat dua orang di depannya, perempuan itu tersenyum kikuk lalu berkata, "Kak Marisa, Christian punya alasan tersendiri untuk tidak memberitahukan hubungan kami pada orang-orang. Dan aku harap Kak Marissa juga mau mengerti."
Marisa menghela nafas, tetapi kemudian ia mengangguk, "Baiklah, Tapi nanti kalau kau sudah tidak tahan lagi, kau bisa mengatakannya padaku supaya aku membantumu." Ucap Marisa.
"Baik Kak," Jawab Loren.
__ADS_1