
Setelah Mia berbicara dengan Vionita suasana hatinya menjadi sangat baik. Perempuan itu kembali bergabung dengan tim desain dan duduk dengan wajah berseri-seri.
"Hei Mia, Kau dari mana saja? Apa kau sudah melihat ini?" Rika langsung menunjukkan ponselnya pada Mia.
"Ya,, selamat ya Mentari." Katanya sembari tersenyum pada Mentari.
"Terima kasih ya, aku harap suatu saat kamu juga akan dilirik oleh senior Adriana." Ucap Mentari.
"Ya, aku harap begitu." Kata Mia sembari meletakkan tas kecilnya dan sengaja membuatnya terbuka sehingga isinya tertumpah di atas meja.
"Ahh... Astaga,, tanganku yang ceroboh..." Gerutu Mia membereskan barang-barangnya di atas meja dan sengaja menjatuhkan kartu nama Vionita ke lantai.
"Ya ampun,,, kau ini ceroboh sekali." Megi berbicara sembari menunduk mengambil kartu yang terjatuh di lantai.
Begitu tangannya akan menyentuh kartu emas itu, ia tanpa sengaja membaca nama pemilik kartu itu.
Vionita Putri Sinaga.
Dengan segera Megi mengambil kartu itu dan menatapnya dengan seksama.
"Kau,, dari mana kau mendapatkan kartu nama ini?" Tanya Megi sembari menatap tajam kearah Mia sebab sangat mengharapkan penjelasan dari perempuan itu.
Kartu nama seperti itu tidak mungkin sembarangan dipegang oleh orang kecuali pemiliknya sendiri yang menyerahkannya.
"Oh,,,,, ya,," Mia mengambil kartu emas itu dari tangan Meggy dan menatapnya dengan senyum yang indah.
"Tadi ketika aku ke toilet aku bertemu dengan Kak Vionita dan dia memberikan kartu namanya." Ucap Mia ini memancarkan senyum berbunga-bunga di wajahnya.
"Woohh,, sangat beruntung... Lalu apa katanya?" Rika bertanya dengan sangat antusias.
Vionita adalah salah satu desainer yang baru-baru ini naik daun. Banyak selebriti dengan nama-nama yang terkenal telah menggunakan desain dari perempuan itu.
"Ya,, dia bilang dia ingin merekrut ku ke dalam timnya. Tapi karena sekarang aku masih menandatangani kontrak dengan LC, jadi dia memberiku waktu untuk berpikir." Jawba Mia membuat semua orang di meja itu langsung memperlihatkan wajah irinya.
"Benarkah?!! Kau di tawari oleh Vionita?!" Shiren benar-benar tidak percaya.
Dia jelas lebih baik daripada Mia, jadi kenapa bukan dia yang ditawari oleh Vionita dan malah Mia yang tak ada apa-apanya?!!!
__ADS_1
"Ya,,, Dia pasti sudah menungguku muncul di sini, sebab ketika aku keluar, aku memang melihat seorang perempuan yang melirik-lirik ke arah sini. Awalnya aku mengabaikannya karena aku pikir itu hanya perempuan asing, tapi ternyata itu adalah Vionita. Kak Vionita pasti sudah mencari tahu bagaimana aku mendesain dengan sangat hebat hingga dia mengikutiku sampai disini!" Mia berbicara dengan sangat senang menyombongkan dirinya sendiri.
Setiap kali Mia mengeluarkan 1 kata dari mulutnya dia akan melirik ke arah Loren untuk memperlihatkan pada perempuan itu bahwa Loren yang telah menolak desainnya ternyata salah besar!!
Justru Vionita yang sudah terkenal malah mengincarnya untuk bergabung dengan timnya!!!
"Aku tidak akan percaya pada sesuatu yang belum dibuktikan." Tiba-tiba ucap Mentari dengan suara ketusnya sembari memainkan makanan di piringnya.
Ucapan Mentari langsung menyulut amarah Mia saat Mia menggertakkan giginya dan menatap sinis kearah Mentari.
"Kau tunggu saja dan aku akan menyumbat mulutmu itu ketika aku benar-benar bergabung dengan tim Kak Vionita!! Sialnya saja aku sudah bergabung dengan LC,,, ha,, seandainya kontrak itu tidak ku tandatangani aku pasti sudah bersama dengan Kak Vionita!!" Gerutu Mia menggertakan giginya sambil menatap kartu nama Vionita.
"Iya benar,, kau tidak bisa membatalkan kontrak mu begitu saja dengan LC." Diam-diam dalam hatinya Siren merasa lega bahwa Mia tidak dapat bergabung dengan Vionita.
Kalau Mia masih bersikeras untuk bergabung dengan Vionita maka dia harus membatalkan kontrak dengan LC dan pinaltinya tentulah tidak main-main.
"Aku akan memikirkan caranya, lagipula kalau aku bergabung dengan Kak Vionita aku pasti akan mendapat uang yang lebih banyak. Tidak akan pernah sebanding dengan perusahaan LC yang baru dirintis dan belum diketahui bagaiman masa depannya." Ucap Mia dengan hati-hati menyimpan kartu nama di tangannya.
Dengan begitu semua orang kini berfokus pada Mia dan bertanya-tanya bagaimana perempuan itu akan mengatasi masalah yang sedang dihadapi Mia.
Meski mereka sebenarnya kesal dan merasa iri pada Mia tetapi mereka berusaha mendekatkan diri pada Mia, paling tidak jika berhasil bergabung dengan Vionita mungkin Mia juga bisa memperkenalkan mereka pada Vionita.
Akhirnya makan malam itu berlalu dengan cepat, semua orang berpisah dan menaiki kendaraan mereka masing-masing.
Loren adalah orang yang terakhir berdiri di depan restoran dan mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Christian.
Drrrtt.....
Belum saja dia menelpon pria itu ketika teleponnya telah berdering.
Tuan Christian call.....
Segera Loren tersenyum membaca nama Christian di ponselnya lalu dia menekan tombol terima dan mendekatkan benda pipih itu ke telinganya.
"Tuan,," ucapnya merasa sangat senang.
Suasana hatinya yang sedari tadi gelisah karena memikirkan Vionita langsung menjadi berbunga-bunga karena berbicara dengan Christian.
__ADS_1
"Aku di samping kananmu." Jawab pria dari sebelum telepon langsung membuat Loren menoleh ke sebelah kanannya dan melihat sebuah mobil yang tampak familier terparkir di sana.
Mobil pribadi milik Christian!!
Segera jantung Loren berdegup kencang, dia tidak menyangka kalau pria itu akan menungguinya sampai seperti ini...
"Tuan menunggu di situ? Bagaimana kalau saya tidak pulang cepat? Apakah Tuan akan menunggu selamanya?!" Loren bertanya pada Christian di seberang telpon sembari melangkahkan kakinya ke arah mobil.
"Ya--" suara Christian langsung terputus ketika langka Loren ke mobil Christian terhenti karena seorang perempuan menghadangnya.
Segera Loren menurunkan ponselnya dan menutup panggilan itu sebelum menatap Vionita yang kini berdiri menatapnya.
"Hai Loren, sepupuku yang manis,," ucap Vionita dengan senyum mengejeknya.
Loren menatap perempuan di depannya lalu melihat ke belakang Vionita dimana Christian sudah membuka mobil dan pria itu hendak menghampiri mereka.
Segera Loren menggelengkan kepala pada Christian supaya pria itu tidak mendekati mereka, dia ingin melatih dirinya sendiri menghadapi Vionita supaya kejadian seperti di puncak tak pernah lagi terjadi.
Tetapi Vionita yang melihat Loren menggelengkan kepalanya malah salah paham dan mengira Loren sedang takut menghadapinya.
"Ada apa? Terkejut karena aku disini? Kenapa? Takut? Ha ha ha... Dasar Loren,, kau masih saja seperti dulu." Vionita berbicara sembari menertawakan Loren yang kini dia memandanginya.
Padahal Loren kini merasa lega karena Christian akhirnya menutup pintu mobil meski dia tahu bahwa pria itu pasti mengawasi mereka dari balik jendela mobil.
'Aku tidak boleh terlihat lemah di depan Christian kalau tidak pria itu mungkin tidak akan membiarkan ku menangani masalahku dengan Vionita. Pria itu pasti akan ikut campur dan akan mengganggu pekerjaannya.' pikir Loren menghawatirkan Christian.
"Apa yang kau inginkan?!" Tanya Loren akhirnya membuat Vionita yang tertawa langsung terdiam karena perempuan itu terkejut dengan nada suara Loren yang memiliki keberanian.
Sejak kapan Loren berubah menjadi berani?
Lebih tepatnya, dari mana perempuan itu memungut sebuah keberanian?!
Seharusnya saat ini Loren sangat takut karena dia sudah mengancam perempuan itu lewat Mia, tapi mengapa Loren malah begini???
@Interaksi
__ADS_1
Iya,, menurut otor cantik itu dari hati,, bukan dari dompet.. jadi stop minta uang cantik ke suami ya.....xixi