
Christian terbangun dengan seluruh keringat memenuhi tubuhnya.
Tubuhnya bahkan terasa lelah meski dia hanya tidur sembari bermimpi.
Pria itu duduk bersandar dan memejamkan matanya dan memijat keningnya.
'Mimpi itu lagi, tapi mengapa aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas dan hanya bisa melihat senyumnya?' ucap Cristian dalam hati sembari menghela nafas.
Pria itu berpikir beberapa waktu lagi sebelum turun dari kasur dan mengguyur tubuhnya dengan shower hangat.
Christian menyandarkan tangannya di dinding dan kembali mengingat peristiwa di masa lalunya.
Setelah mereka berterima kasih pada sang polisi gadis perempuan itu mengajak Christian pergi dari tempat itu.
"Terima kasih telah menolongku, suatu saat aku akan membalas kebaikanmu." Ucap Christian.
"Tentu. Oya, aku lihat kamu sangat ketakutan." Gadis remaja itu merogoh sakunya dan mengambil sebuah jepit dasi dari sakunya "Ini adalah jepit dasi yang kubuat untuk menyemangati ayahku yang akan ikut berkompertisi, tapi aku menghadiahkannya padamu supaya kau tetap bersemangat." Ucap Gadis remaja itu menyerahkan jepit dasi ke telapak tangan Christian lalu Gadis itu pergi meninggalkan Christian.
__ADS_1
Ingatan Christian tentang gadis itu hanya sampai sejauh itu jadi Christian tidak punya petunjuk apapun untuk mencari Gadis itu kecuali memperkirakan bahwa Gadis itu sedang bersekolah di tingkat SMP.
"Dimana kau?" Kata Christian mematikan shower lalu pria itu keluar dari kamar mandi dan membuka sebuah kotak kecil yang diletakkan di brankas.
'Aku sudah menggunakan jepit dasi ini berulang kali tapi belum pernah ada seseorang yang mengakuinya sebagai buatan tangannya. Mungkinkah telah terjadi sesuatu pada gadis itu?' pikir Christian memandangi jepit dasi di tangannya.
Dari kelihatannya mutiara itu sangat mewah tetapi jika dilihat dengan jelas orang-orang bisa mengetahui bahwa bahan-bahan yang digunakan untuk membuat jepit dasi itu adalah bahan-bahan murahan.
'Sebaiknya kupakai lagi besok.' Ucap Christian dalam hati lalu mengembalikan jepit dasi itu ke dalam kotaknya.
...
Dia kembali ingat apa yang terjadi di kamar Christian.
Setelah pria itu menciumnya, Loren mendorong Christian dan mundur menjauhi pria itu.
Loren mengusap bibirnya dengan bajunya hingga memancing amarah Christian.
__ADS_1
"Kau jijik berciuman denganku?!" Teriak Christian pada Loren.
Teriaknya keras Christian membuat Loren bergetar dan menangis ketakutan.
"Ti,, tidak... Aku tidak sengaja." Katanya dengan suara gemetaran sembari meneteskan air matanya.
"Hah,, kau berada di rumahku artinya Kau adalah milikku dan aku bebas melakukan apapun terhadap milikku termasuk melenyapkannya! Kalau kau tidak suka itu kau bisa pergi dan tinggalkan kediamanku! Hanya gelandangan yang di pungut dan beraninya menyebut dirinya berharga!" Cibir Christian merendahkan Loren lalu pria itu berbalik meninggalkan Loren.
"Huhu... Dia sangat kejam padaku." Loren kembali menangis mengingat kejadian itu.
"Padahal aku sudah menangis semalaman karena pria itu, tapi sekarang aku masih belum bisa menghentikannya. Bahkan anjing yang dulu ke pelihara pun tidak akan mendapat perlakuan kasar seperti itu dariku. Tapi mengapa dia memperlakukan seorang perempuan dengan sangat kasar?" Keluh Loren berjalan ke kamar mandi untuk memulai ritual paginya meski harus terus menangis karena sakit hati pada Christian.
"Seharusnya kemarin aku tidak perlu mengikuti perintah Ransi dan pergi menemui pria brengsek itu!" Isak Loren melepas satu persatu pakaiannya.
@Interaksi
__ADS_1
Iya ya otor pernah janji. Ya udh besoklah otor usahakan, tapi malam ini otor cuma up 1 ya wkwkwk.....