Gadis Kecil Milik CEO

Gadis Kecil Milik CEO
S2. 62.


__ADS_3

Akhirnya, sesuai dengan pilihan Loren, maka dia mulai bekerja dari rumah, dia juga menyerahkan urusan Kinkan pada Gio, jadi perempuan itu hanya menerima desain yang tidak mengharuskannya bertemu dengan pemesannya.


Ketika Loren sedang duduk di taman sambil mencari inspirasi, ia dikejutkan dengan kemunculan Marisa.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Marisa sambil melihat tumpukan berkas yang ada di meja taman.


"Ah,, ini,, mulai hari ini aku bekerja dari rumah," ucap Loren mengangkat beberapa kertas yang diletakkan di kursi agar Marisa bisa duduk di sana.


Marisa duduk di kursi sambil melihat Loren, "Kenapa tiba-tiba bekerja dari rumah?" Tanya Marisa.


"Ada sedikit masalah, makanya aku harus tetap berada di rumah." Ucap Loren.


"Begitu ya,, kalian begitu aku akan mendapatkan cemilan untukmu," ucap Marisa langsung berdiri.


"Eh,, tidak!!! Jangan!!! Aku sudah menyuruh pelayan untuk menyiapkannya, jadi Kak Marisa tidak perlu repot-repot." Ucap Loren.


"Oh, begitu ya,," Marisa kembali duduk di kursinya, "Kalau begitu, apakah kau perlu bantuan lain?" Tanya Marisa.


Loren berpikir sesaat lalu berkata, "Ya, aku butuh pendapat orang awam untuk desainku," ucap Loren menyerahkan tumpukan desainnya pada Marisa.

__ADS_1


Marisa dengan senang hati menerima tumpukan desain itu lalu membantu Loren dengan memberi pendapatnya.


Setelah seharian, kedua perempuan itu meninggalkan taman.


Loren baru saja tiba di kamar saat ponselnya berdering dengan nama pemanggil adalah Chataline.


Perempuan itu langsung mengerutkan keningnya karena merasa aneh dengan telpon tersebut.


Tapi Loren tetap mengangkat teleponnya, "Halo?" Katanya pada Chataline.


"Loren, kau di mana?" Suara Chataline begitu bersemangat seolah perempuan itu sama sekali tak terganggu dengan gelarnya yang telah di rebut oleh Loren.


"Ya, aku di rumah, ada apa?" Tanya Loren.


"Uh,, sepertinya itu tidak bisa, saat ini aku agak sibuk." Ucap Loren.


Chataline menghela nafas, "Begitu ya,, padahal aku hanya ingin bertemu sebentar. Kalau begitu, teleponlah aku kalau kau sudah tidak sibuk lagi." Ucap Chataline.


"Baiklah," jawab Loren lalu mematikan panggilan itu.

__ADS_1


Orang di seberang telpon langsung berbalik marah setelah panggilannya di matikan.


"Begitu sombong!! Dia pikir dirinya siapa?!" Kesal Cahtaline menoleh pada seseorang di depannya.


"Apakah sudah terlacak?" Tanya Chataline pada asisten Abimanyu yang sedang melacak lokasi Loren lewat sambungan telponnya dengan Chataline.


"Tidak," jawab Zilo dengan wajah datar.


"Hah,, sepertinya kau tidak ahli!! Apakah kau sudah memeriksa alamat apartemen yang kuberikan padamu?" Tanya Chataline menatap pria yang tampak sibuk dengan laptop.


Tapi sayangnya, pertanyaannya tidak dihiraukan, jadi Chataline mendengus kesal, "Aku sudah memberikan semua informasi yang ku ketahui, jadi sekarang, kalian harus menepati janji kalian mengurus pria tua itu dan semua video yang dia miliki!!" Ucap Chataline penuh amarah mengingat pamannya.


"Aku akan melakukannya kalau kau bisa membawa Loren padaku!!" Ucap pria di depan Cahtaline.


"Apa?!! Tapi dia sudah bilang kalau dia tidak bisa bertemu denganku!!" Ucap Chataline.


"Aku tidak perduli, itu urusanmu untuk memikirkan solusinya! Jika kau tidak bisa membawanya padaku, maka seluruh videomu akan ku sebarkan!!" Ucap Zilo sembari berdiri meninggalkan perempuan itu.


"A... Apa??" Wajah Chataline menjadi sangat pucat dengan tubuhnya yang gemetar hebat.

__ADS_1


"Bawa dia pergi dari sini!!" Perintah Zilo pada beberapa pengawal yang ada di ruangan itu.


Chataline menjadi panik, "Tidak! Tunggu!!Kau sudah berjanji padaku!!!" Teriak Cahtaline pada Zilo.


__ADS_2