
Loren turun dari tempat tidur untuk menyusul Christian yang keluar dari kamar. Namun, begitu dia membuka pintu kamar didapatinya seorang pengawal berdiri di sana dan menahannya.
"Nona silakan menunggu di dalam kamar." Kata pengawal itu.
"Tapi," Loren melihat punggung Christian yang menjauh darinya, punggung itu menghilang di balik dinding hingga membuat perasaan Loren semakin tak karuan.
'Apakah aku salah? Harusnya aku tidak bersikap sepeti tadi, lagi pula dia melakukannya hanya karena khawatir padaku. Itu hanya tidur sambil berpelukan,, mengapa aku jadi marah...' dengan wajah lesu nya Loren kembali masuk ke dalam kamar dan duduk di sofa sembari menatap ke arah akuarium.
"Hei ikan,, hariku bejalan buruk." Ucapnya menahan air matanya yang mulai membanjiri matanya.
Ia kembali ingat bagaiman pertemuannya dengan Vionita, bagaimana dia belum bisa menahan ketakutannya.
'Kalau tidak ada Christian, mungkin aku masih ada di gudang itu, ketakutan sendirian,,,' Loren merasa menyesal.
ia menyesal atas apa yang telah ia lakukan.
Penyesalan yang menyelimutinya membuatnya lupa akan rasa laparnya.
Ia bersandar lemas dan duduk dengan diam.
'Maaf,,' ucapnya dalam hati.
Baru saja Loren selesai mengatakan maaf ketika pintu kamar tiba-tiba terbuka dan seorang pria memasuki kamar membawa sebuah nampan besar.
Loren tercengang melihat Christian datang membawa makanan.
__ADS_1
"Tuan,,' Loren merasa sangat terharu, dengan segera air mata membanjiri pipinya lalu perempuan itu langsung memeluk Christian setelah Christian meletakkan nampan di tangannya di atas meja.
Christian menyambut perempuan itu dalam pelukannya dan membawa Loren ke pangkuannya.
"Jangan menangis lagi,," ucap Christian mengelus rambut Loren yang sedikit berantakan karena belum dirapikan sejak Loren bangun.
"Maaf,, aku tidak sengaja. Aku hanya terkejut melihat Tuan ada di tempat tidurku,," ucap Loren merasa bersalah.
Mengapa tadi dia malah berteriak pada Christian? Seharusnya dia bicara baik-baik saja.
"Bukan salahmu, ini salahku.. maaf,, lain kali aku tidak akan cemburu buta lagi." Christian menghela nafas dengan panjang.
Loren melepaskan pelukannya dan mentap Christian "Cemburu buta? Cemburu buta apa?" Tanya Loren merasa heran.
Ini hanya hal kecil, tapi dia malah bersikap kekanakan hingga Loren berakhir menangis di gudang yang gelap.
Sementara Loren yang mendengar penjelasan Christian hanya bisa tertegun menatap pria didepannya.
"Jadi,, jadi Tuan mengabaikan saya di makan malam itu karena Tuan cemburu?" Tanya Loren dengan suara peran yang merasa tak percaya bahwa pria didepannya ini ternyata memiliki sisi pencemburu yang sangat akut!
"Iya, maaf,," Christian kembali memeluk Loren dan menyembunyikan wajahnya di leher Loren.
Dia malu!
"Ha,, ha ha ha..." Akhirnya Loren tertawa keras mendengar pengakuan Christian.
__ADS_1
Dada Loren yang naik turun karena tertawa membuat Christian merasa tak nyaman memeluk perempuan itu jadi dia segera mengambil jarak di antara mereka.
"Kau masih punya tenaga untuk tertawa dan bukannya menjelaskan panggilan itu? Mengapa kau memanggil orang lain dengan namanya dan aku tidak?! Mengapa malah memanggilku dengan kata Tuan?" Tanya Christian yang masih belum puas.
Dia sudah mengakui kesalahannya jadi seharusnya Loren menjelaskan padanya bukannya menertawakannya seperti itu hingga membuatnya semakin malu.
Namun setelah mendengar ucapan Christian, Loren kembali memeluk pria itu dengan erat.
"Terima kasih telah cemburu. Tapi Bian itu bukan orang yang saya sukai, saya memanggilnya dengan namanya karena itu namanya. Yang saya sukai itu Tuan Christian! Tuan saya cuma Tuan Christian, tidak ada lagi yang lain! Tapi kalau Tuan tidak suka dipanggil Tuan, saya bisa menggantinya sesuai keinginan Tuan." Ucap Loren dengan suara pelannya.
'Tuan saya cuma Tuan Christian, tidak ada lagi yang lain!' ucapan Loren terngiang-ngiang di telinga Christian.
Setiap orang memiliki panggilan yang nyaman untuk pasangan mereka, seburuk apa pun panggilan itu di mata ornag lain, tapi dumata mereka, itu sangat spesial!
Dan terlebih,, Tuan Loren hanya dia...!!!!
Christian langsung terhipnotis dan kemarahannya menjadi lenyap.
@Interaksi
Ini laki-laki ngapain ngidamin laki-laki??? Apa perempuan sudah kehilangan pesonanya???
__ADS_1