
Setelah sarapan bersama, Loren dan Christian kemudian menaiki mobil yang akan mengantar mereka ke kantor.
Di tengah perjalanan, ponsel Loren tiba-tiba berdering memperlihatkan nama Chataline.
Christian yang memeluk Loren dengan mesra sembari mencium telinga perempuan itu langsung mengerutkan keningnya.
'Perempuan ini, aku pikir Ransi sudah membereskannya. Mengapa dia masih menghubungi Loren?' pikir Christian kembali mengingat saat Chataline dengan lancang memasuki ruangannya tanpa izin darinya.
Dia sengaja memotong gaji Ransi agar pria itu mengerti bahwa dia ingin Chataline segera dibereskan dari sisi Loren.
'Heh,, sepertinya Ransi tidak mengerti kode ku.' suasana hati Christian langsung menjadi buruk.
Ia bersandar sambil memperhatikan Loren yang mengangkat panggilan telepon itu.
"Halo," ucap Loren pada orang di seberang telepon.
"Loren!! Aku ingin menanyakan bajuku, kapan kau akan mengirimkannya ke rumahku? Aku sudah tidak sabar untuk melihatnya!" Ucap Chataline dengan suara yang begitu bersemangat.
"Ah,, ya, hari ini juga, aku akan mengirimkannya. Tapi bolehkah kau mengirim alamat rumahmu? Terakhir kali kau lupa memberitahukannya padaku." Ucap Loren.
__ADS_1
"Oh ya, tentu! Aku akan mengirimkannya sekarang." Chataline dengan bersemangat menjawab Loren.
"Baiklah, terima kasih atas kerjasamanya." Ucap Loren.
"Okk..." Jawab Chataline dari seberang telepon lalu mereka mengakhiri panggilan tersebut.
Begitu telepon dimatikan, Christian menarik Loren ke pangkuannya lalu pria itu menahan dagu Loren.
"Kau masih suka berhubungan dengan perempuan itu?" Tanya Christian dengan nada suara yang kesal.
Dia ingin sekali mengurangi interaksi Loren dengan orang-orang luar supaya tidak ada kejadian seperti tadi ketika dia sedang menikmati waktu berduanya dengan istrinya, ada saja orang yang mengganggu mereka.
Mendengar itu, Christian menjadi lebih marah lagi ia menajamkan tatapannya menatap istrinya, "Jadi kau lebih membelanya ketimbang suamimu?" Tanya Christian.
"Eh?" Loren tersentak kaget dengan pria yang sudah menjadi suaminya itu, "jangan bilang kau cemburu padanya?" Tanya Loren.
"Cemburu? Kenapa aku harus cemburu padanya? Aku hanya kesal setiap kali kita bersama selalu saja ada orang yang mengganggu kita." Ucap Christian dengan kesal sembari membuang wajahnya menghindari tatapan Loren yang kini tertawa kecil.
"Itu sama saja, Kalau begitu, mulai sekarang kalau aku bersama dengan suamiku aku tidak akan mengaktifkan ponselku. Pokoknya saat bersama suamiku aku akan fokus pada suamiku." Ucap Loren mengulurkan tangannya memegang pipi Christian lalu memaksa pria itu kembali menoleh ke arahnya.
__ADS_1
Christian bisa saja menahannya tetapi mendengar Loren yang telah berjanji, pria itu akhirnya menoleh lalu dia terkejut saat sebuah kecupan besar langsung mendarat di bibirnya.
"Muah!!! Suamiku yang menggemaskan ini tidak boleh cemburu lagi!! Kalau tidak,, aku akan menggigitnya di sini!!" Ucap Loren menggigit bibir bawah Christian hingga gigi-giginya meninggalkan bekas di kulit pria itu.
Kemarahan Christian langsung lenyap, pria itu dengan gamesnya berkata, "Kau berani pada suamimu heh?!!"
"Oh? Memangnya tidak boleh? Sini aku gigit lagi!!!" Loren mengulurkan tangannya ke belakang kepala Christian agar pria itu menunduk ke arahnya lalu dengan gemas perempuan itu kembali menggigit bibir Christian.
Awalnya gigitan, lalu berubah menjadi ciuman dan berakhir menjadi lumaatan yang panas sampai mereka tiba di kantor.
Sang supir yang bertugas mengantar Akhirnya bisa bernapas lega saat Loren sudah turun di dekat kantor LC lalu mobil kembali melaju dengan tenang.
Christian menyadari betapa tersiksanya pria di depannya itu, jadi dia berkata, "gajimu dinaikkan dua kali lipat."
"Eh,, tu,, tuan serius?" Sang supir bertanya sembari melihat Christian dari kaca spion dalam mobil.
Namun, saat melihat tatapan pria itu tampak tidak menyenangkan, sang supir langsung menunduk menyadari kesalahannya.
Dia hanyalah sopir rendahan, tidak ada hak untuk menatap Christian.
__ADS_1
"Terima kasih Tuan," ucap Sang sopir menahan ketakutannya.