
"Vionita jelaskan!!! Mengapa kau melakukan hal seperti ini?!!" Bian bertanya penuh kemarahan pada perempuan yang kini terisak di depannya.
"Kak Bian,, bisakah kita berbicara berdua saja? Aku,, aku,, hiks,," Vionita terus menangis memperlihatkan sisi paling lemahnya hingga mau tak mau membuat Bian merasa luluh.
"Tolong tinggalkan kami," ucap Bian memandang pada Chataline dan Zaidan yang sedang menikmati pertunjukan.
"Ah ya,, tentu saja, kalian perlu waktu berdua untuk membahas masalah ini. Tetapi Tuan Bian,,, sebelum saya pergi saya harus mengingatkan supaya Tuan Bian kembali menyelidiki semuanya dan terlebih,,,, asisten Tuan Bian ini,,, Hm,, benar-benar tidak bisa dipercaya!!" Ucap Chataline sembari tersenyum ke arah Vionita lalu perempuan itu berdiri meninggalkan ruangan diikuti Zaidan.
Pertempuran telah selesai dan dia hanya perlu melihat apa yang akan dilakukan Bian pada Vionita.
"Kaka Bian,," Vionita masih meneteskan air matanya saat pintu ruangan telah ditutup oleh Zaidan.
Bian berdiri menjauh dari Vionita sembari memijat keningnya yang terasa berdenyut.
Kata-kata Loren pada nya terus terngiang-ngiang di pikirannya.
Perempuan itu menyuruhnya menyelidiki ulang tetapi ternyata orang yang dia suruh untuk menyelidiki semuanya telah dikendalikan oleh Vionita.
Lebih buruknya lagi, perempuan yang ia percayai itu ternyata,,, penuh muslihat!!!
__ADS_1
"Katakan alasanmu, aku akan mendengarkannya sekali saja." Ucap Bian pada Vionita.
"Hiks,, hiks,, Kak Bian,, maafkan aku,, Aku melakukan ini juga karena terpaksa. Loren,, dia,, dia memaksaku melakukannya!! Kalau dia tidak berpura-pura tidak mengenaliku, aku tidak akan mencari perhatiannya dengan melakukan hal seperti ini." Ucap Vionita terus meneteskan air matanya di hadapan Bian.
"Lalu katakan padaku, apa saja kebohongan yang sudah kalian lakukan?" Tanya Bian menatap 2 orang yang ada di hadapannya.
"Tuan,, segala sesuatu yang menyangkut Nona Loren, semuanya itu adalah kebohongan. Kecuali,, peristiwa di mana Nona Loren hilang di luar negeri, saya benar-benar menyelidikinya dengan baik tetapi tidak membuahkan hasil. Seluruh rekaman CCTV di 5 tahun yang lalu sudah menghilang,," jawab Fajar.
"Apa?!!!" Bian menggertakkan giginya.
"Kak Bian,, hikss, Aku hanya ingin menarik perhatian Loren tidak ada lagi yang lainnya." Vionita terus menampakan wajah terpuruknya yang dipenuhi rasa bersalah.
Dia tidak tega memarahi Vionita yang kini terlihat dipenuhi rasa bersalah.
Melihat Bian yang mulai melunak, Vionita akhirnya mendekati pria itu lalu memeluknya.
"Kak Bian,, maafkan aku,, aku salah. Tapi Aku melakukan ini benar-benar karena hanya ingin mendekati Loren,, tapi Chataline itu,, dia juga tidak bisa di percaya,, dia itu licik!!"
"Sudah,, Aku tidak ingin mendengar masalah ini lagi. Fajar, Antar Vionita kembali," ucap Bian pada Fajar.
__ADS_1
"Baik Tuan," jawab Fajar.
"Ka, Kak Bian,, hikss,," Vionita menatap Bian dengan mata berlinang air mata supaya pria itu menghentikan Fajar yang mendekat kearahnya.
"Aku perlu waktu untuk memikirkan ini, pergilah," ucap Bian menarik tangan Vionita dari tubuhnya lalu pria itu meninggalkan Vionita ke ruang istirahat.
Baru saja pintu ruang istirahat tertutup, wajah Vionita yang tadinya seperti anak kucing yang ditinggalkan oleh ibunya langsung berubah menjadi ganas.
Perempuan itu berbalik ke arah Fajar yang mendekat ke arahnya lalu menampar Fajar dengan keras.
Plak!!
"Dasar tak berguna!!!" Teriak Vionita dengan kesal.
Fajar hanya berdiri diam di sana, dia tidak mau mengatakan apapun sebab dia sudah tidak bisa lagi menghianati Bian.
"Awas aja kalau sampai hubungan ku dengan Bian tidak membaik, aku akan membuatmu menderita seumur hidup!!!" Ancam Vionita lalu perempuan itu mengambil tasnya meninggalkan ruangan Bian.
'Haiss!! Seandainya aku tidak sedang sibuk mempersiapkan acara Fashion week ibukota, aku tidak akan meninggalkan Bian. Tapi hari ini aku sangat sibuk!!!' Gerutu Vionita melangkahkan kakinya ke dalam lift.
__ADS_1
'Aku akan menunggu Kak Bian di apartemen lalu meminta maaf padanya.' pikir Vionita.