
Setelah Loren pergi, semua orang kini duduk di meja makan.
"Keluarga Maherson sudah pergi, sekarang Apa yang harus kita lakukan? Aku tidak mau pernikahan putriku batal!!" Ucap Yohana sembari melihat putrinya yang mulai berhenti menangis.
Vionita menghela nafas selalu tersenyum, "Tenang saja ibu, Bian tidak akan membatalkan pernikahan kami karena saat ini aku tengah mengandung anaknya." Ucap Vionita mengejutkan semua ronag.
"Apa?!! Ha ha ha... Itu bagus sekali!!!" Yohana akhirnya tertawa sangat bahagia.
Bagaimanapun keluarga Maherson lari dari mereka, maka keluarga itu tidak akan bisa melakukannya sebab keturunan keluarga Maherson sudah ada di rahim anaknya.
Tetapi Daniel kemudian berkata, "Mengapa ibu begitu senang? Baru saja Ibu mengatakan Loren sebagai Anak haram sekarang Putri Ibu juga--"
Plak!!
Sebuah tamparan mendarat di pipi Daniel, tamparan itu berasal dari ayahnya sendiri.
"Jaga mulutmu!!" Ucap Rama untuk mencegah anaknya mengatakan bahwa anak di dalam kandungan Vionita adalah anak haram.
"Ayah!!" Daniel menggertakan giginya dengan nafas tersengal.
__ADS_1
"Suami!! Apa yang aku lakukan?!! Mengapa sampai menampar putramu?!" Yohana meneriaki suaminya saat melihat Daniel tampak sangat marah pada ayahnya.
"Kalian bertiga,,, kalian semua sudah gila harta!!" Ucap Daniel lalu pria itu meninggalkan ruang makan.
Yohana yang terkejut langsung mengejar putranya.
Dia berdiri di pintu kamar Daniel sambil mengetuk-ngetuk pintu, tapi tidak ada yang merespon dari dalam.
"Daniel,, kau jangan berpikir buruk. Apa yang Ibu dan Ayah lakukan itu semuanya untuk keluarga kita!! Kau harus mengerti dan berusaha mengendalikan dirimu sendiri." Ucap Yohana tanpa ada jawaban dari dalam kamar.
"Biarkan saja dia. Sekarang pergilah ke kamar putrimu dan tenangkan dia. Suruh dia menghubungi Bian agar rencana pernikahan tetap dilaksanakan." Kata Rama saat melihat Yohana terus berdiri membujuk putranya namun tak ada respon dari Daniel.
Sementara itu, saat ini Loren dan Christian sedang dalam perjalanan kembali ke hotel.
Loren bersandar di dada Christian dengan perasaan yang kalut memikirkan ucapan Yohana.
Sementara Christian, pria itu dari tadi mengelus-ngelus rambut Loren menunggu perempuan itu untuk berbicara.
Tapi sampai mereka tiba di hotel, Loren tidak mengatakan apapun, perempuan itu hanya naik ke kamar mereka dan menghempaskan tubuhnya di atas ranjang.
__ADS_1
"Ceritakan lah," kata Christian duduk di samping ranjang sembari memperbaiki rambut Loren yang berantakan di atas bantal.
Mendengar suara Christian, Loren berbalik lalu meletakkan kepalanya di paha pria itu sembari memeluk pinggang Christian.
"Foto tadi,, Menurutmu, apakah itu foto asli?" Tanya Loren.
"Aku akan menyelidikinya," ucap Christian membelai rambut Loren.
"Aku harap itu hanya editan." Ucap Loren sma il menghela nafas.
"Percayalah pada Ibumu, dia pasti setia pada ayahmu. Oya,, tadi itu kau sangat hebat. Kau sudah banyak belajar dariku ya,," kata Christian langsung membuat Lauren tersenyum.
Perempuan itu melonggarkan pelukannya lalu menatap Christian, "Menurutmu, apakah pernikahan mereka akan benar-benar batal?" Tanya Loren.
"Hm,, mereka tidak akan membiarkannya. Orang-orang tamak itu pasti akan mencari cara untuk membuat keluarga Maherson tetap menikahkan Putra mereka dengan Putri mereka." Kata Christian.
"Hm,, begitu ya... Ya sudah,, bagus juga kalau mereka menikah. Dua pecundang digabungkan,," kata Loren tersenyum.
Christian melihat senyum Loren, dia tahu kalau saat ini pikiran perempuan itu sedang kalut tapi masih bisa juga tersenyum seperti itu.
__ADS_1
Jadi Christian merasa bahwa dirinya harus melakukan sesuatu, 'Sepertinya akan bagus kalau aku menunggu mereka berdua menikah lalu membangkrutkan keluarga Maherson. Lihat apa yang akan dilakukan keluarga Sinaga nanti!' pikir Christian dalam hati tanpa mau memberitahukannya pada Loren karena dia yakin perempuan itu tidak akan pernah setuju dengan cara itu.