
"Tuan," Ransi akhirnya tiba di kamar Christian dan menyerahkan pakaian yang tadi dipilih oleh Loren.
Sebuah kemeja putih yang polos dipasangkan dengan celana pendek berwarna coklat.
Pakaian yang nyaman dipakai di rumah.
Christian yang tengah bertelanjang dada menatap pakaian yang diperlihatkan oleh Ransi dan mengerutkan keningnya.
"Kau bodoh!! Pakaian seperti itu gunakan untuk makan malam bersama Loren?!" Teriak Christian penuh kemarahan, entah kenapa emosinya terus meledak-ledak setiap kali ada sesuatu yang berhubungan dengan Loren dan hal tersebut tidak berjalan dengan lancar.
Tapi kali ini Ransi keterlaluan! Ia hendak makan malam bersama Loren, mengapa malah membawakan pakaian begitu?!
Tikus pun masih jauh lebih baik dalam memilih jika dibandingkan Ransi!
Ransi sudah tahu hal ini akan terjadi, tapi dia tetap tenang.
"Uh,, Tuan, tapi ini adalah pakaian yang dipilih sendiri oleh Nona Loren. Namun, Kalau Tuan tidak menyukainya saya bisa membawakan pakaian yang lain." Kata Ransi segera berputar untuk meninggalkan Christian saat suara Christian menghentikan langkahnya.
"Kau bilang itu pilihan Loren?" Tanya Christian.
Ransi kembali berbalik menghadap Christian lalu menjawab "Benar Tuan, di depan kamar Tuan saya bertemu dengan Nona Loren yang sepertinya datang memastikan tentang makan malam bersama Tuan. Lalu Nona Loren secara khusus memilihkan pakaian ini untuk Tuan." Ucap Ransi.
Christian terdiam 'Dipilihkan Loren!'
"Berikan padaku!" Kata Christian kemudian mengambil pakaian itu lalu mengganti pakaiannya tanpa ada sedikit pun keraguan.
Kalau pakaian itu dipilih sendiri oleh Loren maka dia pasti akan memakainya!
Akhirnya setelah memakai pakaian yang dipilihkan oleh Loren Christian berjalan ke cermin dan menatap dirinya di balik cermin.
__ADS_1
"Bagaimana rambutku?" Tanyanya pada Ransi.
"Tampak bagus," jawab Ransi.
"Bagaimana kulitku?"
"Bagus."
"Bagaimana bibirku?"
"Nona pasti menyukainya."
Bagaimana...
Bagaimana...
Bagaimana...
Ia muak dengan pria yang jatuh cinta itu, mana pernah dia memperhatikan hal-hal seperti itu sebelumnya?!
Akhirnya Christian menyudahi pertanyaannya pada Ransi lalu pria itu bergegas keluar kamar dan pergi ke kamar Loren.
Loren yang sudah mengganti pakaiannya dengan gaun putih yang nyaman di rumah kini berdiri di balkon kamarnya sembari menatap ke arah taman.
Tangan perempuan itu memegang erat pembatas besi yang terasa licin karena dibasahi oleh keringat dari telapak tangannya.
Sudah setengah jam dia menunggu dan pria itu belum selesai mengganti pakaiannya.
'Sepertinya aku hanya berharap untuk sesuatu yang tidak mungkin.' gumam Loren dengan lemas memasuki kamar dan kembali menatap gantungan kunci serta jepit dasi yang ia letakkan di atas meja.
__ADS_1
Detik berikutnya ia mengalihkan pandangannya ke kasur lalu menghempaskan tubuhnya ke atas kasur dan membungkus dirinya dengan selimut.
"Aku bodoh..! Bodoh...! Bodoh...!! Mana mungkin aku berharap? Apa yang ku harapkan itu terlalu tinggi!" Teriaknya dari balik selimut.
Ia merasa kecewa, merasa kehilangan, merasa dicampakkan dan merasakan banyak hal buruk di hatinya.
Tok tok tok...
Tiba-tiba suara pintu yang diketuk mendiamkan Loren yang tengah berteriak-teriak kesal dari balik selimutnya.
"Itu,, siapa yang mengetuk pintu?" Loren langsung menyibak selimut nya lalu berjalan ke arah pintu dan membuka pintu.
Deg!
Deg!
Christian berdiri di depannya.
Pria itu menggunakan kaos putih dan celana coklat yang tadi dia pilih.
Hanya dengan pakaian itu Loren bisa merasa lebih santai menghadapi Christian karena pria itu tak tampak seperti bos besar yang mengerikan.
Lalu Christian, pria itu tersenyum ke arahnya!!!
@Interaksi
Satu ajah ya... soalnya otor lagi berjiwa pelit..!
__ADS_1
...
...