
"Tuan!!!" Loren berteriak sangat kencang saat Christian dengan kejam melemparkannya ke atas tempat tidur lalu menindihnya dengan tubuh besar milik pria itu!!
"Saya sesak!!" Teriak Loren dengan nafas tersengal mendorong tubuh Christian.
"Ini hukuman untukmu!!" Ucap Christian tidak memperdulikan keluhan Loren dan hanya mendaratkan ciuman bertubi-tubi di wajah Loren.
"Tuan,, ampun!!!" Nafas Loren tersengal.
Melihat Loren yang kewalahan bernapas, Christian kemudian berguling ke samping lalu menarik perempuan itu ke pelukannya.
"Selain yang kau katakan di kamar mandi tadi, apa masih ada lagi yang membuatmu marah?" Tanya Christian yang memeluk Loren dari belakang.
Loren terdiam menstabilkan nafasnya lalu perempuan itu mengingat-ingat kembali apa saja yang sudah membuatnya kesal.
Setelah beberapa detik Loren berbalik menatap Christian dan melingkarkan tangannya di leher pria itu.
"Sebenarnya,, awalnya saya tidak percaya kalau Tuan akan memilih Nona Chataline dibandingkan saya, tapi,, para perempuan yang bekerja bersama saya mengatakan kalau Tuan sangat cocok dengan Nona Chataline, jadi saya pikir Tuan juga memiliki pendapat yang sama." Ucap Loren tak berani menatap mata Christian, ia hanya menatap bibir pria itu.
Baru saja selesai berbicara ia melihat bibir Christian yang sedari tadi diam kini melengkung membentuk senyum.
'Dia tersenyum? Apa itu artinya dia setuju dengan yang katakan tim desain?' Loren mengangkat wajahnya menatap Christian, jantungnya berpacu cepat.
Detik berikutnya,, tap!
__ADS_1
Christian menggunakan tangannya memberi pukulan pelan di dahi Loren.
"Ah!" Loren terkejut.
"Itu supaya pikiran burukmu segera hilang! Bagaimana bisa kau merendahkanku dengan mengatakan kalau aku ini cocok dengan perempuan seperti itu? Sangat membuatku marah!" Ucap Christian mengagetkan Loren.
"Sangat merendahkan Tuan? Perempuan seperti itu? Apa maksud Tuan?" Tanya Loren.
"Apa lagi? Kau tidak tahu kalau dia itu pemabuk berat dan memiliki banyak sifat buruk?" Tanya Christian membuat Loren mengerjap.
"Jadi,, Tuan benar tahu banyak tentangnya? Apakah Tuan memang sedekat itu dengannya?"
Christian menghela nafas "Perempuan nakal!! Aku mencari tahunya karena kau! Kalau dia tidak menganggu wanitaku, mana mungkin aku membuang-buang waktu untuknya?? Lagi pula tadi aku melarangnya memanggilku Tuan,, itu karena aku tidak mau ada perempuan lain yang memanggilku Tuan selain wanitaku sendiri. Mana mungkin panggilan sayang darimu digunakan juga perempuan lain?"
"Ahh,, jadi itu,, lalu,, lalu yang Tuan bilang mengingatnya apa itu benar? Sebelumnya kalian pernah bersama?" Loren kembali bertanya.
"Tentu saja aku harus mengingatnya, mana mungkin aku melupakan orang yang telah melukai wanitaku. Aku selalu membalas apa yang dilakukan orang lain, kalau mereka berbuat baik maka balasannya pasti baik tapi kalau mereka berbuat buruk maka--"
"Jadi Tuan masih mengingatnya karena Tuan masih berencana untuk membalas perbuatannya?" Tanya Loren.
"Tergantung wanitaku, jika kau mengijinkannya." Jawab Christian.
"Ah,, tapi saya tidak mengijinkannya." Jawab Loren.
__ADS_1
"Kalau begitu aku tidak akan melakukannya." Ucap Christian membelai rambut Loren.
"Lalu,, di mobil tadi?" Loren kembali bertanya.
"Tadi itu meeting penting, jadi aku tidak bisa mengabaikannya. Aku juga tidak bisa mendengarmu berbicara karena earphone yang digunakan itu sangat kedap suara. Apakah kau marah karena aku mengabaikanmu di mobil?" Tanya Christian membuat Loren kini merasa konyol pada dirinya sendiri.
"Jadi,, waktu saya berbicara pada Tuan, Tuan sama sekali tidak mendengar saya?" Tanya Loren.
"Tidak, memangnya apa yang kau katakan?" Tanya Christian.
"Eh??" Loren mengerjapkan matanya...
Sia-sia!!
Apa yang membuatnya khawatir,,, semuanya itu kesia-siaan!!!
Sangat memalukan untuk kemudian mengakuinya!!!
@Interaksi
Siro dan Ana udh bahagia, jangan coba suruh otor bikin sengsara lagi dengan memunculkan konflik di kehidupan merekaš¤
__ADS_1