
Di ruang kerja Vionita yang masih berantakan, Bian duduk disalah satu kursi yang bersih sembari memeluk Vionita yang sedari tadi terus menangis.
"Sudah,, sudah,,, aku di sini," entah sudah berapa kali biar menenangkan perempuan itu, tetapi air mata Vionita seolah tak pernah berhenti.
'Sial,, Kenapa Merlin bodoh itu malah menghubungi Bian?!! Sekarang apa yang harus kukatakan pada Bian untuk berbohong?!' dalam hatinya Vionita begitu gelisa sembari terus berakting menangis di depan Bian.
Tidak mungkin dia mengatakan pada Bian bahwa dia berusaha melukai Loren namun tidak berhasil, tidak mungkin pula dia mengatakan bahwa dia melakukannya karena Loren mengancam posisinya.
"Sekarang sudah aman,, berhentilah menangis agar mata tidak bengkak." Bian kembali membujuk Vionita.
"Hiks,, hiks,," Vionita terus bersandiwara sembari berpikir cerita apa yang akan ia karang pada Bian.
Namun, perempuan itu belum menemukan solusi ketika di luar ruang kerjanya sedang terjadi keributan.
Chateline dan Zaidan menerobos masuk ke ruangan Vionita.
Brak!!
"Astaga,, Nona Chataline tidak boleh masuk sembarang,," Merlin berusaha menghalangi dua perempuan itu tetapi dia yang sendirian melawan dua orang tidak bisa berbuat apa pun.
__ADS_1
Begitu Chataline dan Zaidan memasuki ruangan Vionita, Vionita yang sedang menangis langsung mengangkat wajahnya dan terkejut melihat kedatangan Chataline.
"Heh," Chataline tertawa sinis melihat ruangan Vionita yang berantakan dan perempuan yang sedang menangis di pelukan seorang pria.
Merlin menatap cemas pada Vionita "Nona Vionita, saya--"
"Keluarlah," kata Bian pada Merlin.
"Kak Bian,," Vionita meneteskan bulir air matanya dengan kegugupan menutupi seluruh tubuhnya.
Matilah dia sekarang!!!
Dia tidak mungkin bisa menghentikan Chataline yang sudah berada di sini! Perempuan itu pasti akan membocorkan semua kelakuannya dan Bian pasti akan marah besar padanya.
Vionita menggertakkan giginya ingin sekali dia berlari kearah Chataline dan mencabik-cabik perempuan itu, tetapi dia tidak mungkin melakukannya karena saat ini Bian ada di sana!
'Sial..!! Aku harus apa?!!' Vionita ketakutan menatap Bian dengan wajah penuh air mata.
Bian menghela nafas, Tentu saja dia tidak terima seseorang mencibir kekasihnya.
__ADS_1
Mengatakan kekasihnya sedang bersandiwara?!! Tahu apa perempuan itu?!!
"Maaf Nona Chataline, Tapi dapatkah anda menunggu di luar? Saat ini kami sedang--"
"Oh!! Sang kekasih yang polos dan tidak tahu apa pun ini ternyata sangat bisa diandalkan ya...! Hei,, Tuan Bian yang terhormat,, aku yakin kalau kau mengetahui apa yang telah dilakukan oleh kekasihmu itu,,, kau mungkin akan langsung memutuskan hubungan dengannya. Oh,, kecuali jika kalian berdua memang memiliki sifat yang sama-sama licik!" Ucap Chataline sambil tersenyum menyeringai menikmati wajah Vionita yang semakin pucat dari waktu ke waktu.
"Apa yang kau katakan?!!" Bian menjadi marah.
Perempuan itu menyebut mereka licik?!!
"Oh apa yang kukatakan?!! Coba tanyakan itu pada kekasihmu, dia pasti lebih tahu dari pada aku, bukan begitu Nona Vionita?!!!" Chataline tersenyum ke arah Vionita.
Saat ini dia bisa menebak bahwa perempuan itu sangat takut kalau apa yang sudah ia lakukan terbongkar di hadapan Bian.
Bisa ditebak dari wajah Vionita yang sangat ketakutan dan mengepal erat tangannya.
"Bian,, aku mau sendiri... Aku takut..." Tiba-tiba Isak Vionita sembari memeluk Bian dengan erat.
Menjadi lemah di depan Bian adalah satu-satunya cara agar Bian bisa mengusir catalina supaya perempuan itu tidak terus berbicara sembarangan.
__ADS_1
Chataline dan Zaidan "..."
Bawa piala Oskar kemari!!!!