Gadis Kecil Milik CEO

Gadis Kecil Milik CEO
#166. Dia cukup menggemaskan


__ADS_3

Jam pulang kantor di LC.


"Selamat tinggal semuanya,, Sampai jumpa besok pagi." Siren berpamitan sembari berlari kearah mobilnya.


Karena ini adalah hari pertama peluncuran brand mereka dan ternyata membawa kesan positif dan ulasan yang baik di internet, maka seluruh anggota tim desain merasa sangat senang.


Bukan hanya tim desain, tim yang lain pun semuanya meninggalkan kantor dengan wajah yang gembira.


"Nona Loren tinggal dimana?" Tiba-tiba saja Loren dikejutkan akan Mia yang datang dari belakangnya.


"Ahh, di apartemen xx," jawab Loren.


"Benarkah?? Kalau begitu perjalanan kita searah. Bagaimana kalau kita menaiki taksi yang sama supaya ongkos taksinya jadi lebih hemat?" Tanya Mia dengan senyum ramah menghiasi wajah perempuan itu.


Tentu saja Loren merasa aneh, Mia selalu bersikap judes padanya, bahkan tadi siang perempuan itu juga mengabaikannya, tapi mengapa sekarang malah berubah 180 derajat?


"Baiklah," jawab Loren yang tidak bisa mengelak.


Lagipula tidak ada salahnya kalau mereka pulang bersama.


"Ayo," kata Mia lalu kedua perempuan itu berjalan keluar dari gedung kantor dan menunggu taksi di pinggir jalan yang tak jauh dari kantor mereka.


"Bagaimana pekerjaanmu di tim produksi tadi siang?" Tanya Loren sementara mereka berdiri menunggu taksi.


"Ya,, berjalan lancar, kami sudah mengecek ke perusahaan yang bekerjasama dengan kita dan semuanya berjalan lancar." Jawab Mia.


"Baguslah, pengiriman akan mulai dilakukan," ucap Loren.


"Ya," jawab Mia dengan singkat, dia sebenarnya malas membangun pertemanan dengan Loren, tetapi dia harus melakukannya demi Vionita.

__ADS_1


"Taksi!!" Teriak Mia ketika melihat sebuah taksi kosong.


Taksi tersebut berhenti di depan mereka berdua lalu keduanya naik di kursi penumpang dan duduk bersampingan.


Mia menyebutkan alamat sang supir sementara Loren langsung mengambil ponselnya dan mengetik sebuah pesan singkat pada Christian.


*Tuan, saya naik taksi bersama teman saya ke apartemen. Sampai jumpa di apartemen,* ketiknya lalu mengirim pesan singkat itu pada nomor Christian.


Dari tempatnya, bisa melihat Loren mengetik tetapi dia tidak bisa membaca jelas pesan yang diketik oleh perempuan itu. Tetapi, dia bisa menebak bahwa Loren sedang menghubungi kekasihnya.


"Apakah itu kekasih Kak Loren?" Tanya Mia.


Loren mengangkat wajahnya dan tersenyum malu, "Ya," jawabnya.


"Wahh,,, senangnya punya kekasih, ada tempat yang selalu bisa ditempati untuk bercerita." Ucap Mia.


"Kau tidak punya kekasih?" Tanya Loren.


Loren langsung mengerutkan keningnya begitu mendengar ucapan Mia sebab dari sosial media Mia dia mendapat informasi bahwa perempuan itu memiliki seorang kekasih. Tapi mengapa sekarang???


"Begitu ya,," Loren tidak mau membahas lebih lanjut, lagipula itu bukan urusannya.


Keheningan melanda mereka selama perjalanan hingga taksi berhenti di depan apartemen Loren.


"Aku turun di sini, sampai jumpa besok pagi." Ucap Loren sembari membuka pintu mobil.


"Ya,, sampai jumpa!!" Seru Mia dari dalam mobil.


Loren menutup pintu mobil lalu memandangi kepergian mobil yang ditumpangi Mia.

__ADS_1


"Perempuan itu sangat aneh,," ucapnya berbalik memasuki gerbang apartemen.


Loren berjalan pelan-pelan hingga tiba di depan lift. Ia, menunggu beberapa saat sampai pintu lift terbuka lalu ia memasuki lift.


Ketika pintu lift akan tertutup sepenuhnya, tiba-tiba sebuah tangan menahan pintu lift mengagetkan Loren.


"Maaf," seorang pria dengan perawakan tinggi memasuki lift dan berdiri di samping Loren.


"Oh, kita tinggal di lantai yang sama." Ucap Pria itu tersenyum akrab ke arah Loren.


"Ya," jawab Loren dengan singkat lalu kembali menunduk melihat kedua kakinya.


Dia tidak suka bertemu dengan orang asing, bagaimana kalau orang asing itu berniat jahat padanya?


Sedangkan keluarganya saja menyakitinya, apalagi dengan orang asing yang tidak ia kenal?


'Dewa,, kumohon jaga aku,,' ucap Loren dalam hati.


Akhirnya Loren menahan diri di dalam lift, tangannya sedikit berkeringat dan dia merasa gugup hanya berduaan dengan seorang pria asing di satu ruangan kecil itu.


Ting!


Akhirnya suara lift meredakan Loren lalu dia segera keluar dari lift dan berlari ke arah apartemennya.


Sang pria yang melihat gelagat Loren yang aneh hanya berdiri di tempatnya menatap Loren yang buru-buru membuka pintu dan menghilang ke dalam apartemennya.


"Hah,, apakah aku semenakutkan itu? Tapi dia cukup menggemaskan." Ucap pria itu.


@Info

__ADS_1


Jangan lupa mampir di novel otor yang lain ya.....🐽



__ADS_2