Gadis Kecil Milik CEO

Gadis Kecil Milik CEO
#192. Mengunjungi apartemen Loren


__ADS_3

Akhirnya taksi yang ditumpangi Loren dan Mia berhenti juga, Loren dengan cepat membantu Mia keluar dari mobil lalu berjalan bersama ke arah gedung apartemennya.


'Astaga,, aku lupa menghubungi Christian karena terlalu fokus membantu Mia yang terus kesakitan,' Loren dengan cemas melangkahkan kakinya ke arah gedung apartemen nya.


"Kak Loren!!"


"Nona Loren!!" Tiba-tiba suara keempat perempuan berlari ke arah mereka.


Dua perempuan yang berjalan langsung melihat ke arah Rika, Megi, Siren dan juga Mentari yang berlari kecil ke arah mereka.


"Kalian,, ada apa di sini?" Tanya Loren semakin merasa cemas dengan kedatangan keempat perempuan itu.


"Uh,, kami mengikuti kalian berdua kemari karena kami penasaran dimana rumah Kak Loren. Tapi,, kenapa denganmu Mia?" Tanya Megi melihat Mia yang tampak pucat memegangi perutnya.


"Ah,, kami harus cepat masuk karena Mia tidak tahan lagi untuk menggunakan toilet, dia sakit perut." Ucap Loren saat kembali mengingat perempuan yang sedang ia pegang yg sedang menahan rasa sakit di perutnya.


Akan memalukan bagi Mia dan baginya juga jika perempuan itu tiba-tiba mencret di tengah jalan.


"Ah,, begitu, kalau begitu aku yang membantu Mia berjalan." Ucap Mentari langsung menggantikan posisi Loren yang sedang memegangi tangan Mia.

__ADS_1


"Ah,, aku tidak perlu di bantu berjalan,," kata Mia yang merasa kesal karena Loren kini tertinggal di belakang mereka sebab Mentari dengan cepat menariknya ke arah gedung.


"Tidak masalah,, bukankah kau ingin cepat-cepat sampai di apartemen Kak Loren?" Kata Mentari sembari tersenyum.


"Ah,, itu,," Loren merasa bingung harus berkata apa pada 3 perempuan yang masih tinggal bersamanya.


"Karena kita semua disini, bagaimana kalau kita singgah dulu di apartemen Kak Loren. Kak Loren tidak keberatan 'kan?" Tanya Siren.


"Ah,, ya,," jawab Loren yang tak punya pilihan lain.


Akhirnya semua perempuan itu bersama-sama di dalam lift menuju lantai 21.


"Wah,, Kak Loren tinggal di lantai 21. Itu sangat tinggi!" Ucap Rika memecah keheningan yang terjadi di dalam lift.


"Kau ini terlihat sangat kampungan, cukup sekali kita terlihat kampungan ketika kita pergi bersama--"


"Apa yang aku katakan?! Kapan kita terlihat kampungan?!!" Rika langsung menutup mulutnya dengan tangannya karena merasa kesal pada perempuan itu.


Haruskah membocorkan rahasia mereka saat pertemuan mereka dengan Cahtaline?

__ADS_1


Ting!


Akhirnya mereka tiba di lantai 21, Loren berjalan keluar lalu menuntun semua orang itu ke apartemennya.


Ia kemudian menekan bel apartemennya.


Ding dong!


Ding dong!


"Lho, kenapa menekan bel apartemen? Apakah di dalam ada orang?" Tanya Siren yang merasa heran karena dia tahu bahwa Loren hanya tinggal sendirian.


"Iya, Bukankah Kak Loren tinggal sendirian?" Tanya Megi.


"Ah,," Loren tersenyum kikuk," Aku memiliki kebiasaan seperti ini." Katanya kemudian menempelkan jari jempol nya pada pemindai sidik jari lalu terdengar bunyi BIP!


'Ya Tuhan,, Aku harap Tuan Christian sudah bersembunyi di tempat yang aman.' pikir Loren menelan air liurnya lalu mendorong pintu apartemen itu.


Dia sudah sengaja menekan bel apartemen supaya Cristian mungkin akan mengintip dari dalam dan melihat dia datang bersama beberapa perempuan agar Christian bisa bersembunyi.

__ADS_1


Tapi tidak ada yang bisa menjamin kalau mungkin pria itu tidak menyadarinya.


__ADS_2