
Karena begitu cemas akan istrinya, apalagi bahwa sudah dipastikan istrinya mengidap penyakit turunan dari ibunya, maka Christian tidak pernah lagi berangkat ke kantor untuk bekerja.
Semua pekerjaannya dilakukan oleh Ransi, dan bahkan beberapa meeting yang sangat mendesak dilaksanakan di kediaman Bhaltazar.
Sementara Loren, perempuan itu menjalani hari-harinya seperti biasa, masih sering mendesain dan juga kadang merecoki Christian yang sedang bekerja.
"Sayang!!" Suara Loren yang tiba-tiba membuka pintu ruang kerja Christian langsung membuat pria itu mendongak menatap istrinya dengan lembut.
"Ya sayang, Ada apa?" Tanya Christian menatap istrinya yang datang menemuinya dengan perut perempuan itu sudah agak membuncit dari dalam.
Loren langsung tersenyum lalu dia berjalan ke arah suaminya dan duduk di pangkuan suaminya.
Cup!
Sebuah ciuman lembut mendarat di bibir Christian membuat pria itu merasa sangat bahagia melihat istrinya, lalu dia mengeluarkan tangannya menyentuh rambut halus milik istrinya.
"Apakah pekerjaanmu masih banyak?" Tanya Loren sambil menatap suaminya dengan mata yang begitu halus dan lembut.
"Hm,, tidak terlalu banyak, Apakah kau membutuhkan sesuatu?" Tanya Christian sembari menyentuh pipi istrinya yang mana pipi itu sudah semakin membesar karena usia kehamilan Loren yang juga mempengaruhi kenaikan berat badan perempuan itu.
__ADS_1
"Aku sangat ingin meminum jus, tapi aku lupa di mana kemarin aku menaruh gula, bisakah kau mencarikan untukku?" Tanya Loren langsung diangguki oleh Christian lalu kedua orang itu segera turun ke dapur untuk mencari gula.
"Padahal aku menaruh gulanya di sini," ucap Loren sembari menunjuk sebuah lemari yang memang biasa ditempati menaruh gula.
Para pelayan yang ada di sana hanya bisa memejamkan mata mereka sembari tertunduk, karena mereka jelas-jelas melihat Loren telah memindahkan semua gula ke lemari paling ujung, tapi sekarang perempuan itu sudah lupa lagi.
"Hm,, Mungkinkah ada yang memindahkannya ke tempat lain?" Ucap Christian membuka semua lemari langsung membuat Loren mengerutkan keningnya, lalu dia menatap para pelayan.
"Apakah kalian?" Tanya Loren dengan nada suara yang tidak bersahabat langsung membuat pelayan menahan nafas mereka.
"Tidak Nyonya, kami tidak pernah menyentuh gula," ucapan pelayan langsung membuat Loren menghembuskan nafasnya dengan kasar lalu perempuan itu kembali menatap suaminya.
"Mungkinkah Gerson yang melakukannya? Pria itu selalu saja membuat ulah!!! Awas saja kalau dia pulang nanti, aku akan memarahinya!!" Kesal Loren sambil mendengus kesal menatap suaminya yang sedang membuka semua lemari.
"Ini sayang," ucap pria itu sembari mengulurkan satu tangannya menepuk-nepuk pelan kepala istrinya.
"Ah,, suamiku memang bisa diandalkan!!!" Ucap Loren segera berjalan ke meja lalu menuangkan gula itu ke dalam blender yang telah berisi buah.
"Kalau begitu aku akan kembali ke ruang kerjaku," ucap Christian melihat istrinya yang sedang menaikan-nekan tombol pada blender.
__ADS_1
"Baik!" Jawab Loren lalu perempuan itu melanjutkan acara membuat jusnya, sementara Christian kembali ke ruang kerjanya karena dia masih punya banyak sekali pekerjaan yang menumpuk.
Pria itu bekerja selama 2 jam lagi ketika suara pintu yang diketuk kembali bergema.
Tok tok tok....
"Masuk!" Ucap Christian sambil tersenyum melihat ke arah ipad-nya yang memperlihatkan CCTV di depan ruang kerjanya.
"Aku datang membawakanmu kopi," ucap Loren sambil melemparkan senyum ke arah suaminya lalu perempuan itu menaruh kopinya di atas meja.
"Terima kasih sayangku," kata Christian langsung mengambil kopinya dan meniupnya beberapa kali sebelum mencobanya.
Wajah pria itu langsung berubah ketika dia merasakan kopi itu begitu pahit.
"Bagaimana?" Tanya Loren yang mengharapkan pujian dari suaminya.
"Enak sekali, istriku sangat pandai membuat kopi," kata Christian lalu kembali menyeruput kopi yang ada di gelasnya sambil menahan rasa pahit dari kopi tersebut.
"Baguslah, padahal aku pikir kau akan berkata kalau kopi itu kemanisan, karena aku menambahkan dua sendok gula ke dalam," ucap Loren langsung membuat Christian tersenyum.
__ADS_1
'2 sendok gula atau 2 sendok kopi?' pikir Christian dalam hati sambil menarik Loren kepangkuannya dan memeluk perempuan itu dengan lembut.
'Aku harap istriku segera melahirkan agar masa-masa yang berat ini segera terlewati,' gumam pria itu sembari mencium pipi istrinya.