
Akhirnya sesuai dengan informasi yang didapatkan dari Andreas maka pada pagi hari sekali Loren sudah meninggalkan Mansion.
"Ini masih pukul 5 pagi." Kata Christian menarik Loren semakin erat diperlukannya karena udara pagi hari itu masih sangat dingin untuk memulai aktivitas di luar rumah.
"Jangan khawatir aku menggunakan pakaian yang hangat." Kata Loren menyentuh jaket hangat yang ia kenakan.
Christian pemandang jaket yang dikenakan oleh Loren, itu adalah jaket pemberiannya, dia mendapatkannya dari seorang desainer terkenal luar negeri.
Jaket itu hanya ada satu di dunia dan tidak dipublikasikan jadi Loren mungkin tidak tahu kalau jaket itu memiliki harga yang terlalu fantastis untuk dibahas.
"Kau yakin mau memakai jaket ini?" Tanya Christian.
"Kenapa? Apakah jaket ini terlalu mewah untuk saya kenakan di luar rumah?" Tanya Loren memperhatikan jaketnya.
"Ini buatan Desainer Jf," jawba Christian mengagetkan Loren hingga perempuan itu kembali memperhatikan jaket yang ia kenakan.
"Mana mungkin, saya selalu mengikuti Desainer jf dan dia tidak mengeluarkan seri seperti ini." Ucap Loren segera mencari label pada jaket yang ia kenakan.
Begitu melihat nama asli JF beserta tanda tangannya berada pada bagian dalam jaket itu Loren membuka mulutnya lebar-lebar dan menyentuhnya dengan haru.
"Pakai saja, tidak ada yang akan mengetahuinya." Ucap Christian.
"Jangan Katakan pada saya kalau Tuan memesan ini secara pribadi?" tanya Loren kirimi mengangkat wajahnya hingga wajahnya tepat berada di bawah dagu Christian.
"Hmm,, Sepertinya kau tidak memperhatikan seluruh pakaian di lemarimu." Ucap Christian membuat Loren mengerjapkan matanya.
Dia memang memiliki lemari penyimpanan yang cukup besar tapi dia hanya membuka beberapa lemari saja karena lemari yang lain diisi oleh pakaian-pakaian dari desainer terkenal.
Dan dia tidak mau menggunakan pakaian itu di depan banyak orang.
"Saya akan melihatnya nanti," ucap Loren kini kembali menunduk melihat pakaian yang ia kenakan.
'Tidak masalah menggunakan ini, lagipula tidak ada yang mengetahui kalau ini buatan desain Jf, selama mereka tidak melihat logonya tidak ada yang akan menyadarinya.' pikir Loren menganggukan kepalanya.
Akhirnya mobil yang mengantar Loren kini tiba di dekat kantor LC.
"Saya turun disini," kata Loren segera bergerak untuk turun dari pangkuan Christian tetapi pria itu menahan pinggangnya.
"Sebentar,," kata Christian memeluk erat Loren dan mendaratkan sebuah ciuman di bibir perempuan itu.
"Berjanjilah padaku makan siang nanti kita makan bersama di kantorku." Katanya, dia terlalu khawatir Kalau hari ini Loren akan bekerja dengan sangat sibuk.
"Baiklah, saya akan menghubungi Tuan di jam makan siang nanti." Ucap Loren.
__ADS_1
"Baiklah, hati-hati." Akhirnya Christian dengan enggan melepaskan Loren dan perempuan itu melompat dari mobil lalu berjalan di trotoar.
Dari dalam mobil Christian memperhatikan Loren yang melangkah dengan penuh semangat.
"Dia sangat menggemaskan, seandainya aku bisa mengikatnya di sisiku, Aku akan melakukannya. Sayang sekali dia punya mimpi yang besar untuk menjadi seorang designer." Ucap Christian yang tidak mau menghalangi Loren untuk mewujudkan mimpinya.
Dia benar-benar tidak tega untuk bersikap egois pada Loren, mana mungkin Loren akan bahagia kalau perempuan itu tidak menggapai mimpinya?
"Tuan, sekarang kita kemana?" Sang supir yang menyetir kini bertanya pada Christian.
"Kembali ke mansion." Ucap Christian mengejutkan sang supir.
Mengapa kembali ke mansion?
Sang supir bertanya-tanya dalam hatinya sebab dia tidak tahu bahwa sebenarnya Cristian belum siap untuk pergi ke kantor tetapi demi mengantar Loren dia rela berpura-pura berangkat ke kantor supaya perempuan itu tidak menolak saat dia mengantar nya.
Sementara Christian kembali ke mansion, maka Loren sudah memasuki gedung RC dia langsung naik ke lantai pameran dan melihat Rika dan Siren sudah menunggunya di sana.
"Ini semua pakaian yang akan kita bawa," ucap Siren.
"Kalau begitu ayo pergi." Ucap Loren lalu ketiga perempuan itu segera berangkat menggunakan mobil milik Elman yang mereka pinjam.
Lokasi syuting Chataline jauh dari pusat kota tetapi masih termasuk area pinggir kota jadi setelah menyetir dengan lancar selama 30 menit mereka akhirnya tiba dan melihat lokasi syuting perempuan itu terletak di tengah sawa yang luas.
"Astaga, jalan ini berlumpur sekali!!" Kesal Siren saat ia melihat sepatunya yang mahal kini terkena lumpur.
"Jangan pikirkan, pikirkan saja hasil dari perjuangan kita hari ini." Ucap Rika.
"Kau ini bagaimana sih? Mana mungkin aku tidak memikirkan sepatu mahal ku yang terkena lumpur seperti ini!!" Siren menggerutu dengan kesal, dia membeli sepatu itu dengan uang, bukan dengan daun!!!!
"Kalau kau tidak bisa sepatumu kotor, tinggal saja di mobil biar kami berdua yang pergi." Kata Loren ketika dia sudah hilang sabar melihat perempuan yang datang bersamanya terlalu ribet hanya karena urusan sepatu.
Ucapan Loren langsung mengejutkan Siren dan perempuan itu dengan cepat berkata "Tidak! Aku akan pergi."
Akhirnya ketiga perempuan itu berjalan di jalan setapak hingga mereka tiba di lokasi syuting Chataline.
"Halo," seorang kru yang bertugas menyapa Loren dan teman-temannya.
"Kami kemari untuk bertemu dengan Nona Chataline." Ucap Loren.
"Begitu ya,, tapi kalian datang terlalu pagi, dia baru akan tiba di sini pada pukul 9 pagi." Ucap pria bertubuh gemuk itu membuat 3 perempuan yang berbicara dengannya langsung terdiam.
"Kau bilang jam 9?!" Siren bertannya tak percaya.
__ADS_1
"Ya, Kak Chataline juga biasa datang terlambat jadi mungkin sekitar pukul 10 atau 11 pagi." Lagi kata pria bertubuh gemuk itu membuat 3 perempuan yang ada di depannya semakin merasa kesal.
"Loren, Kenapa kau tidak mengatakannya dari awal?" Rika langsung menggerutu pada Loren.
"Aku juga tidak tahu, Tuan Andreas hanya mengatakan padaku kalau kita harus datang pagi-pagi sekali." Jawab Loren menghela nafas.
"Tidak perlu cemas kalian bisa menunggu di sini. Kalian bisa duduk di situ." Kata pria bertubuh gemuk di depan mereka sembari menunjuk sebuah bangku kayu yang diletakkan di bawah pohon.
"Baik, terima kasih." Kata Loren berjalan ke bangku kayu itu sembari menahan gaun yang ia bawa supaya tidak terjatuh ke tanah.
Akhirnya ketiga perempuan itu duduk di bangku kayu sembari memikirkan kesialan mereka.
"Loren cobalah untuk menghubungi CEO dia mungkin bisa berbicara dengan Chataline Dan kita bisa pulang lebih cepat." Ucap Rika mantap Loren.
"Baiklah," jawab Loren lalu perempuan itu mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Andreas.
"Halo?" Andreas menjawab dari seberang telepon. Terdengar jelas bahwa pria itu baru saja bangun.
Karena suara ponsel Loren yang keras maka 2 perempuan yang ada di samping Loren bisa mendengarkan percakapan Loren dengan Andreas.
Dua perempuan itu langsung memperlihatkan wajah tersiksa mereka saat mendengar ceo-nya baru saja bangun sementara mereka sudah berada di lapangan mendapat sebuah kesialan di pagi hari!!
"Tuan, dapatkah Tuan memastikan kembali pertemuan kami dengan Chataline? Kami sudah berada di lokasi syuting yang Tuan berikan alamatnya, tetapi katanya Nona Chataline akan datang pada pukul 10 pagi dan itu pun belum pasti." Ucap Loren.
"Oh,, kalau begitu tunggu saja." Jawab Andreas lalu sambungan telepon itu langsung dimatikan.
"Apa?!!! Tunggu saja??!!" Siren berteriak dengan sangat keras dan merasa sangat kesal dengan jawaban Andreas.
"Ini baru pukul 6.30, haruskah kita menunggu berjam-jam lagi?" Rika juga merasa kesal.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kalian kembali ke kantor dan aku yang menangani masalah di sini?" Tanya Loren.
"Tidak!!" 2 perempuan itu serentak menjawab.
"Kami akan menunggu." Kata Rika.
Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan bertemu dengan Chataline.
"Kalau begitu kita menunggu saja." Ucap Loren lalu ketiga perempuan itu duduk dengan diam, tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.
@Info
2 bab lagi bagi sore ya... Otor lagi super sibuk.....!! Tapi kalo kalian butuh bacaan bisa mampir di novel otor yang lain. Bisa cek profil otorπππβ£οΈ
__ADS_1