Gadis Kecil Milik CEO

Gadis Kecil Milik CEO
#276. Saham yang hilang


__ADS_3

Karena sudah memutuskan maka akhirnya Loren dan Christian langsung pindah hotel saat sore hari menjelang malam.


Demi menghindari Chataline mengikuti mereka maka Christian memerintahkan kepada manajer agar menyebar berita bahwa dia masih tetap tinggal di hotel tersebut.


Ketika tiba di hotel yang baru, Loren memperhatikan hotel itu jauh lebih sederhana dari sebelumnya tetapi saat mereka memasuki kamar, Loren membelalakkan matanya melihat kamar tersebut jauh lebih luas dari sebelumnya.


Saking luasnya sampai Loren berpikir bahwa kamar Itu adalah sebuah rumah yang sangat luas.


"Bagaimana bisa ada kamar seperti ini di sebuah hotel?" Loren bertanya-tanya sembari melangkahkan kakinya melihat tempat itu.


Kamar tersebut terbagi menjadi beberapa ruangan bahkan di ruangan paling depan terdapat kolam renang dan taman kecil


Dari balkon dapat melihat pemandangan laut yang sangat indah, bahkan di sisi balkon yang lain mereka masih bisa melihat pemandangan perkotaan dengan gedung-gedung tinggi yang menjulang ke langit.


"Kamar ini dipersiapkan untuk kita, tetapi saat kita datang tempat ini belum diselesaikan makanya Kita menginap di hotel sebelumnya. Untunglah sekarang sudah selesai, apa kau suka?" Tanya Christian sembari memeluk Loren dari belakang sambil melihat pemandangan laut di depan mereka.


"Hmm,, ini sangat bagus!!" Seru Loren merasa kesenangan.


"Baguslah,," ucap Christian bahagia.


Mereka menikmati pemandangan laut selama beberapa menit lalu kembali masuk untuk bersiap makan malam.


Loren baru selesai mandi ketika ponselnya kembali berdering memperlihatkan nama pemanggil adalah Daniel.

__ADS_1


"Halo Kak," Loren menjawab telepon itu sembari berjalan ke arah Christian yang duduk di sofa.


Christian langsung menyambut perempuan itu dengan menarik Loren ke pangkuannya, tak lupa pula dengan gaya posesif nya Christian menempelkan telinganya di sebelah ponsel yang menempel pada telinga Loren.


"Kakek menyuruhku menghubungimu untuk memberitahu bahwa besok malam adalah hari pertemuan keluarga untuk membahas pernikahan Vionita dan Bian. Kalau kau tidak sibuk, datanglah ke rumah."Ucap Daniel dari seberang telepon membuat Loren mengerutkan keningnya.


Situasi keluarga Sinaga sedang tidak baik karena Yohana diusir dari rumah, tetapi keluarga Sinaga akan mengadakan pertemuan keluarga.


Mengapa begitu mendesak?


"Baiklah, akan kulihat besok jika aku tidak memiliki pekerjaan mendadak maka aku akan datang." Ucap Loren.


"Ok, tapi kalau bisa, kau datang sendiri saja, tidak perlu membawa kekasihmu, karena ini adalah pertemuan keluarga jadi sebisanya orang luar tak perlu datang." Kata Daniel langsung membuat Loren merasakan sebuah pelukan yang kencang di pinggangnya.


"Ya, aku akan melihatnya nanti." Jawab Loren lalu mereka mengakhiri panggilan telepon tersebut.


Setelahnya, Loren langsung melihat Christian, "Jangan marah,, kalau pun aku pergi, aku tidak akan pergi sendirian. Aku kan selalu membawa kekasihku," ucap Loren bersandar manja di dada Christian.


"Keluargamu itu,, tanganku sangat gatal untuk membangkrutkan mereka!" Ucap Christian kesal.


"Apa katamu?!! Membangkrutkan?" Loren mendengus.


Apa yang dimiliki keluarga Sinaga sekarang tak luput dari kerja keras orang tuanya yang memberikan bantuan besar untuk perusahaan keluarga Sinaga.

__ADS_1


Jika perusahaan itu bangkrut, maka kenang-kenangan orang tuanya juga akan lenyap.


"Kenapa?" Tanya Christian ketika melihat Loren tampak tidak senang dengan ucapannya.


"Hah,, di perusahaan itu, sebanyak 10% adalah saham ayahku secara murni. Kalau kau membangkrutkannya maka saham itu akan lenyap!!" Ucap Loren.


"Ayahmu punya saham di sana?" Tanya Christian mengerutkan keningnya sebab Dia sudah menyuruh Ransi memberinya informasi namun 1% pun tidak ada saham milik Ayah Loren di sana.


"Ya,, dulunya Ayahku tidak memiliki saham di sana, tetapi setelah kerja kerasnya dia akhirnya mendapat saham dari kakek sebab saat itu Ayah berjasa besar pada perusahaan." Ucap Loren.


"Begitu ya, Tapi beberapa waktu lalu aku menyuruh Ransi mencari informasi tapi ayahmu tidak terdaftar sebagai salah satu pemegang saham di sana," Ucap Christian mengejutkan Loren.


"Aoa?! Bagaiman bisa? Waktu SMA Ayahku selalu membicarakannya padaku bahwa dia memiliki 10% saham di perusahaan Sinaga. Ayahku tidak mungkin berbohong." Ucap Loren.


"Aku akan menyelidikinya lagi," ucap Christian.


Loren mengangguk dengan wajah yang tampak murung, Siapa lagi yang bisa melakukannya jika bukan anggota keluarganya sendiri?


'Mereka benar-benar keterlaluan!!' ucap Loren sangat kesal.


@Interaksi.


__ADS_1


Wah,, ini nyentrik banget nih,, coba perjelas pada otor, bagian mananya yang berputar gak jelas, nanti otor bantu hentikan pemutarannya biar gak pusing lagi!


__ADS_2