
Loren tertidur pulas di atas ranjang Rumah sakit dengan suaminya yang memeluknya dengan erat.
Tangan Christian memeluk perempuan itu sekaligus membelai perut Loren yang sudah sangat buncit karena hari persalinan untuk perempuan itu tinggal menghitung hari saja.
Tok tok tok...
Tiba-tiba suara ketukan pintu langsung membuat Christian melihat ke arah pintu lalu dia kembali melihat istrinya yang tertidur lelap lalu pria itu turun dari ranjang.
Clek!
Begitu pintu terbuka, didapatinya Gerson berdiri di depannya, dengan mentari yang berada di belakang pria itu sembari membawa banyak paper bag di kedua tangannya, dan satu buah kardus besar dipelukan perempuan itu.
"Masuklah," ucap Christian kembali masuk ke dalam kamar diikuti Gerson dan juga Mentari.
Begitu masuk, Mentari terkejut melihat Loren terbaring di atas kasur, tetapi dia tidak terlalu memperhatikannya karena dia lebih fokus pada beban berat yang ada di tangannya.
Ketika perempuan itu hendak meletakkan bawa barang bawaannya di lantai, Gerson langsung berkata, "taruh barang-barang itu di atas meja di sana!"
__ADS_1
Mentari langsung melihat sebuah meja yang diletakkan di sudut ruangan lalu perempuan itu pergi ke sana meletakkan semua barang-barangnya.
Perempuan itu lalu menghela nafas sembari duduk di salah satu kursi kosong dengan keringat memenuhi keningnya dan nafas tersengal.
Gerson memperhatikan Mentari lalu pria itu mengukir sebuah senyum tipis di wajahnya dan duduk di sofa sambil melihat ke Christian yang sedang mengecek keadaan Loren.
"Kakak ipar, aku membawakan semua barang yang kau inginkan. Aku juga sudah menghubungi ayah dan ibuku, dan mereka akan tiba nanti malam." Ucap Gerson langsung membuat Christian mengangguk puas.
Sementara Mentari yang duduk di kursi, perempuan itu memperhatikan Loren yang tertidur pulas diranjang.
'Kenapa Nyonya Bhaltazar berada di rumah sakit? Mungkinkah terjadi sesuatu pada kehamilannya?' Mentari menjadi cemas dalam hatinya dengan tatapan perempuan itu terus terpaku pada Loren.
"Temani aku keluar sebentar!" Perintah pria itu langsung membuat Mentari menatap Gerson sembari menahan amarah dalam hatinya.
Namun namun begitu, Mentari tetap melemparkan senyum paksaannya pada Gerson sembari berkata, "baik."
Gerson bisa mengetahui bahwa perempuan itu terpaksa mau menemaninya karena dia adalah seorang CEO, namun dia sama sekali tidak keberatan Dan hanya melangkah pergi.
__ADS_1
Mentari langsung berdiri mengikuti Gerson sembari melirik sebentar ke arah ranjang, 'Aku harap Loren baik-baik saja.' pikir perempuan itu dalam hati sembari menghela nafas.
Gerson hendak meraih handle pintu ketika dia terkejut saat Loren tiba-tiba mengeluh kesakitan.
"Nggg!!!!! Ahhh!!" Keluh Loren langsung terbangun dari tidurnya begitu dia merasakan kontraksi pada perutnya.
"Say,, Nona,,," ucap Christian dengan cemas sembari mendekati istrinya, pria itu kebingungan harus melakukan apa.
Bagaimanapun, dokter mengatakan bahwa kontraksi adalah hal yang wajar karena sang bayi sedang berusaha mencari jalan untuk lahir ke dunia.
Tapi pria itu tetap saja cemas melihat istrinya yang menahan rasa sakitnya, "Nona, katakan padaku Apa yang harus kulakukan supaya membuatmu merasa nyaman?" Tanya Christian sembari mengusap rambut Loren.
"Nggg!!! Tidak,, saya baik-baik saja." Ucap Loren yang keningnya kini dipenuhi keringat karena perempuan itu berusaha menahan rasa sakitnya.
Mentari dan Gerson yang melihat hal itu kebingungan di tempat mereka karena mereka tidak tahu harus melakukan apa.
Bahkan Mentari menelan air liurnya melihat orang yang kesakitan tapi Tuan Bhaltazar yang adalah orang berkuasa tak mampu melakukan apapun untuk membantu istrinya.
__ADS_1
'Astaga,,, Bagaimana bisa Loren menahan rasa sakit seperti itu sementara suaminya tidak bisa melakukan apapun? Apakah seperti ini perjuangan seorang ibu untuk melahirkan?' pikir Mentari dalam hati dipenuhi rasa cemas karena tidak tahu harus melakukan apa.
'Tapi tunggu,, Mengapa tadi Tuan Christian Bhaltazar memanggil Loren dengan sebutan Nona? Nona? Apa maksudnya?' pikir Mentari merasa begitu aneh.