Gadis Kecil Milik CEO

Gadis Kecil Milik CEO
s2.131. Yoga ibu hamil


__ADS_3

Keesokan harinya, Loren dan Christian hendak keluar rumah ketika mereka bertemu Marissa di depan kediaman mereka.


"Kak Marisa?" Ucap Loren menyapa Marisa yang sedang membawa kotak bekal di tangannya.


"Ah,, Loren," jawab Marisa sembari tersenyum mendekati Loren.


"Kak Marisa mau ke mana?" Tanya Loren yang merasa aneh bahwa perempuan itu seharusnya berberes-beres karena akan pergi ke luar negeri, tapi sekarang malah ingin keluar rumah.


"Ah,, ya, aku dan suamiku sudah memutuskan untuk berangkat nanti malam ke luar negeri, tapi sekarang Andreas harus mengurusi beberapa masalah perusahaan dulu. Jadi aku kesana untuk membawakannya makan siang, karena dia pasti tidak sempat mengurus makan siangnya." Ucap Marissa yang tidak mau membiarkan suaminya kelaparan karena terlalu banyak urusan di kantor.


Hal itu membuat Loren menganggukkan kepalanya, lalu dia berkata, "kalau begitu, perginya berbarengan saja dengan kami, kebetulan sekali kita searah."


Marisa hendak mengganggukan kepalanya, karena dia senang berada di dekat Loren, tetapi melihat Christian yang memberinya kode bahwa pria itu hanya ingin berduaan saja dengan istrinya, maka Marisa langsung tersenyum pada Loren.


"Aku minta maaf, tapi aku hendak singgah ke suatu tempat membeli sesuatu. Jadi aku tidak ingin merepotkan kalian. Lagi pula sudah ada sopir yang akan mengantarku." Ucap Marissa membuat Loren menganggukan kepalanya.

__ADS_1


"Kalau begitu Kak Marisa hati-hati di jalan," ucap Loren sembari melemparkan senyumnya pada Marissa.


"Iya, Kalian juga hati-hati," kata Marisa selalu ketiga orang itu kemudian berpisah memasuki mobil mereka masing-masing.


Di dalam mobil, Christian dengan begitu posesif mendudukkan Loren di pangkuannya, agar dia bisa lebih memperhatikan perempuan itu sepanjang perjalanan.


Sebentar Loren, dia menyandarkan tubuhnya ke tubuh suaminya, menikmati penjagaan dari suaminya.


Setelah perjalanan sekitar 30 menit akhirnya mereka bertemu dengan seorang instruktur yoga yang akan memandu mereka.


"Olahraga ini meskipun dikatakan untuk ibu hamil, namun sang ayah juga harus tetap ikut karena interaksi antara ibu hamil sang ayah dan juga bayinya, adalah hal yang penting untuk pertumbuhan dan perkembangan bayinya." Kata Sang instruktur menjelaskan, lalu perempuan itu kemudian memutar musik yang akan mengiringi olahraga mereka hari itu.


Setelah musiknya diputar, maka sang instruktur mulai memandu Loren dan Christian.


Gerakan-gerakan yang diberikan adalah gerakan-gerakan ringan untuk seorang pemula, jadi Loren dan Christian tidak sulit untuk mengikutinya.

__ADS_1


Oleh sebab itu, Loren dan Christian menikmati gerakan-gerakan yang diinstruksikan oleh instruktur.


"Sayang,, Bukankah bagus kalau setiap hari kita melakukan yoga seperti ini?" Ucap Loren yang sedang mengatur pernafasannya dengan Christian yang membantu perempuan itu menopang tubuhnya.


"Hmm,, jangan banyak berbicara, fokus saja pada gerakannya," ucap Christian yang takut jika istrinya jadi kelelahan karena berbicara sambil bergerak.


"Baiklah,," jawab Loren sambil tersenyum melihat ke instruktur yoga yang kemudian memperlihatkan gerakan yang lain.


"Sekarang kita masuk ke dalam pendinginan, kalian boleh duduk seperti ini," ucapin instruktur memperlihatkan cara duduk yang benar lalu berkata, "tarik nafas dalam-dalam dan hembuskan perlahan. Pejamkan mata dan fokuskan pikiran membayangkan hal-hal baik yang pernah kalian alami."


Loren dan Christian mengikuti sang instruktur lalu keduanya sama-sama membayangkan hari pernikahan mereka yang bahagia, hingga hari-hari yang mereka berdua lalui dengan bahagia.


Keduanya sampai tidak sadar Ketika sang instruktur sudah memberi instruksi untuk membuka mata, mereka berdua terus memejamkan mata membuat instruktur yoga tersenyum dengan kekompakan suami istri itu.


'Ternyata cerita tentang Tuan Christian Bhaltazar yang kaku dan kejam adalah sebuah cerita yang salah. Jelas-jelas pria ini sangat menyayangi istrinya, dan bahkan sangat tenang dan sabar menjaga istrinya,' pikir sang instruktur yoga sembari diam di tempatnya, tidak mau mengganggu dua orang yang sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2