
Mobil yang ditumpangi Christian melaju di jalanan dengan kecepatan tinggi sampai mereka tiba-tiba berhenti saat di depan terjadi sebuah kemacetan yang cukup panjang.
Sang supir yang mengemudi kini semakin berkeringat di tempatnya, mampus lah dia!!!
"Saya akan memeriksanya sebentar." Ucap sang supir dengan segera membuka pintu mobil lalu keluar meninggalkan mobil.
Pria itu memeriksa dan bertanya pada beberapa polisi yang bertugas lalu kembali ke dalam mobil.
"Maaf tuan, di depan terjadi sebuah kecelakaan lalu lintas jadi kita harus menunggu." Ucap sang supir dengan suara gemetaran sebab dia terlalu takut.
Christian tidak mengatakan apapun pria itu hanya diam di dalam mobil sembari menatap keluar jendela.
Hal itu semakin membuat suasana di dalam mobil menjadi semakin mencekam hingga 2 pria yang duduk di depan semakin gugup di tempat mereka.
Akan lebih baik kalau orang yang marah berbicara dengan kata-kata kasar daripada tetap diam.
Cukup lama mereka menunggu sampai akhirnya mobil di depan perlahan bergerak lalu kemacetan yang cukup panjang itu terurai secara perlahan.
Kendaraan berjalan lancar lalu mereka tiba apartemen Loren.
Ransi dengan cepat membukakan pintu untuk Christian lalu pria itu meninggalkan mobil mereka.
'Aku harap mereka berdua tidak bertengkar,' pikir Ransi yang takut bila kedua orang itu bertengkar maka dialah yang akan kerepotan menghadapi suasana hati Christian yang memburuk.
"Tuan, maafkan saya." Sang supir langsung meminta maaf ketika Ransi kembali masuk ke mobil.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa kau bisa mengantar Nona Loren kemari dan mengantar Tuan Christian ke tempat lain?!" Tanya Ransi dengan kesal.
Dua orang itu adalah 1 paket!
Tidak mungkin berpisah!
"Maafkan saya Tuan," kata Sang sopir tidak berani membantah pada Ransi.
Kalau dia mengatakan bahwa 2 orang itulah yang telah menyetujuinya maka bisa-bisa dia akan semakin dimarahi sebab dianggap menyalakan atasannya.
"Lain kali, pikir dulu sebelum bertindak!" Geram Ransi menghela nafas.
"Baik Tuan, tapi saya tidak dipecat 'kan" Sang supir begitu gugup.
"Bukan keputusanku!" Jawab Ransi mendiamkan sang supir dalam kegelisahannya.
Sementara 2 orang itu tinggal di mobil dalam perasaan gelisah maka di apartemen Loren, Cristian sudah membuka pintu dan memasuki ruangan berwarna biru putih itu.
Christian langsung melangkah kearah lantai dua menuju kamar dan mendapati seorang perempuan sedang tertidur di balik selimut.
__ADS_1
Perempuan itu tertidur membelakanginya dan tubuhnya sedikit gemetar menandakan bahwa perempuan itu sedang menangis.
'Kenapa dengannya?' perasaan Christian tiba-tiba menjadi kalut lalu dia berjalan ke arah tempat tidur.
Christian duduk dipinggir tempat tidur dan mengulurkan tangannya menyentuh rambut Loren hingga membuat perempuan yang sedang menangis gemetaran itu langsung menegang.
"Siapa kau!!" Ucapnya segera berbalik karena dia terlalu takut kalau kalau ada orang jahat yang tiba-tiba menghampirinya.
Namun ketika dia melihat orang yang sedang menyentuhnya adalah Christian, Loren langsung terpaku di tempatnya lalu beberapa detik kemudian perempuan itu menghapus air matanya.
Melihat keadaan orang yang sangat berantakan, Christian segera menarik perempuan itu ke pangkuannya dan memeluknya dengan erat.
"Apa yang terjadi?!" Tanyanya dengan perasaan kuatir.
Loren bahkan bisa merasakan aura kemarahan bercampur kecemasan pada pria itu.
Loren tak berani memandang Christian jadi perempuan itu hanya tertunduk sembari mengepal tangannya.
"Katakan,, Siapa yang sudah menyakitimu? Kenapa kau menangis??" Tanya Christian memegang dagu Loren dan memaksa perempuan itu menatapnya.
Baru saja tatapan mereka bertemu ketika dari sudut matanya Loren kembali menjatuhkan bulir air mata.
Hal itu membuat Christian semakin marah dan panik.
"Tuan jahat!!" Tiba-tiba isak Loren sembari menyembunyikan wajahnya di dada pria itu dan tangan kanannya memukul dada Christian.
Dia tidak mengerti, apa yang menjadi salahnya hingga perempuan itu kini mengatakan bahwa dia telah berbuat jahat.
Namun melihat Loren yang menangis gemetaran, dia tidak mengatakan apapun dan hanya menerima pukulan bertubi-tubi dari Loren sembari menunggu perempuan itu selesai meluapkan amarahnya.
Cukup lama menangis dalam pelukan Christian, akhirnya Loren bisa bernafas lega setelah meluapkan kemarahannya.
"Sudah baikan?" Tanya Christian saat perempuan itu sudah tidak terisak dan tangan perempuan itu ber sudah berhenti memukul dadanya.
Christian meraih tangan Loren dan memperhatikan tangan putih itu sebab dia takut kalau tangan Loren telah lecet karena memukulnya.
Begitu melihat tangan Loren, Christian langsung mengerutkan keningnya lalu pria itu berdiri dengan Loren di gendongannya.
Tangan Loren sedikit memerah karena memukul dadanya.
Pria itu segera berjalan kearah kamar mandi dan mengambil handuk kecil lalu membasahinya dengan air dingin kemudian menempelkannya ke tangan Loren yang kemerahan.
Loren terkejut "Apa yang Tuan. Lakukan?" Tanyanya dengan suara serak.
"Tanganmu terluka," ucap Christian memperhatikan perempuan yang kini memandangi tangannya yang terbungkus handuk.
__ADS_1
"Tanganku terluka?" Loren bertanya dengan suara seraknya.
"Ya,," jawab Christian membuka handuk di tangan Loren hingga menampakkan kulit Loren yang sedikit memerah.
Loren terpaku memandangi kulitnya yang hanya lecet sedikit namun mampu membuat Christian begitu panik.
Hal itu membuat perasaan Loren menjadi semakin kalut hingga ia mengulurkan tangannya dan kembali memeluk Christian sembari terisak.
Bagaimana mungkin pria seperti itu tega menghianatinya?
Hanya luka lecet sedikit saja sudah membuatnya panik jadi mana mungkin Christian tega membuatnya bersedih?
"Ada apa?" Mengapa tidak bercerita?" Tanya Christian dengan sabar.
"Ini memalukan! Saya cemburu buta!" Ucap Loren mengagetkan Christian.
"Cemburu?" Tanya Christian kebingungan.
Loren menatap Christian "Ya!! Itu semua karena Tuan sudah menemui Nona Chataline! Tuan bahkan menyuruh Nona Chataline mencari panggilan yang akrab untuk kalian berdua.
"Tuan juga pernah bilang kalau Tuan tidak pernah mengenal perempuan lain selain saya, tapi mengapa Tuan mengatakan kalau Tuan mengenal Chataline?! Mengapa juga Tuan menghindari saya di mobil?!" Tanya Loren dengan air mata terus berderai di pipinya.
Setengah hari dia berada dalam kekuatannya, tapi kemudian Christian datang menemuinya dan melakukan hal-hal yang membuatnya tak mampu berlama-lama merajuk pada pria itu.
Dialah yang memukul Christian hingga tangannya memerah tapi pria itu malah mengobati tangannya.
Jadi,, mana mungkin dia bisa tahan?!!
"Jadi kau menangis karena hal itu?" Christian kini tersenyum bertanya pada Loren.
Wanitanya sungguh manis!!
"Tuan tersenyum?! Bukannya menjawab malah--" ucapan Loren terhenti ketika Christian dengan gemas menundukkan kepalanya dan membungkam bibir perempuan itu.
Sangat menyebalkan!!
Dia pikir perempuan itu sudah disakiti oleh seseorang, ternyata perempuan didepannya ini hanya salah paham!!
Salah pahamnya sangat menggemaskan!!
@Interaksi
Makanya bukan kau yang jadi pemeran utamanya,, sebab sombongmu tidak ketulungan🤭🤭🤭
__ADS_1