
"Tapi,,, dia,,, hiks,, hiks,,, dia berpura-pura tidak mengenaliku ketika aku berjumpa dengannya." Isak Vionita dalam pelukan Bian.
Mendengar ucapan Vionita, Bian menghela nafas mengusap pelan punggung perempuan itu.
Tempat itu tidak layak bagi mereka untuk membicarakan urusan pribadi karena ada banyak orang yang lalu-lalang di sekitar mereka, jadi dia tidak terlalu mendesak Vionita.
Namun mengetahui perempuan yang kemarin mereka lihat ternyata adalah Loren, dia merasakan sesuatu yang aneh di hatinya.
"Baiklah,, kita bicarakan masalah ini nanti di rumah, sekarang Jangan menangis Lagi." Ucap Bian.
"Aku mengerti, aku hanya merasa sangat sedih karena dia berpura-pura tidak mengenaliku. Bahkan sampai sekarang dia masih tidak mau berbicara denganku, dia terus menghindariku." Ucap Vionita yang kini wajahnya tampak membaik dari waktu ke waktu sembari perempuan itu mengusap air matanya.
"Baiklah,, kita bicarakan lagi nanti." Kata Bian menepuk-nepuk pelan punggung Vionita lalu pria itu menoleh pada Chataline yang sedari tadi memperhatikan mereka.
"Nona Chataline, sepertinya kami harus pergi lebih awal." Ucap Bian.
"Ah,, ya,, tidak masalah, lagipula Nona Vionita berada dalam suasana hati yang tidak baik, Sepertinya dia terlalu takut pada Loren,, atau mungkin dia punya masalah dengan Loren yang belum terselesaikan." Ucap Cahtaline sambil tersenyum ke arah Vionita.
__ADS_1
"Ya,, kalau begitu kami pergi dulu," ucap Bian membantu Vionita berdiri lalu 2 orang itu pergi meninggalkan studio.
'Hah,, Vionita ini benar-benar pandai bersandiwara. Aku jadi semakin penasaran kenapa dia menyembunyikan nama Loren dari Bian dan terlebih perempuan itu memiliki dendam yang sangat dalam pada Loren hingga berniat menghancurkan karirnya.' Ucap Chataline dalam hati sembari menyipitkan matanya.
"Kak Chataline, apa yang terjadi?" Tiba-tiba Zaidan menghampiri Chataline yang sangat penasaran karena sedari tadi dia dan semua orang sudah menonton pertunjukan tersebut.
Vionita menangis di pelukan Bian sementara Chataline terlihat seperti orang yang sedang menindas Vionita.
"Apa?" Cahtaline menjawab dengan singkat sebab dia malas menjelaskannya pada Zaidan.
"Uh,, kau harus mengatakannya padaku karena semua orang sedang berpikir bahwa kau baru saja menindas kekasih Tuan Bian," ucap Zaidan.
"Hah,, aku hanya menanyakan perihal masalah plagiat itu, lalu dia menangis," jawab Cahtaline sembari berdiri untuk kembali ke ruang ganti.
"Apa plagiat,, plagiat yang mana?" Zaidan dan bertanya dengan suara keras supaya semua orang mendengarnya.
"Tentu saja kasus plagiat yang menimpa LC!! Tidak ada lagi yang lainnya." Jawab Chataline dengan suara ketus.
__ADS_1
"Ah,,,, begitu, ku pikir masalah apa,,, sepertinya Nona Vionita hanya terlalu emosional saat membahasnya." Ucap Zaidan sembari melirik semua orang yang berada di dekat mereka.
Jangan sampai sebuah rumor buruk muncul lagi, apalagi kalau orang-orang itu mengira bahwa Chataline sedang berusaha menggoda Bian di depan Vionita hingga membuat perempuan itu menangis!!!
Tidak!!! Chataline sudah dilirik oleh Christian, jadi dia harus mencegah rumor seperti itu agar Christian tidak salap pikir tentang Chataline...!!!
Sementara Vionita dan Dian yang sudah memasuki mobil, dua orang itu duduk di mobil dalam keheningan mereka.
'Jadi Loren benar-benar berada di negara ini dan sekarang menjadi seorang desainer? Tapi mengapa dia melakukan plagiat pada karya Vionita?' Bian bertanya-tanya dalam hati, tetapi dia merasa belum pantas untuk menanyakan perihal itu pada Vionita sebab saat ini Vionita masih dalam suasana hati yang buruk.
"Kak Bian,," tiba-tiba suara serak Vionita menarik Bian dari lamunannya.
"Hm,, ada apa?" Tanya Bian menatap wanita yang juga menatapnya dengan wajah sembab karena baru saja menangis.
"Loren,, Apakah Kak Bian berniat untuk menemuinya?" Tanya Vionita dengan cemas.
Kalau keduanya bertemu, maka bisa jadi Loren mengatakan hal yang tidak-tidak lalu Bian mungkin akan meninggalkannya setelah mengetahui segalanya.
__ADS_1
Vionita begitu cemas memikirkannya.