
Loren menutup telepon dari Bian lalu perempuan itu melihat kearah anggota tim desain yang sangat bersemangat bekerja.
Dia melengkungkan bibirnya lalu berkata, "Sebentar lagi seorang disainer baru yang menggantikan Mia akan datang. Aku harap kalian bisa bekerja sama." Ucapnya.
Mendengar ucapan Loren, semua orang langsung mengangkat wajahnya menatap Loren.
"Desainer baru? Siapa?" Tanya Mentari dengan wajah penasarannya.
"Kalian akan tahu nanti, tolong menyambutnya dengan baik karena dia akan menjadi satu tim dengan kita. Aku ada urusan keluar jadi aku harus pergi sekarang." Ucap Loren mengambil tasnya, bersiap untuk meninggalkan ruangan tim desain.
"Kami pasti akan menyambut anggota kita yang baru," semua orang bersemangat.
Setelah Mia si perusuh itu pergi, mereka semua berharap orang yang datang adalah orang yang bisa bekerjasama dengan mereka agar tidak ada lagi masalah di tim desain.
"Kalau begitua ku pergi dulu," ucap Loren.
"Hati-hati di jalan."
Loren tersenyum pada semua anggota tim desain yang melihat ke arahnya lalu perempuan itu meninggalkan kantor LC.
__ADS_1
Menaiki mobil yang mengantarnya ke rumah sakit, Loren duduk memandang keluar jendela.
'Ini kesempatan terakhir untuk Vionita, Jika dia mengakui tentang seluruh perbuatan jahatnya maka aku akan memaafkannya. Tapi jika tidak,,, sepertinya aku harus kembali ke negara D membuat perhitungan terakhir dengannya.' pikir Loren dalam hati.
Kemarin setelah makan malam romantis nya dengan Christian, mereka masih berbincang-bincang di kamar dan mendengar dari Christian bahwa Vionita tidak dapat dipenjara sebab perempuan itu bukan warga negara setempat.
Hal itu membuat Loren merasa sangat kecewa, tetapi mengingat bahwa perempuan itu sudah tidak bisa lagi menggunakan seluruh karyanya untuk berkarir, maka dia cukup merasa lega.
"Nona, ada kemacetan di depan jadi akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk sampai di rumah sakit." Tiba-tiba kata Sang sopir membuat Loren melihat keluar jendela.
"Begitu ya,, kalau begitu saya turun di sini saja, lagipula rumah sakit sudah cukup dekat. Aku akan menghubungimu nanti saat urusanku sudah selesai," kata Loren pada sang sopir sembari membuka pintu mobil.
Setelah turun dari mobil, Loren berjalan ke depan dan melihat kecelakaan yang cukup mengerikan hingga membuat kemacetan yang cukup panjang.
Loren menghela nafas mengepal kan tangannya lalu berjalan di samping sembari tertunduk. .
Setelah tiba di lobby rumah sakit, perempuan itu menaiki lift dan mencari kamar Vionita yang sudah diberitahukan Bian padanya.
Tok tok tok....
__ADS_1
Loren mengetuk pintu kamar Vionita.
"Masuk," sebuah suara dari dalam kamar yang dikenali Loren sebagai suara Bian.
Dia menghela nafas lalu mendorong pintu tersebut, ia melihat Bian dan Vionita duduk di ranjang di mana yang sedang menyuapi Vionita yang tampak berantakan. .
Meski wajah perempuan itu sudah dibasuh dan rambutnya sudah dicuci, tetapi bekas luka cakaran di tubuh Perempuan itu terlihat memperburuk keadaan Vionita.
"Loren,," Vionita langsung memulai sandiwaranya saat melihat Loren memasuki kamarnya.
"Jangan menangis,," Bian langsung mengulurkan tangannya menyeka air mata yang bercucuran di pipi Vionita.
Tentu saja Vionita tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dia langsung memegang tangan Bian untuk memperlihatkan pada Loren bahwa apapun yang terjadi Bian akan tetap memilih dirinya.
Tetapi Loren, perempuan itu menghela nafas lalu duduk di kursi yang diletakkan di dekat tempat tidur, 'Baru kemarin mengatakan memulai hubungan baru dengan ku dan sekarang sudah bersama Vionita lagi. Dasar pria yang tidak bisa dipercaya!!' pikir Loren merasa prihatin pada Vionita.
"Maaf karena aku datang tidak membawa apa pun." Ucap Loren duduk dengan wajah datar.
Dia sama sekali tidak merasa kasihan pada Vionita, perempuan itu memang pantas mendapatkannya!
__ADS_1