
Duduk sendirian di dalam ruang istirahat, Bian terus terngiang-ngiang akan ucapan Loren yang menyuruhnya menyelidiki ulang segala sesuatunya.
Pria itu tidak mau mempercayai apa yang baru saja dikatakan oleh Fajar, tetapi bukti yang ia lihat menunjukkan bahwa Vionita memang sudah mengarang cerita.
"Pasti ada kesalahpahaman disini, sebaiknya aku temui Loren," ucap Bian lalu pria itu keluar dari ruang istirahat mendapati Fajar masih berdiri di ruangannya.
"Kau masih di sini?!!" Dia memandang kesal pada pria itu.
Mendengar suara Bian yang dipenuhi kekecewaan, Fajar langsung berlutut di depan lantai.
"Tuan,, saya minta maaf," ucapnya.
Bian menggertakan giginya menatap pria itu, "Apakah masih ada hal lain yang kau sembunyikan dariku?!" Tanyanya.
"Tidak ada lagi Tuan,, selain masalah nona Vionita, maka yang lainnya saya laporkan sesuai dengan fakta yang ada." Ucap Fajar.
Bian tidak mengatakan apapun pada Fajar, pria itu hanya berlalu meninggalkan Fajar yang masih terus berlutut di lantai.
Yang paling penting sekarang adalah menemui Loren dan meminta maaf pada perempuan itu karena dia telah salah menuduh.
Akhirnya setelah berkendara beberapa menit, Bian akhirnya tiba di kantor LC. .
__ADS_1
Pria itu langsung naik ke lantai 10 berjalan ke meja resepsionis.
"Saya ingin membuat janji temu dengan mana Loren, Kalau bisa tolong sekarang sampaikan padanya sekarang bahwa ada hal penting yang ingin saya bicarakan." Ucap Bian.
"Ah,, Maaf sekali Tuan, tetapi Nona Loren baru saja keluar. Sepertinya akan kembali dalam beberapa jam lagi, jadi--"
"Tidak masalah, saya akan menunggu di sini." Ucap Bian lalu pria itu berjalan ke arah ruang tunggu dan duduk sendirian di sana. .
'Apakah ini pilihan yang tepat? Ataukah harusnya aku pergi menemui Vionita dan menanyakannya lagi padanya? Benarkah alasan Vionita melakukan semua ini karena dia ingin menarik perhatian Loren?' Bian kembali teringat Bagaimana Loren memang tidak mau bertemu dengan mereka.
Alasan Loren melakukannya karena dia berpikir bahwa Vionita lah yang sudah menjebaknya dan membuangnya di luar negeri.
'Tidak ada bukti bahwa Vionita membuang Loren ke luar negeri. Mungkinkah Loren sudah salah paham di titik ini?' Bian memejamkan matanya dan terus memikirkan masalah tersebut.
Tetapi hari itu hanya ada Rika dan Megi di sana, jadi dia segera membuka grup chat lalu mengetikkan informasi yang ia ketahui ke dalam grup.
Ting!
Ponsel Loren yang diletakkan di atas meja mengeluarkan bunyi berdenting saat pesan grup tersebut masuk ke ponselnya.
"Baik, saya menantikan kerjasama Kita." Ucap Loren bersalaman dengan seorang perempuan yang baru saja mendiskusikan desain yang akan dipesan perempuan itu di perusahaan mereka.
__ADS_1
"Ya, Saya akan menghubungi Nona Loren ketika perusahaan kami telah setuju." Ucap perempuan yang menjadi lawan bicara Loren lalu perempuan itu mengambil tasnya dan meninggalkan Loren.
Loren mengambil ponselnya dan melihat pesan di grup desain mereka.
*Tuan Bian ada di kantor LC sepertinya sedang menunggu seseorang!! Jangan-jangan dia menunggu Kak Loren???* Tulis Siren.
Membaca pesan itu, Loren mengerutkan keningnya lalu mematikan ponselnya dan meninggalkan restoran.
Karena jam makan siang sebentar lagi, maka Loren segera berlalu ke kantor Christian.
"Tuan,,," Loren tersenyum kearah Christian saat perempuan itu memasuki ruangan Christian dan melihat kekasihnya masih sibuk dengan berkasnya.
"Tunggu sebentar," ucap Christian yang sedang memeriksa berkas penting yang mendadak.
Akhirnya Loren duduk di sofa menunggu Christian selesai bekerja, tetapi baru beberapa menit dia duduk ketika ponselnya berdering memperlihatkan sebuah nomor baru yang menelponnya.
"Halo," Loren mengangkat panggilan itu karena pikirnya panggilan itu adalah panggilan yang penting.
"Loren," suara Bian dari seberang telepon membuat Loren tertegun.
Mengapa pria itu menelponnya lagi? Apakah pria itu itu ingin kembali membela Vionita di depannya?
__ADS_1
Sangat memuakkan!!