
Setelah mengurus beberapa hal, akhirnya Loren dipindahkan ke ruang inap yang merupakan ruangan VIP di rumah sakit itu.
"Tu,, tu,, tuan,," Loren sangat terkejut saat ia dibawa ke ruangan yang begitu mewah, dan terlihat bahwa ruangan itu bukan ruangan yang ditunjukan pada sembarang orang.
Christian tersenyum, "Jangan merasa tidak enak, dulu ketika saya juga ditolong, saya dimasukkan ke ruang seperti ini. Apalagi sekarang Nona harus menginap di rumah sakit, jadi saya ingin apa yang dulu di lakukan oleh orang yang menolong saya juga saya lakukan pada orang yang saya tolong.
"Dan terlebih, Nona sudah berjanji akan bekerja pada saya setelah keluar dari rumah sakit, jadi tentu saja saya harus memperhatikan Nona dengan baik." Kata Christian tanpa aba-aba langsung menggendong Loren dari kursi roda dan membaringkan perempuan itu di tempat tidur.
"Ahh!!!" Garis Loren terkejut lalu memejamkan matanya karena merasa malu.
Deg!
Deg!
Loren bisa merasakan jantungnya hampir keluar dari tempatnya, jadi perempuan itu langsung menutup seluruh tubuhnya dengan selimut dan berbalik memikirkan keberuntungannya.
Sementara Christian, pria itu segera keluar dari ruangan untuk berbicara dengan Ransi.
"Siapkan semua kebutuhan istriku, dan juga, semua ini harus dirahasiakan dari publik. Lagi, hubungi dokter Annisa agar dia yang menangani istriku di sini. Aku tidak mau jika terlalu banyak dokter yang menanganinya." Ucap Christian.
__ADS_1
"Baik Tuan," jawab Ransi, lalu pria itu segera berbalik untuk meninggalkan tempat itu ketika Christian kembali menghentikannya.
"Satu lagi, Cepat bawakan pakaian baru untuk istriku, pakaiannya harus nyaman dikenakan!" Tegas Christian kembali di iyakan oleh Ransi, lalu pria itu benar-benar meninggalkan Christian untuk melakukan semua perintah pria itu.
Jadi Christian yang ditinggalkan sendirian kembali ke kamarnya dan melihat Loren sudah membuka setengah selimut yang menutupi tubuhnya.
"Apakah Nona baik-baik saja? Ataukah ada sesuatu yang Nona perlukan?" Tanya Christian dengan lembut menatap istrinya yang memandanginya dengan wajah yang sedikit memerah.
"Tidak," jawab Loren langsung dianguki oleh Christian.
"Kalau begitu, saya harus pergi sebentar karena ada urusan. Nona harus ingat untuk tetap berada di kamar ini dan tekan tombol yang ada di sana Jika ada keperluan." Ucap Christian langsung diangguki oleh Loren.
"Hah,,, paling tidak, pertemuan kami ini tidak lebih buruk seperti pertemuan pertama kami sebelumnya. Meski aku tidak bisa memeluknya, apalagi menciumnya, tapi setidaknya dia tidak merasa takut padaku." Ucap Christian yang merasa lega karena istrinya tidak ketakutan padanya.
Pria itu kemudian berpikir, 'Bagaimana kalau pertemuan pertama kami seperti ini? Mungkinkah aku tidak akan pernah membuatnya ketakutan seperti saat itu?'
Christian kembali mengingat bagaimana gemetarnya Loren ketika baru pertama kali bertemu dengannya.
Berbeda sekali dengan saat ini, perempuan itu tidak ketakutan melihatnya, bahkan pipinya merona seperti melihat seorang pangeran yang datang menyelamatkannya.
__ADS_1
Sementara Loren yang berada di kamar, perempuan itu menatap sekelilingnya lalu turun dari tempat tidur untuk pergi ke kamar mandi.
'Sebenarnya aku sakit apa?' ucap Loren dalam hati yang memang merasa aneh dengan perutnya yang membuncit, namun dia tidak ingat pernah melakukan sesuatu dengan seorang pria hingga dia harus dikatakan hamil.
Perempuan itu berdiri di depan cermin memandangi dirinya sendiri yang tampak lusuh dan kumal
'Baju tidur? Kenapa aku pakai baju tidur?' Loren kembali mengingat-ingat bagaimana dirinya berakhir memakai baju tidur, sementara sejak dia dibuang ke jalanan, dia tidak pernah mengganti pakaiannya dan hanya menggunakan satu pakaian yang telah melekat di tubuhnya.
'Mungkinkah aku melupakan sesuatu?' pikir perempuan itu sambil menghela nafas, lalu keluar dari kamar mandi dan mendapati seorang perawat masuk ke kamarnya.
"Halo Nona," ucap sang perawat langsung dijawab senyum malu-malu Loren sembari perempuan itu membungkuk memberi hormat pada sang perawat.
"Ini adalah pakaian yang disiapkan untuk penghuni rumah sakit. Silakan ganti pakaian Nona dengan ini." Ucap perawat itu menyerahkan sebuah paper bag pada Loren, lalu sang perawat segera meninggalkan Loren sendirian.
Setelah mengganti pakaiannya, Loren berdiri di depan cermin dan melihat pakaian yang ia kenakan tampak begitu indah, dan juga sangat nyaman untuk dikenakan.
"Pihak rumah sakit di sini sangat baik, bahkan memberiku 3 set pakaian." Pikir Loren dalam hati sembari tersenyum, lalu dia segera mencuci pakaian yang sebelumnya ia kenakan.
Setelah selesai mencuci dan kembali ke tempat tidur, Loren kembali merasakan kontraksi, tetapi perempuan itu berhasil melewatinya meski Dia sedikit berkeringat menahan rasa sakitnya.
__ADS_1
"Hah hah hah... Sebenarnya aku sakit apa?" Ucap Loren yang merasa sangat aneh dan takut dengan gejolak yang ia rasakan pada perutnya.