Gadis Kecil Milik CEO

Gadis Kecil Milik CEO
#143. Menangis dalam kemarahan


__ADS_3

Vionita sedang sibuk memilih milih desain yang ia dapatkan dari sekumpulan designer yang telah Ia bayar.


'Hah,, dari semua desain ini hanya ada beberapa yang bisa kuambil, kalau seperti ini terus, aku akan menghabiskan banyak uang untuk ornag-orang bodoh itu tetapi mereka tidak memberiku desain yang memuaskan.' Vionita menggigit bibir bawahnya merasa cemas dengan masa depan karirnya.


Kalau dia tidak segera mendapatkan tambang ide desain maka dia akan kehabisan stok desain dan segera dia akan dilengserkan dari dunia fashion!!!


Perempuan itu masih berkutat dengan pikirannya ketika ponselnya tiba-tiba berdering memperlihatkan nama Chataline.


Vionita mengerutkan keningnya, dia ingat pertemuannya dengan Mia kemarin, perempuan itu menceritakan segalanya dan dia juga sangat terkejut.


"Kalau aku mengangkatnya, dia pasti akan memarahiku! Lagipula, mengapa dia terlalu bodoh sampai dipermalukan oleh seorang gelandangan?!!" Kekesalan Vionita kembali bertambah apalagi ketika dia mengingat Mia yang mengatakan bahwa Helen yang menggantikan Chataline menjadi duta merk mereka.


Akhirnya, karena diabaikan, panggilan itu telah berakhir dan saat itu juga sebuah pesan masuk ke ponsel Vionita.


Pesan itu adalah pesan singkat dari Mia, jadi Vionita langsung membaca pesan itu.


Mia 'Kak Vionita, aku punya kabar baru lagi, pagi ini Chateline datang ke kantor dan meminta maaf pada Loren, Rika dan Siren. Kak Vionita pasti terkejut 'kan?'


Begitu membaca pesannya, Vionita mengepal tangannya dan wajahnya memucat.

__ADS_1


'Sial!! Sebenarnya keberuntungan apa yang menyelimuti perempuan itu?! Mengapa sekarang begitu sulit untuk menjatuhkannya? Kalau begini terus, Loren akan mengalahkanku! Tapi,, mengapa juga perempuan itu pergi meminta maaf?!' Geram Vionita menatap layar ponselnya.


Sangat aneh orang sepeti Chataline memilih merendahkan diri demi sebuah perusahaan kecil!!


Belum saja Vionita pulih dari rasa terkejutnya saat sebuah panggilan kembali masuk. Panggilan dari Chataline.


"Sial..!!" Teriak Vionita melemparkan ponselnya ke lantai sehingga layar ponsel itu menjadi retak dan mati.


"Loren!!! Sebenarnya apa yang kau inginkan?!!" Teriak Vionita merasa frustasi lalu menghamburkan seluruh barang di atas mejanya.


"Kak Vionita ada ap--" Merlin menggantung ucapannya saat melihat ruang kerja Vionita telah berantakan.


"Keluar!!" Teriak Vionita pada Merlin membuat perempuan itu langsung keluar dari ruangan dan menutup pintu dengan jantung berdegup kencang.


Drrt.... Drrt... Drrt...


"Halo?" Seorang pria dari seberang telepon mengangkat panggilan itu.


"Tu,, tuan!! Nona Vionita sedang mengamuk, dia menghancurkan ruang kerjanya!!" Langsung kata Merlin dalam satu helaan nafas.

__ADS_1


"Apa?! Bagaimana bisa?" Pria dari seberang telepon terdengar panik dan terkejut.


"Sebaiknya Tuan datang kemari, saya tidak bisa menangani hal ini." Ucap Merlin.


"Baik." Jawab pria dari seberang telepon lalu Merlin segera mematikan panggilan itu dan mendekatkan telinganya ke dinding pintu.


'Astaga,, Aku tidak tahu kalau Kak Vionita memiliki sisi yang buruk seperti ini. Tapi apa yang membuatnya sangat marah sampai menghancurkan ruang kerjanya sendiri?' Merlin terus bertanya-tanya sampai ketika Bian telah datang menemuinya.


"Kak Vionita di dalam." Ucap Merlin.


Segera, pria itu memasuki ruangan Vionita dan melihat Vionita sedang berdiri di depan jendela, memandang keluar jendela.


"Sayang, ada apa ini?" Tanya Bian berjalan ke arah Vionita sembari menghindari beberapa barang yang berserakan di lantai.


Vionita juga sangat terkejut karena ternyata Bian datang ke kantornya, perempuan yang sedang berada dalam kemarahan itu langsung meneteskan air matanya dan berbalik menatap Bian dalam sandiwaranya.


"Kak Bian hiks,,," katanya sembari terisak lalu melemparkan diri ke pelukan pria itu.


"Tenanglah, aku di sini,," ucap Bian dengan lembut merasa prihatin dengan keadaan Vionita.

__ADS_1


Siapa yang sudah membuat perempuan itu menjadi terlihat menyedihkan seperti itu?


Menangis dalam kemarahan?


__ADS_2