
Setelah mendengar penjelasan dari dokter, maka Loren dengan hati yang cemas akhirnya menjalani pemeriksaan.
Mulai dari pemeriksaan darah hingga pemeriksaan psikolog.
Christian menunggu dengan sabar sembari terus memberi semangat pada istrinya.
Setelah 2 jam berlalu, akhirnya Christian dan Loren diperbolehkan pulang dan menunggu hasil pemeriksaan keluar.
Begitu duduk di dalam mobil, Loren memeluk suaminya dengan erat, "sekarang aku sadar kenapa waktu itu kami memiliki sebuah apartemen. Sepertinya ayahku sudah menyadari keadaan Ibuku sejak dia hamil, itulah sebabnya dia memutuskan untuk pindah rumah, menjauh dari keluarga Sinaga.
"Ayahku merahasiakan semuanya, karena takut keluarga kami akan membenci ibuku." Ucap Loren sembari menahan tetes air matanya yang bisa membayangkan betapa menderitanya ibu dan ayahnya saat dia sedang berada dalam kandungan ibunya.
Christian mengusap lembut rambut istrinya sembari satu tangan pada pria itu merangkul erat istrinya.
"Jangan pikirkan itu lagi, ayah dan ibu sudah tenang di alam baka, jadi jangan membebani pikiranmu dengan sesuatu yang tidak bisa lagi kita rubah." Ucap Christian yang kini menerawang jauh bagaimana caranya dia akan menghadapi sikap istrinya sampai anak mereka lahir.
Dan ketakutan terbesar pria itu ialah jika anaknya sudah lahir dan Loren tidak kunjung sembuh, dia sangat takut bila istrinya mengalami gejala yang berbeda dengan ibu neneknya.
__ADS_1
"Sayang,," tiba-tiba Loren mengangkat kepalanya menatapnya, "apa yang akan kulakukan kalau nanti ternyata aku menderita penyakit yang sama dengan ibu dan nenek.
"Jangan sampai aku melukaimu, Jangan sampai aku membebanimu!!" Kata Loren, lalu dia kembali menyembunyikan wajahnya di dada suaminya sembari terisak sedih.
Christian menghela nafas sembari menepuk-nepuk punggung istrinya dan mencium puncak kepala perempuan itu.
"Jangan berbicara macam-macam, mana mungkin kau membebaniku? Kau tidak pernah membebaniku," kata Christian kini merasa begitu cemas akan istrinya.
Loren tidak mengatakan apapun lagi untuk menjawab ucapan suaminya, tetapi perempuan itu hanya memeluk suaminya dengan erat sembari khawatir akan keadaannya sendiri.
Ketika mereka akan segera tiba di kediaman mereka, Christian kemudian memperbaiki rambut Loren yang sedari tadi berantakan.
"Sayangku, kita akan segera tiba di rumah, dan orang-orang akan cemas jika melihatmu seperti ini," ucap Christian yang cemas pada Loren yang belum berhenti menangis.
Loren membuka matanya dan melihat keluar jendela di mana mereka sebentar lagi akan tiba di kediaman mereka.
"Ah,,," Loren langsung menatap suaminya dengan wajah yang sembab Karena dia tidak sadar, sudah terlalu lama dirinya menangis.
__ADS_1
Melihat wajah istrinya yang tampak berantakan, Christian langsung mendapatkan tisu dan menyeka air mata perempuan itu.
"Keluarkan ingusmu," perintah Christian ketika melihat hidung Loren tampak sangat memerah.
Maka dalam satu helaan nafas yang panjang, Loren mengeluarkan ingusnya dan dengan cepat Christian menadanya dengan tisu lalu membuangnya ke tempat sampah.
"Paman dan Bibi akan berpikir aku sudah melukai istriku Jika mereka melihatmu seperti ini," kata Christian sembari mengambil lembar tisu yang baru lalu menyekah keringat Loren yang masih tersisa.
"Sayang,," tiba-tiba ucap Loren langsung membuat Christian menatap mata istrinya dengan lembut.
"Katakanlah," ucap pria itu sembari menunggu hal apa yang akan dikatakan Loren.
"Aku lapar," ucap Loren.
Christian sangat terkejut karena mereka baru saja makan dan sekarang istrinya kembali mengatakan bahwa dia lapar.
Tapi pria itu langsung tersenyum dan memeluk istrinya dengan erat, "kalau begitu saat kita tiba di rumah, aku akan memasakkan makanan yang lezat untukmu." Ucap Christian langsung membuat Loren merasa begitu bahagia dan memeluk suaminya dengan erat.
__ADS_1