
"Lagi pula kami masih harus mengunjungi makam orang tuaku dan juga nenek, jadi,, sebaiknya masalah persiapan pestanya diberikan saja pada Tante Yohana." Ucap Loren membuat semua orang di ruangan itu terdiam mematung.
Kakek Perry yang memperhatikan Loren kini tak mampu melihat perempuan itu, ia memegang erat tongkatnya sambil menghela nafas.
"Kau mau mengunjungi makam orang tuamu? Kapan?" Daniel bertanya dengan lidah yang kelu.
"Ya,, rencananya besok, makanya kami tidak bisa menginap karena pagi-pagi sekali kami akan pergi ke toko bunga untuk membeli bunga." Ucap Loren sembari memandang Christian dibalas senyum pria itu.
Saat ini Loren sedang menutupi kekecewaan dalam hatinya karena ketika ia menceritakan bagaimana dia akan mengunjungi makam orang tuanya, semua orang terdiam, yang artinya seluruh keluarga Sinaga sudah mengetahui hal tersebut.
Daniel melihat bagaimana Loren menatap Christian, pria itu langsung menoleh pada kakeknya dan juga orang tuanya lalu kembali melihat Loren, "Itu Loren, ada sesuatu yang perlu kau ketahui." Katanya.
"Hm? Apa itu?" Tanya Loren berpura-pura belum mengetahui masalah makam orang tuanya yang telah dipindahkan.
"Masalah makam orang tuamu,,,," Daniel berkata sembari melihat ke arah Kakek Perry dan ayahnya, dia berharap dua orang itulah yang akan menjelaskannya.
__ADS_1
Kakek Perry menghela nafas, "Loren,, ini semua salah Kakek! Kakek tidak bisa melindungi makam orang tuamu!!" Ucap Kakek Perry tampak merasa sangat bersalah.
Hal itu membuat Loren mengerutkan keningnya lalu bertanya, "Memangnya apa yang terjadi?"
"Hah,,, ini semua salah kakek!! Kakek tidak bisa mendidik orang-orang di rumah ini hingga membuat begitu banyak masalah!!! Hah,,,, jika kau mau menyalakan seseorang, kau bisa menyalakan Kakek untuk masalah makam ayahmu yang dipindahkan." Ucap Kakek Perry tak henti-hentinya menghela nafas.
"Apa?!! Dipindahkan? Apa maksudnya?" Loren berpura-pura tidak mengetahui apapun untuk melihat orang-orang itu mengakuinya sendiri.
"Maaf Loren, ini semua salahku juga," Daniel melihat ke arah ibunya lalu kembali menatap Loren, "Dua tahun yang lalu Ibuku terjerat hutang dari rentenir demi memenuhi gaya hidupnya. Lalu secara diam-diam Ibuku menjual makam orang tuamu pada seorang pengusaha kaya demi melunasi hutang-hutangnya. Tapi Loren, aku sudah memindahkan makam ibumu ke pemakaman umum, jadi--"
Yohana yang duduk di tempatnya merasa sangat kesal pada Loren, "Loren,, itu hanyalah makam untuk orang yang sudah meninggal, untuk apa dipusingkan?!! Orang yang meninggal tidak akan bisa lagi mengetahui di mana mereka dikuburkan!! Jadi tidak perlu memusingkan--"
"Diam kau!!!" Rama membentak istrinya.
Mengapa dia memiliki istri yang benar-benar tidak bisa berpikir sebelum berbicara?!
__ADS_1
Jelas masalah ini disebabkan oleh istrinya yang ingin disanjung oleh teman-teman sosialitanya hingga membuatnya buta dan meminjam uang pada rentenir.
Rentenir yang ditempati istrinya meminjam terus menaikkan bunga yang tinggi hingga istrinya tidak bisa lagi melunasinya dan tidak punya pilihan lain selain menjual makam milik orang tua Loren untuk menutupi hutang tersebut.
Meski pada akhirnya seluruh keluarga mengetahuinya, tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa, karena mereka berpikir Loren sudah meninggal di luar negeri maka mereka tidak pernah mengurus hal tersebut.
Tapi siapa sangka, ternyata Loren kembali ke keluarga mereka, terlebih perempuan itu kembali dengan kesuksesannya, jadi kakek Perry pasti tidak bisa mengabaikan cucunya.
Segala sesuatu yang berbau kesuksesan dan ketenaran tidak akan pernah diabaikan oleh kakek Perry!!
@Interaksi
Hah... kalian rindu juga ya tenyata... bbrap waktu ini otor sibuk menghamburkan uang yg gak ada habisnya, jadi lupa mikirin kalian.
__ADS_1