Gadis Kecil Milik CEO

Gadis Kecil Milik CEO
#148. Tuan sudah berjanji


__ADS_3

Christian dan Loren makan siang bersama, mereka membicarakan banyak hal sampai makan siang mereka selesai.


"Ayo, biar ku antar ke bawah," kata Christian saat melihat jam makan siang hampir berakhir.


"Iya," Loren segera berdiri dan mengambil tasnya.


Baru saja dia memakai tas nya ketika ponselnya tiba-tiba berdering, Loren mengambil ponselnya dan melihat sebuah nomor tanpa nama tertera di layar ponselnya.


"Aku angkat dulu," ucap Loren segera menekan tombol terima lalu memindahkan benda pipi itu ke dekat telinganya.


"Halo?" Ucap Loren.


"Halo Nona Loren, perkenalkan saya Zaidan asisten Kak Chataline, apa Nona masih mengingat saya?" Terdengar suara Zaidan begitu sopan dari seberang telepon.


"Ahh, Tuan Zaidan, tentu saja saya ingat." Kata Loren membuat Christian mengerutkan keningnya lalu pria itu segera memeluk dari belakang dan mendekatkan telinganya pada ponsel Loren.


Asisten perempuan itu,, ada apa dia menelpon kekasihnya?!!


Beberapa detik Loren menahan nafasnya karena posisi mereka yang terlalu canggung. Bagaimana kalau orang di seberang telepon mengetahui posisi mereka saat ini?


Namun Loren berusaha bersikap tenang saat Zaidan dan kembali berbicara.

__ADS_1


"Iya, jadi begini, Kak Chataline meminta saya menghubungi Nona Loren untuk membuat janji temu. Nona Chataline ingin mentraktir anda makan sebagai permintaan tulus Kak Chataline atas kejadian kemarin." Ucap Zaidan.


"Ahh begitu, tapi sebenarnya tidak perlu sampai--"


"Nona Loren, saya mohon Nona mau memahami saya. Ini adalah permintaan Kak Chataline, kalau saya gagal membuat janji dengan Nona maka saya mungkin akan terkena amukan, jadi,, kalau bisa tolong bantu saya." Suara Zaidan terdengar sangat memohon.


"Ah,, begitu ya,, kalau begitu aku akan menghubungimu lagi ketika aku sudah menemukan waktu yang tepat." Ucap Loren.


"Baik! Terima kasih Nona Loren," suara bahagia Zaidan.


"Sama-sama." Jawab Loren lalu mereka mengakhiri panggilan itu.


"Tuan,," Loren merasa geli.


"Kau mau menemuinya? Perlu aku temani?" Tanya Christian dalam mode cemasnya.


Bagaimana kalau perempuan itu kembali menghina wanitanya dan memperlakukan wanitanya dengan tidak pantas?


Tetapi Loren yang mendengar ucapan Christian, perempuan itu langsung berbalik dan menatap Christian dengan tajam.


"Tuan sudah lupa janji Tuan?" Tanyanya dengan nada marah.

__ADS_1


"Tentu saja tidak lupa, tapi,, Mengapa kau tidak mau membawaku bersamamu? Apa kamu malu punya kekasih sepertiku?" Tanya Christian dengan tampang sedih.


Hal itu membuat Loren hampir saja memuntahkan seluruh isi perutnya. Mana mungkin dia malu?


Justru dialah yang merasa bahwa dirinya tidak pantas bersanding dengan pria itu hingga dia harus bekerja lebih keras lagi agar kelak bisa dengan percaya diri berdiri di samping Christian!!


Tapi pria itu, mengapa malah berpikir sebaliknya?!!!


"Tuan,, bukan begitu!! Tapi ini adalah urusan perempuan, aku mau menanganinya sendiri. Ok?!" Loren memperlihatkan wajah imut yang memohon.


"Hah,, baiklah," Christian tidak bisa menolak apapun yang dikatakan oleh Loren apalagi dengan wajah seperti itu!! Sangat meluluhkannya!!


"Terima kasih," kata Loren memeluk Christian.


Christian ikut memeluk Loren dengan erat, tetapi dalam hati pria itu, tentu saja dia tidak mau 100% menuruti keinginan Loren.


"Tapi kalau kau sudah menetapkan waktu dan tempat untuk bertemu dengannya kau harus memberitahuku untuk berjaga-jaga." Ucap Christian.


"Ya,, tapi Tuan harus berjanji bahwa Tuan tidak boleh mengikutiku!" Kata Loren yang tidak mau membuat Christian harus pusing membagi waktu untuk pekerjaan dan juga untuk dirinya.


"Aku paham." Jawab Christian.

__ADS_1


__ADS_2