
"Eh,, Kak Loren,, bukankah ini cangkir dari Bernardaud? Mereka Prancis yang serba mahal itu?" Tiba-tiba Mentari berseru sembari mengambil sebuah cangkir berwarna putih kecoklatan lalu memperlihatkannya pada Loren.
"Ah,, apa yang kau bicarakan,, itu hanya imitasi saja," ucap Loren berbohong.
Dia tidak punya alasan pada sebuah gelas mahal yang terselip di apartemennya jadi lebih baik mengatakan itu adalah barang tiruan daripada harus menjelaskannya.
"Ahh begitu,, kalau begitu aku akan menggunakan di gelas ini, bagus juga untuk memamerkannya di media sosial," kata Mentari membuat jantung Loren benar-benar tidak bisa diselamatkan lagi.
Pria itu akan membunuh Mentari kalau mengetahui Mentari sudah dengan lancar menggunakan cangkir miliknya!!!
"Ahh, mentari,, Bukankah itu tidak cocok untuk minum jus?" Kata Loren dengan keringat terus bergulir di punggungnya.
"Ah,, iya,, kalau begitu aku akan membuat kopi ke sini lalu memotretnya." Ucap Mentari memegang erat cangkir di tangannya.
"Ya, tapi,, itu,, itu akan pecah kalau kau menggunakan air panas ke dalamnya sebab itu hanya barang imitasi biasa." Ucap Loren berusaha mempengaruhi Mentari agar perempuan itu meletakkan gelasnya kembali.
"Ah,, tidak masalah, kau suka kopi yang hangat," jawab Mentari.
'Mampus!!! Sudah berakhir!! Aku tidak bisa lagi menahannya!!!' Loren menahan nafas di tempatnya melihat mentari yang kini mengambil gula dan kopi lalu memasukkannya ke cangkir milik Christian.
__ADS_1
"Hei,, kenapa begitu lama?" Tiba-tiba Siren muncul mengagetkan 2 perempuan yang sedang sibuk di dapur.
"Ya,, tunggulah sebentar." Jawab Mentari.
"Biar aku membantu Kak Loren," ucap Siren berjalan kearah Loren lalu membantu perempuan itu membuat minuman.
Setelah selesai membuat minuman, ketiga perempuan itu kembali ruang ruang tamu dan mendapati Mia belum keluar dari kamar mandi.
"Minumlah, aku akan ke kamar dulu," ucap Loren ketika dia mengingat Christian.
"Baik Kak Loren," ucap Siren lalu membiarkan Loren naik ke lantai dua.
Begitu tiba di lantai 2, Loren membuka pintu kamarnya dan mendapati seorang pria sedang duduk sendirian di sofa sembari menatap keluar jendela di mana langit sudah mulai gelap.
Christian langsung melihat pada Loren lalu mengulurkan tangannya menarik perempuan itu ke pelukannya.
"Teman-temanmu itu sudah sangat lancang mencuri terlalu banyak waktu mu yang seharusnya menjadi milikku,," langsung keluh Christian dengan suara mengandung kesedihan.
"Maaf,," kata Loren yang memang merasa bersalah pada Christian.
__ADS_1
"Apakah maaf bisa menggantikan waktumu yang sudah direbut oleh mereka?" Tanya Christian menenggelamkan kepalanya di leher Loren menghirup aroma tubuh perempuan itu.
"Lalu apa yang Tuan inginkan?" Tanya Loren sembari mengelus lembut kepala Cristian.
"Aku mau waktumu, itu saja,," kata Christian dengan suara yang berat.
Seharian dia bekerja sangat lelah dan berharap ketika kembali ke apartemen dia bisa bersantai memeluk kekasihnya untuk menghilangkan rasa lelah yang ia dapat selama seharian penuh.
Tapi saat ini, bukan saja dia tidak bisa memeluk perempuan itu di perjalanan kembali dari kantor, namun sekarang di apartemen pun, dia tidak bisa memeluk kekasihnya dengan bebas sebab teman-temannya datang ke sana.
"Baiklah, ini hari terakhir, mulai besok tidak akan ada lagi mereka diantara kita." Ucap Loren yang merasa bersalah pada Christian.
"Kau berjanji?!" Tanya Christian mengangkat wajahnya menatap Loren.
"Hm,, mulai besok saya akan menolak untuk berangkat bersama Mia dan pulang bersama Mia. Saya hanya akan berangkat ke kantor bersama Tuan dan pulang dari kantor bersama Tuan juga," ucap Loren.
"Bagus,," ucap Christian langsung tersenyum karena janji yang diucapkan Loren.
"Apa pun untuk tuan saya!" Ucap Loren menundukkan kepalanya lalu kedua orang itu berciuman dengan hangat.
__ADS_1
Entah berapa lama mereka berciuman, tetapi keduanya baru menghentikannya ketika pintu kamar tiba-tiba diketuk oleh seseorang.
"Kak Loren,, bolehkah kami masuk??" Terdengar suara Mia dari seberang pintu.