
Akhirnya sesuai dengan perintah dari Vionita maka Fajar memalsukan informasi yang ia berikan pada Bian.
"Jadi Chataline yang membuat rumor palsu itu lalu menuduhkannya kepada Vionita?" Bian kembali bertanya sebab Dia benar-benar tidak percaya bahwa Chataline memiliki dendam yang begitu besar pada Vionita.
"Benar Tuan," jawab Fajar, 'Maafkan saya Tuan, tetapi saya tidak punya pilihan lain selain berbohong.' ucap Fajar dalam hati merasa bersalah pada bagian sebab Dia benar-benar diancam oleh Vionita.
Kalau Vionita mengatakan pada Bian bahwa dia berusaha merayu perempuan itu, maka pastilah dia akan dipecat oleh Bian!!
"Baiklah,,, aku mengerti," ucap Bian mengalihkan pandangannya keluar jendela mobil.
'Maafkan saya Tuan,' sekali lagi Fajar berkata dalam hati sembari menunggu mobil mereka tiba di kantor milik Vionita.
Begitu tiba, Vionita langsung naik ke mobil lalu bergelayut manja di lengan Bian.
"Ada apa tiba-tiba menjemputku?" Tanya Vionita.
"Kebetulan hari ini aku ada waktu luang jadi kita akan pergi menemui Loren dan menyelesaikan kesalahpahaman diantara Kalian."ucap Dian mengejutkan Vionita.
"Sekarang?" Tanya Vionita tak percaya, dia belum menyiapkan apapun!
__ADS_1
"Hm,, Fajar sudah mencari tahu dan menemukan bahwa orang yang menyebarkan rumor palsu itu adalah Cahtaline. Kita hanya perlu mengatakannya pada Loren lalu dia--"
"Kak Bian," sela Vionita, "Loren tidak mau bertemu dengan kita, jadi bagaimana kita akan menemuinya?" Tanya Vionita.
Biar langsung tersenyum, "Aku sudah mengatur semuanya, kita hanya perlu datang ke kantor LC," ucap Bian tersenyum.
"Ah,, begitu,," Vionita kembali menyembunyikan wajahnya dari Bian dengan cara menenggelamkan wajahnya di dada pria itu.
'Sial!!!! Semoga saja Loren benar-benar bodoh untuk dibohongi!!" pikir Vionita menenangkan diri.
Akhirnya setelah menunggu beberapa waktu di dalam mobil, mereka tiba juga di kantor LC.
Resepsionis yang bertugas menyambut tamu terkejut melihat Vionita datang ke kantor mereka.
"Ada yang bisa saya bantu?" Tanyanya pada dua orang itu.
"Saya sudah membuat janji dengan CEO, atas nama Bian," ucap Bian.
"Baik, saya periksa sebentar," Sang resepsionis langsung melihat jadwal pertemuan hari itu dan mendapati bahwa Bian memang dijadwalkan bertemu Andreas pada pukul 10 pagi.
__ADS_1
"Silakan ikuti saya ke ruang pertemuan," kata resepsionis itu mengarahkan jalan pada Vionita dan Bian ke sebuah ruangan.
"Silakan menunggu disini, CEO kami akan segera datang," ucap resepsionis itu lalu meninggalkan Bian dan Vionita.
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya Andreas menghampiri mereka.
Andreas sangat terkejut ketika melihat Vionita juga berada di sana.
"Halo Tuan Andreas," Bian langsung berdiri menyapa Andreas lalu mereka berbasa-basi sebentar sebelum dia mengatakan maksudnya untuk bertemu dengan Loren.
"Maaf, tapi Nona Loren adalah designer utama kami di sini jadi dia sedikit sibuk. Tetapi saya akan menanyakan nya dulu pada Nona Loren," ucap Andreas lalu meninggalkan ruang tunggu.
Vionita menyipitkan matanya menatap punggung Andreas yang menjauh darinya 'Apakah Loren begitu penting di LC? Mengapa CEO mengatakan harus meminta izin padanya saat ada orang yang ingin bertemu dengannya? Mengapa tidak langsung memerintah?' Vionita merasa aneh.
Andreas adalah seorang CEO Jadi langsung saja menyuruh Loren untuk menemui mereka, mengapa harus bertanya???
@Interaksi
__ADS_1
Iya udh 200 bab ya,, pada hal novel ini baru berumur 2 bulan,,, hebat kan otor nulis banyak babnya?? coba kalo tiap hari cuma up 1 bab? kapan kelarnya ya..?
udah ya,, novel ini mmng bakal panjang,, tapi konfliknya otor selesain satu per satu ya,,, perlahan-perlahan ajah dinikmati,,,enak kokš¤