
Kamar hotel.
"Ha ha ha.....!!!" Loren tertawa terbahak-bahak di pangkuan Christian karena saat ini mereka sedang menonton serial drama komedi.
Christian melihat Loren sangat menikmati tontonannya, pria itu tersenyum sembari memainkan rambut Loren.
Aktivitas mereka yang harmonis itu terganggu ketika telepon Loren tiba-tiba bergetar.
Loren tidak melihatnya karena perempuan itu sedang fokus pada drama yang ia tonton.
Tetapi kemudian Christian mengambil ponsel itu dan melihat nama penelponnya adalah Daniel.
'Kenapa lagi dia mengganggu?' pikir Christian dalam hati lalu menolak panggilan tersebut.
Tapi sayangnya ponsel itu kembali bergetar jadi mau tidak mau Christian kemudian mengatakannya pada Loren.
"Seseorang menelponmu," kata Christian memberikan ponsel tersebut pada Loren.
Loren mengerutkan keningnya melihat nama pemanggil, meski dia mengenal Daniel sebagai orang yang baik tetapi sesuai kata Christian, pria itu tidak dapat untuk diandalkan sebab dia terlalu lemah dan terlalu dikendalikan oleh keluarganya.
__ADS_1
Setelah menimbang-nimbang beberapa saat, Loren kemudian mengangkat panggilan itu.
"Halo kakak sepupu." Ucap Loren pada orang di seberang telepon.
Sesaat, keheningan terjadi diantara panggilan itu sebelum Daniel menjawab, "Adik sepupu, bagaimana kabarmu?"
"Aku baik, bagaimana dengan kakak?" Tanya Loren.
"Ya,, baik juga. Maaf karena baru berani menelponmu sekarang, aku merasa sangat malu atas apa yang dilakukan keluargaku padamu, oleh karena itu aku minta maaf mewakili seluruh keluargaku. Aku sangat menyesal tidak bisa mencegah ibuku menyebarkan foto itu,," ucap Daniel disertai helaan nafas yang panjang.
Loren yang sedari tadi mengatup erat giginya mendengarkan ucapan Daniel kini ikut menghela nafas.
"Kak Daniel tenang saja, aku sudah melupakan masalah itu. Lagi pula, bagaimanapun dan apapun yang terjadi kita masih tetaplah keluarga. Aku harap ini adalah yang terakhir kalinya kita berselisih semoga di lain kali keluargamu bisa menahan diri, atau mungkin, saat itu aku tidak akan pernah lagi menerima permintaan maaf." Ucap Loren.
Loren menatap Christian untuk mendapatkan jawaban dari pria yang ikut mendengarkan percakapan tersebut.
Tentu saja Christian menganggukkan kepalanya karena dia sudah menyiapkan kejutan untuk Vionita.
Jadi Loren langsung menjawab, "Kami akan datang."
__ADS_1
Daniel merasa sangat senang, "Baiklah, kalau begitu akan kukirimkan undangannya ke alamatmu, kau bisa mengirimkan alamatmu lewat pesan." Ucap Daniel.
"Ok," jawab Loren.
"Baiklah, kalau begitu aku akhiri telepon ini." Ucap Daniel lalu dia menekan tombol reject setelah mendapat persetujuan dari Loren.
Akhir panggilan itu langsung disoraki Vionita yang sedari tadi mendengarkan percakapan kakaknya dengan Loren.
"Bagus!! Mereka benar-benar datang!!" Seru Vionita sambil bertepuk tangan kecil.
Daniel menghela nafas melihat adiknya, "Kau sebaiknya memikirkan lagi rencanamu. Kau sudah dengar tadi bukan dia tidak akan memaafkanmu lagi kalau--"
"Tenanglah, aku hanya akan melakukan rencanaku setelah aku dan Bian resmi dikatakan sebagai sepasang suami istri. Lagi pula di acara pernikahan itu akan ada banyak orang terkenal yang datang karena keluarga Maherson memiliki koneksi yang banyak. Pokoknya hari itu dia harus dipermalukan!!!" Ucap Vionita menggertakkan giginya.
"Baiklah, terserah padamu saja," kata Daniel pada Vionita lalu pria itu berjalan pergi meninggalkan adiknya.
Vionita mengabaikan kakaknya, dia hanya fokus pada pikirannya, 'Hm,,, Loren,, tunggu dan lihat aku menikah dengan Bian sehingga kau merasakan patah hati yang luar biasa. Bian tidak bisa dibandingkan dengan kekasih sampahmu!!!' pikir Loren kembali mengingat setiap kali mereka berkumpul dan Bian masih mencuri-curi pandang pada Loren.
Terlebih, selama ini Vionita terus terngiang-ngiang akan ucapan Loren di luar negeri yang masih menginginkan Bian. (Kejadian dimana Loren berbicara dengan Wilson)
__ADS_1
Tapi untunglah sekarang, dialah yang akan menikah dengan pria itu dan Loren hanya akan menjadi perempuan patah hati yang menyaksikan pernikahan orang yang ia cintai.