
"Halo?" Jawab Bian dari seberang telpon.
"Aku sudah kembali ke mansion dan melihat dia tidak seperti yang kau katakan sebelumnya. Dia tidak terlihat sedih, dia bahkan terlihat senang dan tertawa dengan keras!" Langsung kata Christian meneriaki pria di seberang telepon.
Dokter Bian yang mendengar teriakan pria itu hanya bisa menjauhkan ponselnya dari telinganya. Diam-diam dalam hatinya dia bersorak untuk Loren.
Ini pertama kalinya Cristian berbicara panjang lebar, dan itu terjadi karena Loren!
"Kalau begitu hampiri dia. Tapi jangan mengatakan apa pun! Cukup perlihatkan kan dirimu di hadapannya lalu langsung meninggalkannya." Ucap Bian.
"Ini yang terakhir kali aku mendengarkan saranmu, kalau ini tidak berhasil kau akan dipecat menjadi dokter pribadi ku dan akan menerima denda sesuai dengan kontrak yang telah ditandatangani!" Ancam Christian pada pria di seberang telepon lalu menutup telepon itu secara sepihak.
Dia lelah mendengar saran dari Dokter Bian namun tidak membuahkan hasil.
'Awas aja kalau dia memberikan saran yang tidak berguna!' geram Christian memegang erat ponselnya lalu pria itu berusaha menekan amarahnya lalu keluar menemui Ransi.
"Dimana Loren?" Tanyanya pada Ransi.
"Nona Loren berada di kamarnya." Jawab Ransi.
"Buat dia keluar dari kamarnya." Perintah Christian.
"Baik Tuan." Jawab Ransi lalu pria itu segera berlalu mengeksekusi tugasnya.
"Ransi. Ada apa?" Loren terkejut saat ia membuka pintu kamarnya dan menemui Ransi berdiri di depannya.
__ADS_1
"Nona silahkan pergi makan." Ucap Ransi membuat Loren mengerutkan alisnya.
"Apakah Tuan Christian sudah makan? Aku akan makan setelah dia selesai." Ucap Loren yang tidak mau mendahului Christian.
Meski dia sudah tahu kalau pria remaja itu adalah Christian, tapi dia masih menyimpan rasa trauma atas apa yang pernah dikatakan Christian padanya.
"Tuan Christian menyuruh Nona makan malam lebih dulu. Tolong segera pergi atau saya akan di hukum." Ucap Ransi mengagetkan Loren.
"Apakah ucapanmu itu benar?" Tanya Loren tak yakin.
Mungkinkah pria itu menyuruh koki memasak lebih awal demi dia?
"Ya,, Tuan Christian tahu kalau selama ini Nona terlambat makan, makanya dia menyuruh koki menyiapkan lebih awal. Kalau sekarang nona masih berlambat-lamabt makan maka saya mungkin akan terkena marah. " Jawab Ransi.
"Dapatkah kau tanyakan padanya apakah aku bisa makan malam dengannya?" Tanya Loren dengan jantung yang mulai mempercepat debarannya.
"Ok," Jawab Ransi tanpa ragu-ragu lalu pria itu segera meninggalkan Loren.
Loren memegangi dada kirinya dengan tangannya yang mulai basah 'Apakah dia akan menerimanya? Tidakkah dia marah karena permintaanku? Bagaimana pun aku sudah mengecewakannya,' pikir Loren melihat ke tempat sampah.
Bunga yang layu di tempat sampah...
Sementara di ruangan Christian, pria itu telah sibuk mencari pakaian yang akan ia kenakan untuk bertemu dengan Loren.
"Kenapa tidak pakaian yang lebih bagus?" Kesal pria itu melemparkan beberapa pakaian ke lantai lalu duduk dengan kesal.
__ADS_1
Pria itu duduk beberapa menit memandangi lemarinya sebelum berdiri mengambil sebuah kemeja berwarna hitam.
'Hanya bertemu saja sebentar, untuk apa pusing?' pikirnya mengenakan kemeja hitam lalu mengancing nya satu persatu.
"Tuan," tiba-tiba suara Ransi dari balik pintu.
"Masuk," perintah Christian lalu Ransi segera masuk dan terkejut melihat berantakannya ruang ganti pria itu.
"Nona Loren memerintahkan saya untuk bertanya apakah dia bisa makan malam dengan Tuan." Ucap Ransi menghentikan tangan Christian yang sedang memancing kemejanya.
Pria itu terdiam sesaat lalu berbalik menatap Ransi "Kau yakin?" Tanyanya tak percaya.
Dia pikir Loren sangat marah padanya setelah perempuan itu meninggalkannya di hotel. Dia pikir Loren tidak akan mau lagi menemuinya sebab perempuan itu selalu ketakutan jika bersamanya.
Ternyata.....
@Interaksi
Lanjut lagi ya.... jangan bilang sedikit, meski cuma satu kata otor menorehkannya dengan hati lho, hati otor sangat berharga.....ðŸ¤ðŸ¤
...
To Raja.
__ADS_1