
"Si,, siapa katamu?" Tanya Vionita.
"Nona Cahtaline," kata Fajar.
"Apa?!!" Wajah Vionita langsung memucat, perempuan itu hampir saja terjatuh seandainya dia tidak berdekatan dengan dinding untuk berpegangan.
"Nona Vionita baik-baik saja?" Fajar langsung mendekati Vionita untuk menolong perempuan itu.
"Jangan dekati aku,," ucap Vionita yang tidak mau disentuh oleh Fajar.
"Maaf," ucap Fajar kini hanya berdiri di tempatnya melihat Vionita yang berusaha menenangkan diri sembari terus berpegangan pada dinding.
"Sudah berapa lama mereka bersama di dalam?" Tanya Vionita dengan suara gemetar mengandung ketakutan.
Dia baru saja merasa sangat senang karena mendapat rencana untuk menjatuhkan Lauren, tapi sekarang malah mendapat kabar buruk seperti ini?!!
Seperti naik Roller coaster!!!
"Belum lama, mungkin baru sekitar 10 menit, mereka baru saja akan memulai pembahasan atas kerjasama mereka." Ucap Fajar.
"Baik,, aku mengerti." Ucap Vionita akhirnya kini bisa berdiri dengan tegak.
"Apakah Nona Vionita membutuhkan sesuatu yang lain?" Tanya Fajar.
"Tidak,, kau boleh pergi." Ucap Vionita sembari memejamkan matanya menenangkan ketegangannya.
'Aku harus terlihat baik-baik saja, aku hanya perlu masuk dan mencegah Cahtaline berbicara macam-macam.' ucap Vionita dalam hati sembari menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.
Setelah merasa lebih baik, Vionita kemudian berjalan ke arah cermin yang diletakkan di ruang tunggu lalu melihat penampilannya.
Wajahnya masih terlihat sedikit pucat, tetapi tidak masalah karena dia bisa menggunakan itu sebagai senjata untuk berpura-pura lemah di depan Bian.
"Baik,, ayo pergi,," kata Vionita sembari mengatur nafasnya lalu perempuan itu berjalan ke arah ruangan Bian.
Vionita mendorong pintu dengan keras dan berseru "Sayang!"
Begitu melihat Bian bersama Chataline dan Zaidan, Vionita langsung memperlihatkan wajah canggungnya.
"Ahh, Maafkan aku, aku pikir tidak ada tamu. Aku akan menunggu di luar," kata Vionita hendak berbalik ketika suara Bian menghentikannya.
"Tidak perlu, duduklah disini bersamaku." Kata Bian.
__ADS_1
"Eh? Tapi,, Kalian sedang ada dalam pekerjaan penting. Bagaimana bisa aku,,"
"Tidak perlu sungkan, ini hanya pekerjaan kecil saja," ucap Chataline menikmati wajah pucat Vionita.
'Aku pikir dia bisa bersandiwara cukup baik, tapi ternyata wajahnya masih terlihat pucat,' pikir Chataline.
"Baik kalau begitu," kata Vionita menutup pintu lalu perempuan itu berjalan kearah sofa panjang yang ditempati Bian dan duduk di samping pria itu.
"Wajahmu sedikit pucat. Apakah kau sakit?" Tanya Bian.
"Aku pucat?? Uh,, sepertinya aku hanya sedikit kelelahan. Nanti aku akan beristirahat sebentar sebelum kembali ke kantor," Ucap Vionita
"Ternyata Nona Vionita tidak seperti yang saya pikirkan, saya Jadi menyesal karena tempo hari sempat marah-marah tidak jelas saat berada di kantor Nona Vionita. Hari ini saya meminta maaf untuk hal itu Dan juga atas apa yang terjadi di restoran." Ucap Chataline dengan suara rendah hati membuat wajah Vionita langsung menegang.
'Permepuan licik!! Apakah sekarang dia mengancamku?' pikir Vionita dalam hati mengingat bagaimana hari itu dialah yang memanfaatkan Chataline, tetapi sekarang perempuan di depannya malah minta maaf padanya.
Apa lagi kalau bukan mengancam?!!
"Aku juga minta maaf, hari itu aku terlalu sensitif," ucap Vionita berusaha tersenyum meski dalam hatinya Dia sangat ingin melompat ke arah Chataline dan mencabik-cabik wajah perempuan itu.
Chataline tersenyum 'Bagus,, teruslah bersandiwara agar nanti kau semakin di benci Bian saat semuanya terbongkar!! Dasar perempuan bermuka dua!!!'
'Perempuan licik, kau tidak akan bisa mencegahku memiliki kerjasama dengan Bian,, akan ada banyak waktu untuk bertemu dengannya dan membongkar identitasmu!!' pikir Chataline.
"Baiklah, ini adalah surat kontraknya, saya jelaskan sebentar," ucap Bian menyerahkan surat kontrak pada Chataline lalu pria itu mulai menjelaskan beberapa poin penting pada surat kontrak mereka.
Vionita terdiam mengamati kedua orang itu, 'Paling tidak hari ini aku berhasil mencegah perempuan licik ini mengatakan yang sebenarnya. Kalau sampai dia membahas Loren maka Bian pasti akan mendengarkannya lalu semuanya akan terbongkar!! Tapi,,, kalau hari ini aku berhasil mencegahnya, bagaimana dengan hari-hari lain?' Vionita kembali cemas.
Melihat dua orang itu menandatangani kontrak untuk pekerjaan maka sudah dipastikan kalau mereka berdua akan sering bertemu.
Lalu, tidak mungkin Vionita akan terus berada di samping Bian saat Bian bertemu dengan Cahtaline,, ini sangat mengkhawatirkan!!!
"Saya mengerti, saya akan menyampaikan poin-poin yang telah Tuan Bian jelaskan pada saya. Saya yakin manager saya akan langsung setuju dengan kontrak ini." Ucap Cahtaline menyerahkan surat kontrak pada Zaidan lalu perempuan itu berdiri di ikuti Bian dan Vionita yang juga berdiri.
"Kami menanti kerjasamanya," ucap Bian.
"Tentu saja," kata Vionita lalu bersalaman dengan Bian dan vionita.
Begitu menjabat tangan Vionita, Chataline sengaja meremas kuat tangan Vionita untuk memberi peringatan.
"Sampai jumpa Nona Vionita," ucap Chataline dengan senyum manisnya.
__ADS_1
"Ya," jawab Vionita tak kalah dengan sandiwaranya.
"Kalau begitu kami permisi sekarang." Kata Chataline melemparkan senyum terakhirnya pada Vionita lalu dia dan Zaidan segera meninggalkan ruangan Bian.
Begitu pintu tertutup, Bian langsung berbalik menatap Vionita dan mengulurkan tangannya menyentuh wajah Vionita.
"Wajahmu masih pucat, istirahatlah dulu," ucap Bian menatap cemas pada perempuan di depannya.
"Jangan cemaskan aku,, aku akan istirahat sebentar lagi. Tapi sebelum itu aku ingin bertanya satu hal," ucap Vionita.
"Apa itu?" Tanya Bian.
"Mengapa kau yang menangani kontrak dengan mereka?" Tanya Vionita yang merasa aneh, seorang CEO turun tangan langsung untuk sebuah kontrak kecil seperti itu?
"Iya, orang yang menanganinya sedang ku tugaskan keluar kota jadi aku mengambil alih beberapa pekerjaannya." Jawab Bian.
"Tapi kan kau punya asisten! Mengapa tidak menyuruh Fajar saja? Aku hanya tidak mau kalau kau kelelahan karena pekerjaanmu sudah banyak dan sekarang malah memikul tanggung jawab orang lain lagi." Kata Vionita menampakkan wajah cemasnya.
Tentu saja dia bukan cemas kalau Bian jatuh sakit, tetapi dia lebih cemas kalau Bian terus bertemu dengan Chataline maka Chataline akan dengan mudah membocorkan seluruh informasi di tangannya.
Apa lagi tentang Loren!!!
"Fajar juga sibuk, dia punya banyak pekerjaan, lagi pula hari ini pekerjaanku tidak terlalu banyak." Ucap Bian.
Mendengar itu, Vionita langsung memeluk Bian dengan hangat.
"Kalau begitu, berjanjilah padaku, lain kali kau tidak perlu mengambil alih pekerjaan bawahanmu lagi. Apalagi yang berhubungan dengan Chataline, Aku tidak suka melihatnya dekat-dekat denganmu, apalagi dia sudah beberapa kali menyakitiku." Ucap Vionita dengan suara sedihnya.
"Baiklah, lain kali akan ku usahakan untuk menugaskan orang lain." Kata Bian.
"Baiklah, aku mempercayaimu," ucap Vionita.
'Bian tidak bisa berjanji padaku itu artinya masih ada kesempatan baginya untuk bertemu dengan Cahtaline, setelah ini aku harus berbicara dengan Fajar dan menyuruh pria itu untuk selalu mengabarkan jadwal Bian padaku!' pikir Vionita.
@Interaksi
Gak marah kok, cuma meledak ajah😂😂
__ADS_1