
Dengan langkah cepat, Loren berjalan ke arah lift dan memasuki lift.
Namun, dia tidak menyangka ternyata Christian mengikuti nya ke dalam lift.
Keduanya berdiri dalam keheningan dengan Loren yang menjaga jarak dari Christian sembari tertunduk melihat jari-jari kakinya.
'Apakah dia berniat mengantarku ke kamar? Mengapa dia melakukannya?' Pikir Loren.
Ia merasa sangat tegang.
Baru beberapa detik mereka di dalam lift ketika dua orang gadis menghentikan lift lalu memasuki lift.
Lorentz hendak bergeser ke sudut untuk memberi tempat bagi dua gadis itu ketika Christian malam menariknya ke rangkulannya.
Segera tangannya kembali berkeringat Dan Dia memegang erat kemeja yang ia kenakan.
"Halo Kak," sala satu gadis yang baru saja memasuki lift kini dengan wajah memerah memberi salam pada Christian.
"Apa yang kau lakukan?! Kau ingin menggoda seorang pria di depan kekasihnya?" Dengan wajah ketusnya gadia yang lain menyenggol gadis yang baru saja berbicara.
"Tapi dia sangat tampan!"
"Aku tahu kau selalu tertarik pada pria tampan, tapi kau lihat dia begitu posesif pada kekasihnya. Dia bahkan tidak menjawab salammu."
__ADS_1
Meski Loren hanya diam, dia mendengarkan ucapan kedua gadis itu dan hatinya semakin berdebar.
'Kenapa Christian tidak menjawab gadis itu? Padahal gadis Itu tampak lebih cantik daripada aku. Dia juga menggunakan pakaian bagus, Sepertinya Dia berasal dari keluarga terpandang.' Loren berkata dalam hati sembari terus menunduk dalam ketegangannya.
Ting!
Akhirnya lift mereka tiba juga di lantai kamar Loren.
Loren langsung berjalan cepat keluar dari lift lalu kembali ke kamarnya.
Begitu membuka pintu kamar, dia menyadari Christian masih berada di belakangnya jadi dia segera berbalik.
"Terima kasih telah mengantar saya sampai di sini." Kata Loren lalu segera masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu.
Loren tidak langsung meninggalkan pintu dia bersandar ke pintu lalu merosot ke lantai.
Sementara di balik pintu yang disandari Loren, Christian masih berdiri di sana dalam posisi tegap memandangi pintu kamar Loren.
Pria itu tampak kehilangan, dia merasa kesepian dan tatapannya begitu redup melihat pintu di depannya.
'Ini semua salahku, bahkan ketika aku berniat untuk memperbaiki hubungan kami Dia tampaknya sangat ketakutan denganku. Apa yang harus kulakukan?' pikir Christian merasa bersalah.
Cukup lama berdiam diri memandangi pintu kamar Loren, Christian akhirnya meninggalkan tempat itu dan kembali ke kamarnya.
__ADS_1
Christian duduk di meja kerjanya sembari memikirkan hubungannya dengan Loren Sampai akhirnya dia memanggil Ransi.
"Ya Tuan," ransi langsung menemui Christian.
"Suasana Bagaimana yang disukai perempuan saat makan malam?" Tanya Christian membuat Ransi terkejut.
'Apakah sekarang Tuan ingin menyiapkan makan malam romantis untuk Loren?' Ransi bergumam dengan hatinya yang retak berkali-kali.
Kalau saingan cintanya adalah Tuan Christian maka dia tidak akan bisa melakukan apapun dan hanya bisa mundur perlahan-lahan.
"Semuanya tergantung perempuannya tapi kalau Tuan Christian ingin mengetahui lebih banyak Tuan sebaiknya bertanya pada dokter Bian. Dia sangat ahli dalam urusan perempuan." Ucap Ransi yang mana dia juga belum pernah dekat dengan perempuan manapun.
"Dokter Bian? Bukankah dia tidak pernah dekat dengan perempuan?" Tanya Christian kembali mengingat pertemuannya dengan dokter Bian hari ini.
"Dokter Bian bukannya tidak dekat dengan perempuan, dia hanya melakukannya secara rahasia karena dari awal dia sudah dijodohkan dengan seorang perempuan." Kata Ransi.
"Kau boleh pergi." Perintah Christian lalu pria itu mengambil ponsel untuk menghubungi dokter Bian.
"Baik Tuan." jawab Ransi lalu pria itu segera keluar dari ruangan Christian dengan wajah yang sangat murung.
'Mengapa Tuan berubah? Hanya dalam satu malam? Kalau tuan seperti ini terus, maka aku tidak mungkin mengejar Loren. Bagaimana bisa aku bersaing dengan pria itu?' Ransi merasa sangat kesal pada dirinya sendiri sebab dia hanyalah seorang asisten sementara saingannya adalah seorang CEO, bahkan CEO itu adalah ceo-nya sendiri!
@Interaksi
__ADS_1
Kenapa gak di komen? semua auhtor menginginkan komenan pembaca di di karya mereka. itu menjadi good moodnya untuk terus menghibur para pembaca. Beda di sini, kolom komentar digunakan untuk balap mulut ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤