
"Tuan juga bisa berbicara banyak." Kata Loren sembari tersenyum membuat Christian terdiam.
'Aku baru saja membuat penjelasan untuknya?' Christian terkejut dengan dirinya sendiri.
Ini pertama kalinya dia meminta maaf dan pertama kalinya dia membuat penjelasan untuk sesuatu yang pernah ia lakukan.
Bahkan ketika dulu dia pernah membuat kesalahan yang sangat besar pada orang tuanya dia tidak pernah repot menjelaskannya dan hanya menerima hukuman saja.
Tapi sekarang...?
Loren tidak mengerti mengapa Christian terdiam tapi perempuan itu kemudian mengangkat gantungan dinding yang ia buat.
"Saya membuat ini untuk Tuan, memang awalnya saya pikir akan memberikannya pada Abimanyu karena saya pikir dia adalah orang yang memiliki jepit dasi itu. Tapi ternyata orang yang telah menyelamatkanku pada hari itu adalah Tuan. Jadi,, aku memberikan ini pada Tuan," kata Loren menyerahkan gantungan dinding yang ia buat.
Christian melihat gantungan dinding yang disodorkan padanya lalu mengambilnya dan melihatnya.
Meski tadi dia mendengar Loren mengatakan nama Abimanyu, dia sudah tidak memperdulikannya.
Sekarang Loren memberikan barang itu padanya!
"Saya tidak punya barang berharga untuk diberikan kepada Tuan jadi--"
"Aku suka ini," sela Christian dengan senyum mengembang memandangi gantungan dinding yang terbuat dari benang wol.
__ADS_1
Tidak ada yang lebih berharga daripada sebuah kerajinan tangan yang dibuat sendiri oleh tangan milik orang yang paling disukai.
"Tu,, tuan menyukainya?" Loren bertanya dengan penuh semangat.
"Ya," jawab Christian tanpa ada keraguan.
"Terima kasih." Kecanggungan yang tadi dirasakan Loren kini sepenuhnya menghilang saat pria itu mengatakan bahwa dia menyukai kerajinan tangan yang ia buat.
"Kau harus membantuku mencari tempat yang cocok untuk menaruh gantungan dinding ini." Ucap Christian menyisihkan gantungan dinding itu ke sampingnya.
"Tentu! Saya akan melakukannya!" Jawab Loren dengan sangat bersemangat.
Akhirnya mereka berdua makan malam, Christian banyak menaruh makanan di piring Loren dan begitu juga sebaliknya.
'Hah,, cinta memang bisa membuat seseorang berubah.' pikirnya.
Akhirnya Ransi berdiri di sana sembari terbengong mendengarkan percakapan dua orang itu.
Dia menunggu selama 30 menit sampai kedua orang itu selesai makan malam.
"Tuan ingin saya membantu Tuan memasang gantungan dinding ini sekarang?" Tanya Loren ketika mereka keluar dari ruang makan dengan Cristian memegang tangannya.
"Ya, Ayo pergi ke kamarku dan bantu aku memilih tempat yang tepat untuk meletakkannya." Ucap Christian menarik tangan Loren.
__ADS_1
Loren berjalan terburu-buru mengikuti langkah Cristian yang panjang sembari menatap tangannya yang dipegang oleh Cristian dan tangan lainnya memeluk erat bunga yang diberikan Christian padanya.
Jantungnya masih berpacu dengan sangat kencang dan seketika keringat di telapak tangannya juga berkumpul karena dia terlalu bersemangat sekaligus tak percaya dengan apa yang terjadi.
Saking fokusnya dia pada tangan mereka yang saling bergenggaman, Loren tidak sadar ketika Christian tiba-tiba menghentikan langkahnya hingga dia menabrak punggung pria itu.
"Ahh!" Ucapnya segera melangkah mundur dari Christian.
"Apa aku berjalan terlalu cepat?" Tanya Christian saat ia menyadari langkahnya yang terlalu panjang.
"I,, iya, tapi saya masih bisa mengikuti langkah Tuan." Ucap Loren yang salah tingkah.
"Tanganmu berkeringat lagi, apa kau takut?" Tanya Christian.
Pipi Loren langsung memerah mendengar pertanyaan Christian.
"Saya,, saya tidak takut." Ucap Loren.
Christian tersenyum memperhatikan sikap lugu Loren "Kau tidak usah takut, aku tidak akan memakanmu. Kalaupun aku berniat memakan mu aku tidak akan menghabiskan mu, nanti tidak ada lagi yang di makan." Kata Christian mengejutkan Loren.
"Tu,, tuan mau makan saya?" Tanyanya dengan wajah yang ketakutan.
"Hm,, entahlah." Jawab Christian lalu ia kembali melangkah diikuti Loren
__ADS_1