
Begitu Gunawan dan Cataline sudah berada dalam lift, Chataline mengambil bedak dari dalam tasnya lalu mulai memperbaiki rasanya.
"Terakhir kali aku bertemu dengan Kak Christian, penampilanku begitu aut-awutan karena sudah seharian bekerja. Jadi saat ini aku harus tampil dengan cantik." Ucap Chataline sembari menepuk-nepuk wajahnya dengan Powder sponge miliknya.
"Keponakanku sudah selalu cantik, jadi tidak perlu lagi berdandan." Ucap Gunawan memuji keponakannya.
"Ha ha ha... Paman bisa saja," ucap Chataline tertawa.
Gunawan tersenyum melihat keponakannya yang tampak fokus pada riasannya, "Kalau kau tidak cantik, bagaimana bisa orang seperti Tuan Bhaltazar tertarik padamu? Sudah lama semua orang di kantor ini cemas karena Tuan Bhaltazar tidak pernah membawa perempuan kemari, kami semua berpikir bahwa dia adalah pria impoten atau mungkin sedang menjalin hubungan spesial dengan Ransi." Ucap Gunawan membuat Chataline sangat senang.
'Pantas saja selama ini Christian tidak pernah berhubungan dengan perempuan, ternyata karena dia menyimpan perasaan untukku. Dia berusaha menjaga perasaanku,' pikirnya dalam hati sembari tersenyum memperbaiki riasannya.
"Oya, tapi kau tahu konsekuensinya jika kau berbohong pada Paman bukan.? Kita berdua tidak akan dilepaskan." Ucap Gunawan kembali memperingatkan keponakannya karena dia takut kalau nantinya mereka malah membuat Christian menjadi marah.
"Paman ini,, aku tahu bagaimana sifat Christian. Jadi tidak mungkin aku bermain-main dengannya." Ucap Chataline.
__ADS_1
Ting!
Cataline menyimpan cermin ke dalam tasnya lalu perempuan itu keluar bersama Gunawan lalu berjalan ke ruangan Christian.
Sementara Ransi yang mendengar bunyi lift yang terhubung ke ruangannya, pria itu langsung melihat ke monitor CCTV dan sangat terkejut menetap Cataline yang datang bersama Gunawan.
'Sial!! Perempuan ini benar-benar berani!!' Ransi langsung meninggalkan pekerjaannya lalu berlari keluar ruangan menghampiri Cataline dan Gunawan.
"Tuan," Gunawan langsung memberi hormat pada Ranzi lalu pria itu berdiri tegak menatap Ransi.
"Ada urusan apa Tuan Peron datang kemari?" Tanya Ransi berpura-pura tidak tahu meski dia sebenarnya yakin bahwa mereka datang kemari karena Chataline yang ingin menemui Christian.
Ransi menahan kemarahannya lalu melemparkan senyum pada dua orang di depannya, pria itu kemudian berkata,"Ah, begitu ya, tapi sayang sekali saat ini CEO sedang tidak berada di tempatnya. Jadi silakan kembali dan--"
"Tidak masalah," sela Chataline, "Kami bisa menunggu di dalam ruangan Kak Christian sampai dia kembali." Ucap Chataline yang tidak mau menyia-nyiakan kesempatan.
__ADS_1
Kapan lagi dia bisa datang ke tempat ini selain sekarang?
"Sayang sekali, tetapi Tuan Christian tidak pernah mengizinkan siapapun untuk memasuki ruangannya saat dia tidak berada di ruangannya. Jadi sebaiknya, kali ini kalian kembali saja," ucap Ransi mulai hilang sabar.
Gunawan yang mendengar ucapan Ransi langsung berkata, "Tuan, saya tahu tugas asisten adalah menjaga dan menaati seluruh perintah dari atasannya, tetapi saat ini, keponakanku ini adalah perempuan yang disukai oleh Tuan Bhaltazar. Jadi seharusnya sebagai, asisten kau mendukung hubungan mereka, bukannya menghalang-halangi seperti ini."
Ransi berusaha tersenyum, seandainya posisi pria di depannya ini tidak terlalu tinggi maka sekarang juga dia akan memecatnya!!!
Berani-beraninya pria itu datang membawa keponakannya yang tak berguna itu!!
"Maaf, tapi kalau kalian tidak pergi sekarang, maka saya akan memanggil security." Ucap Ransi dengan suara yang tegas.
"Tidak!! Pokoknya aku akan tetap menunggu Kak Christian di sini dan ketika dia datang, aku akan melaporkanmu karena sudah bersikap kasar padaku!" Ucap Chataline merasa sangat kesal.
"Baiklah, kalian yang memintanya," ucap Ransi lalu pria itu segera menekan tombol yang ada di dinding, di mana tombol itu berfungsi untuk memanggil security secara darurat.
__ADS_1
Gunawan yang melihat itu langsung berkata, "Tuan, seharusnya Tuan berhati-hati dengan tindakan Tuan apalagi keponakanku ini sudah dilirik oleh Tuan Bhaltazar."
"Ya, terserah kalian saja," Ransi tidak peduli lagi, pria itu berdiri dengan kesal sebab pekerjaannya masih banyak dan dua orang itu sudah datang merecokinya.