
Malam hari di kamar tidurnya, Loren menghabiskan waktunya di kamar sembari membuat desain nya ketika pintu ruangan yang ada di luar kamarnya tiba-tiba dibanting.
Suara yang sangat keras membuat Loren langsung tersentak dan melepaskan semua barang yang ada di tangannya.
Perempuan itu kemudian keluar dari kamarnya dan mendapati Cristian berdiri di di dekat pintu.
Mata pria itu terlihat marah dan Loren bisa menebak kalau trauma pria itu kembali kambuh.
"Tuan baik-baik saja?" Tanya Loren dengan suara lembutnya.
Dia sudah melatih diri menghadapi Christian jadi saat ini dia tidak setakut masa-masa yang lalu.
Sementara Christian yang melihat Loren, pria itu terdiam dan perlahan amarahnya seolah lenyap bagai embun yang terkena cahaya matahari.
"Butuh teman bicara? Bagaimana kalau aku?" Kata Loren sembari melangkahkan kakinya mendekati Cristian hingga Dia tiba di depan pria itu.
Loren memperhatikan mata Christian dan melihat tatapan pria itu lebih fokus dari yang sebelumnya, pria itu balas menatapnya.
__ADS_1
"Kalau Tuan memiliki masalah, tuan bisa menceritakannya padaku, aku pasti akan berusaha memberikan solusi terbaik. Atau kalau--" Loren menghentikan ucapannya saat ia terkejut Christian tiba-tiba memeluknya dengan erat.
'Hah, pelukan lagi. Ini pelukan ketiga aku dengan pria asing. Masih pria yang sama.' gumam Loren membalas pelukan Christian.
Beberapa menit memeluk Loren, Christian akhirnya mendapatkan seluruh kesadarannya dan tubuhnya perlahan-lahan mulai santai.
'Kenapa aku?' Christian kebingungan dengan dirinya sendiri dia merasa sangat tenang berpelukan dengan Loren, padahal selama ini dia paling membenci perempuan.
Apalagi perempuan cantik yang menggunakan kecantikan mereka untuk mendapatkan keinginan mereka.
"Tuan, kau harus tahu, kalau semua masalah tidak perlu diselesaikan dengan kekerasan, apalagi sampai harus memecahkan barang. Terkadang jalan keluar sebuah masalah adalah mencari partner untuk bercerita." Ucap Loren dengan tangan menepuk lembut punggung Christian.
'Ini sangat nyaman, tapi perempuan ini, jangan-jangan dia juga menggunakan kecantikannya untuk menipu ku!' tiba-tiba pikiran Christian teralihkan lalu pria itu melepaskan pelukan mereka dan menatap Loren.
Dilihatnya wajah Loren yang mungil dan damai.
Loren tersenyum "Apakah ada seusatu di wajhaku?" Tanya Loren.
__ADS_1
Christian merasa terpana saat melihat senyum Loren yang dihiasi 2 lesung pipi, tanpa sadar tangan pria itu terangkat dan menyentuh lesung pipi Loren menggunakan jari jempol nya.
"Apakah Tuan sudah sembuh?" Loren kembali bertanya saat ia merasa Kalau pria di depannya sudah terlihat fokus.
Setiap kali Loren menggerakkan bibirnya untuk berbicara, lesung pipi perempuan itu akan muncul dan terlebih bibir mungil Loren yang terlihat lembab sangat berkilau dan menarik perhatian Christian hingga pria itu merasa tersihir.
'Masih belum menjawab, berarti dia belum sadar. Tapi Sepertinya aku sudah bisa meninggalkannya supaya memberi waktu baginya untuk sendirian.' gumam Loren lalu dia mengangkat tangannya Untuk memindahkan tangan Christian dari wajahnya.
Perempuan itu menarik turun tangan Christian lalu berbalik untuk meninggalkan Christian ketika tiba-tiba saja sebuah telapak tangan yang besar menahan tangannya. .
Dengan satu tarikan Loren kembali berbalik dan menabrak dada bidang Cristian.
"Apa yang--" Loren melototkan matanya saat tangan pria itu langsung meraih dagunya dan Christian menunduk menciumnya.
Deg...
Deg...
__ADS_1
Ciuman pertamanya...!