
Keesokan harinya, Loren keluar dari kamarnya sembari membawa sebuah koper kecil berisi barang-barang yang akan ia bawa ke kota xx.
"Hanya ini barang-barang yang akan kau bawa? Apakah kau sudah memastikannya?" Tanya Ransi berbasa-basi dengan Loren.
"Ya, aku sudah memeriksanya sebanyak 3 kali." Jawab Loren lalu kedua orang itu berjalan menuruni tangga.
Wajah Loren langsung memerah saat mereka tiba di ruang tamu dimana Christian sedang duduk sembari melakukan video call dengan seseorang.
Ciuman itu kembali teringat..!
"Duduklah." Ucap Ransi pada Loren lalu keduanya duduk di sofa yang tepat di depan Christian.
Loren duduk dengan kikuk sembari mengingat kejadian di mana mereka berdua telah berciuman.
'Astaga,, ini memalukan!' gerutu Loren dalam hati.
"Kenapa wajahmu memerah? Apakah kamu merasa tidak enak badan?" Tanya Ransi dengan suara setengah berbisik karena tidak mau mengganggu Christian yang sedang fokus pada ipad-nya.
"Eh?" Loren langsung salah tingkah sembari melirik kearah Christian dan ternyata pria itu sedang fokus pada ipad-nya dan tidak memperdulikannya.
"Bukan apa-apa. Aku akan menunggu kalian di luar." Kata Loren segera berdiri dan menjauhi 2 pria itu.
'Astaga Loren! Kemarin malam kau sudah berjanji bahwa kau tidak akan baper dan akan melupakan semua yang terjadi!!!!' Ucap Loren sembari memukul kepalanya karena merasa kesal dengan dirinya sendiri.
__ADS_1
Akhirnya setelah menunggu selama 30 menit, Christian dan Ransi keluar juga dari mansion lalu kedua pria itu berjalan ke sebuah mobil hitam yang mewah.
Setelah mengantar Christian ke mobilnya Ransi kembali menemui Loren.
"Ayo!" Kata pria itu membukakan pintu mobil untuk Loren.
"Terima kasih." Ucap Loren lalu masuk ke dalam mobil.
'Syukurlah, aku pikir aku akan satu mobil dengannya, kalau sampai hal itu terjadi maka aku akan sangat malu sampai 1000 kali putaran bumi!' ucap Loren dalam hati.
"Aku sangat senang bisa satu mobil dengan perempuan cantik." Tiba-tiba suara Ransi membuat Loren langsung menatap kearah Ransi dengan bingung.
"Bukan, maksudnya Ini pertama kalinya aku satu mobil dengan seorang perempuan." Ucap Ransi.
"Kau bilang kita masih asing?" Tanya Ransi dengan wajah sendu.
Sudah berapa lama mereka bersama-sama? Mengapa perempuan di sampingnya ini masih menganggapnya sebagai orang asing?
Bahkan dia adalah orang yang selalu membantu Loren dalam kesulitannya. Tapi Loren,,, ternyata hanya menganggapnya sebagai orang asing.
"Uh,, apakah aku salah bicara?" Loren bertanya dengan hati-hati saat melihat ekspresi Ransi.
"Bukan, aku pikir kita sudah menjadi teman ternyata itu hanya perasaanku saja." Ucap Ransi.
__ADS_1
"Aku tidak bermaksud begitu, aku pikir kau akan menertawakanku kalau aku menganggap kita adalah teman. Soalnya sebelumnya kau pernah bilang kalau aku adalah orang yang--"
"Tidak! Bukan seperti itu maksudku!" Ucap Ransi membela diri.
"Kalau begitu, mulai sekarang kita adalah teman!" Kata Loren mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Ransi sebagai tanda bahwa mereka sekarang menjadi teman.
"Ok!" Ucap Ransi dengan senyum mengembang sembari pria itu memperhatikan wajah Loren yang terlihat sangat indah ketika tersenyum.
Perjalanan ke kota xx menjadi hari yang paling membahagiakan bagi Ransi karena itu adalah pertama kalinya dia bisa berinteraksi dengan seorang perempuan secara bebas. Apalagi dengan perempuan yang ia sukai.
Akhirnya setelah perjalanan selama 2 jam mereka tiba di tempat tujuan.
Sebuah hotel bintang 5.
"Kita berpisah sebentar. Para pengawal akan mengantarmu ke kamarmu." Ucap Ransi saat ia dengan buru-buru membuka pintu mobilnya lalu menghampiri mobil Christian untuk membukakan pintu bagi Christian.
'Dia benar-benar seperti kacungnya Christian.' gumam Loren keluar dari mobil lalu mengambil koper di bagasi mobil.
Perempuan itu baru akan memasuki hotel saat dia terpaku melihat dua orang yang juga turun dari mobil sembari saling merangkul.
'Vionita dan Bian!' Mereka juga di sini?
Dada Loren langsung terasa sesak.
__ADS_1