
Driiiiinnngggg.......
Driiiiinnngggg.......
Driiiiinnngggg.......
Suara dering telepon langsung membuat Loren berlari ke arah telepon rumah yang terletak agak jauh darinya.
"Halo?" Ucap Loren pada orang di seberang telepon dengan rasa penasaran tentang siapa yang menelpon ke rumah mereka.
Bagaimanapun, selama beberapa waktu terakhir, tidak pernah ada seseorang yang menelpon ke rumah mereka, telepon rumah yang ada di beberapa sudut di rumah tersebut selalu saja hening.
"Loren? Ini kau?" Tanya seorang perempuan dari seberang telepon yang tak lain adalah Marisa.
"Siapa ini?!" Tanya Loren langsung dengan nada ketusnya, sebab dia merasa kesal akan seorang perempuan yang menelpon ke rumah mereka.
"Ini aku, Marisa, Aku ingin mengabarimu bahwa kami akan pulang sekarang dan akan tiba di situ besok pag--"
Tut tut tut.....
__ADS_1
Loren langsung menutup telepon itu sambil mengepalkan tangannya menatap telepon yang terletak di atas meja.
Setelah itu, dia menggertakan giginya menatap seorang pria yang bekerja di rumahnya.
"Siapa perempuan yang bernama Marisa itu?" Tanya Loren pada pria tersebut langsung membuat pria itu terkejut dan terpaku beberapa saat.
Loren sudah tidak lagi mengenali Marissa?
"Itu Nyonya, dia adalah dokter di kediaman ini, juga merupakan perempuan yang menjadi sahabat Nyonya dan Tuan. Dia pergi ke luar negeri untuk pengobatan dan pengobatannya telah selesai, jadi dia akan kembali dan tinggal di rumah ini bersama dengan--"
"Apa?!!!" Bentak Loren pada pria itu sambil dia mengeratkan kepalan tangannya lalu perempuan itu segera berlari ke lantai atas.
"Ada apa sayang?" Tanya Christian langsung bangkit berdiri dan menghampiri Loren.
"Siapa Marissa itu? Apa hubungannya dia denganmu?!" Tanya Loren dengan nada posesifnya menatap suaminya dengan marah.
"Eh? Marisa?" Christian bertanya dengan hati-hati, sebab dia takut sedikitpun ucapan yang keluar dari mulutnya akan membuat marah perempuan itu.
Bagaimanapun, meski akhir-akhir ini Loren semakin sering melupakan banyak sesuatu dan amarah perempuan itu terus meledak-meledak, tetapi dia tentu saja terus menyayangi perempuan itu.
__ADS_1
Jadi dia selalu menjaga sikapnya agar tidak pernah membuat Loren marah.
"Ada perempuan yang baru saja menelpon ke rumah kita dan dia bilang dia Mau tinggal di sini bersama kita??? Apakah itu selingkuhanmu yang hendak kau ajak tinggal bersama kita???" Tanya Loren yang merasa suaminya sedang menyembunyikan seorang perempuan darinya, dan Marisa adalah perempuan itu yang kini berkedok sebagai sahabat untuk menutupi hubungan terlarangnya.
Christian yang mendengar itu langsung tersenyum dan membawa Loren ke pelukannya.
"Mana ada begitu? Ini adalah istriku yang paling cantik, satu-satunya wanita yang akan ada di hidupku. Mana mungkin aku milih perempuan lain?" Tanya Christian main langsung mendaratkan sebuah ciuman di bibir Loren.
Cup!!!
"Jangan berpikir macam-macam, tidak akan ada perempuan yang datang ke rumah kita. Selamanya hanya ada satu perempuan yang ada di rumah ini yaitu perempuan yang bernama Lorensia Bhaltazar!!!" Tegas Christian.
Loren amat tersentuh dengan ucapan suaminya, jadi Loren dengan cepat memeluk pria itu dan merasakan kehangatan di hatinya.
"Makasih sayang," ucap Loren merasa sangat senang dengan ucapan yang baru saja ia dengar dari bibir suaminya.
Christian mencium puncak kepala Loren, 'Dokter bilang dari dua kasus yang ia temukan pada ibu dan nenek, mereka semua melupakan suaminya di usia kehamilan 9 bulan, dan sebentar lagi usia kehamilan istriku akan mencapai 9 bulan. Apa yang harus kulakukan saat itu terjadi?' ucap Christian dalam hati sembari memejamkan matanya.
Dia tidak sanggup untuk melihat istrinya tidak mengenalinya, meskipun itu hanya berlangsung 2 bulan, tapi baginya, itu serasa seumur hidup.
__ADS_1