Gadis Kecil Milik CEO

Gadis Kecil Milik CEO
s2.152.


__ADS_3

Tut tut tut.......


Marisa mengerutkan keningnya memandangi teleponnya yang dimatikan secara sepihak oleh Loren.


"Ada apa sayang?" Tanya Andreas yang muncul dari belakang perempuan itu sembari memeluk Marisa dengan tatapannya tertuju pada layar ponsel Marisa.


"Aku baru saja menelpon Loren untuk memberitahunya bahwa kita akan segera pulang. Tapi aneh sekali, dia menutup panggilan itu secara tiba-tiba." Ucap Marisa yang merasa sangat aneh dengan sikap Loren.


"Hm,,, Dia sedang hamil tua, mungkin saja suasana hatinya sedang tidak bagus. Apalagi beberapa waktu terakhir ini aku dengar ada banyak pemecatan di kediaman mereka.


"Hampir seluruh pelayan dan pengawal yang ada di kediaman Bhaltazar telah digantikan dengan yang baru. Bahkan tidak ada satupun perempuan yang bekerja di sana." Ucapkan Andreas langsung membuat Marissa meletakkan ponselnya lalu dia menatap suaminya dengan aneh.


"Kenapa bisa begitu? Loren pasti tidak akan membiarkan hal seperti itu terjadi, dia adalah perempuan yang sangat baik, pasti akan membantah suaminya jika Christian memecat banyak orang." Kata Marisa yang merasa bingung.


Andreas juga saya pikiran dengan istrinya, tetapi dia juga tidak mengerti tentang apa yang sedang terjadi.

__ADS_1


Ketika keduanya sedang berpikir-pikir maka tiba-tiba saja ponsel Andreas yang diletakkan di atas tempat tidur kini berdering.


Drrriiinnnggggg......


Drrriiinnnggggg......


Drrriiinnnggggg......


Kedua orang itu langsung menoleh ke arah ponsel yang berbunyi, lalu Andreas dengan cepat mengulurkan tangannya mengambil ponsel itu.


"Halo?" Ucap Andreas pada orang di seberang telepon yang tak lain adalah Ransi.


"Tunggu!!!" Sela Marisa langsung merebut ponsel itu dari tangan suaminya lalu dia menekan tombol loudspeaker lalu berkata, "Kenapa ada hal seperti itu? Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Marissa yang merasa sangat aneh.


"Ah,, itu, Saya juga tidak bisa memberitahu kalian, tetapi intinya kalian tidak bisa lagi datang ke kediaman keluarga Bhaltazar, kecuali jika Tuan sudah mengizinkan kalian." Ucap Ransi membuat Marissa dan Andreas kembali bertatapan dengan rasa bingung mereka.

__ADS_1


Setelah beberapa saat, Marisa kembali berkata, "Ah,, bukankah kita adalah teman? Lagi pula, kalau kau memberitahu kami, tidak akan ad--"


"Maaf, saya harus menutup teleponnya sekarang." Ucap Ransi.


Tut tut tut.....


Suara panggilan yang kembali diputus secara sepihak langsung membuat Marisa sangat kesal lalu perempuan itu melemparkan ponselnya ke atas ranjang.


"Apa yang sebenarnya terjadi?!!! Mengapa semua orang memperlakukan kita seperti orang asing??" Kesal perempuan itu sembari menggertakan giginya.


Andreas yang mendengar ucapan istrinya langsung memeluk perempuan itu dan berkata, "jangan marah-marah, anak kita yang ada di dalam kandunganmu akan terkejut jika kau marah-marah seperti ini."


Mendengar suara suaminya, Marisa kemudian mengatur pernapasannya sambil memeluk pria itu dengan erat.


"Hah,,, aku rasa kita tidak usah kembali ke dalam negeri. Kembali ke dalam negeri tanpa bisa menemui Loren akan membuatku semakin kesal." Ucap Marissa berusaha bersikap tenang meski dia terlampau kesal dengan apa yang sedang terjadi.

__ADS_1


"Baiklah,, baik,,, apapun yang diinginkan oleh istriku." Kata Andreas dengan suara lembutnya.


Tapi dalam hati pria itu sedang memikirkan masalah di kediaman Bhaltazar, 'aku harus mencari tahunya.'


__ADS_2